Garis Tangan Pejuang

Tanahku yang permai. Masyarakatnya yang hidup dalam kesejahteraan. Mendapatkan hasil bumi yang melimpah. Ruah. Tak pernah kekurangan bahan pangan. 


Namun rasanya itu dulu. Dulu sekali. Sebelum tanahku kini dikuasai pabrik industri. Lingkungan  kini tercemar, terpapar. Sebagian tanah milik beralih ke pabrik.

Sebelum tanah kami dikangkangi gedung tinggi. Kota metro politan. Beton dan gedung pencakar. Yang mencabik bumi kami. Tanah kami.

Kehidupan masyarakat berubah menjadi sengsara. Berbanding terbalik dengan 5 tahun yang lalu ketika belum ada pabrik industri dan kemajuan zaman.

"Bagaimana ini pak, kita tidak punya kebun, sawah kita juga selalu gagal panen karena airnya tercemar limbah pabrik" ucap istri pak Jono.

"Ya gimana lagi buk, pihak pabrik memang begitu kelewatan, padahal desa Sukamaju ini dahulunya merupakan desa yang paling makmur, tapi semenjak ada pabrik itu kini kemiskinan di mana-aman".

Sementara itu aku begitu kasihan melihat keluhan ayah dan ibuku yang mengeluhkan hasil panen yang selalu gagal dan tanah yang direbut oleh pihak pabrik.

Malam ini aku berangkat mengaji di tempat pak Samsul bersama dengan anak-anak seumuranku lainnya.

"Pak..! Pak..! Asalamualaikum" ucapku dan kawanku.

"Waalaikum salam masuk" Ucap pak Samsul. 

Kami masuk dengan raut wajah yang sangat murung, dan kami duduk di depan pak Samsul.

"Entar kalian kenapa ini kok pada murung" ucap pak Samsul.

"Orang tua kami mengeluh pak tanahnya direbut pabrik dan hasil panennya jelek karena airnya tercemar limbah pabrik" ucapku dan kawan-kawan.

"Astahfirullah, beginilah keadaan kampung kita, bapak harap ketika kalian sudah tumbuh dewasa kalian bisa menolong desa ini" ucap pak Samsul.

"Bagaimana kita bisa menyelamatkan desa ini pak" Ucapku dan kawanku.

"Belajarlah yang giat, jadilah orang yang cerdas dan suka menolong sesama, dan jangan lupa untuk selalu berdoa" ucap pak Samsul.

"Kalau begitu saya mau belajar giat agar bisa menolong desa ini"Ucap kawanku.

"Saya juga"
"Saya juga" 

Satu persatu semua anak yang ada di rumah pak Samsul bersemangat untuk belajar guna menolong desannya.

---Sekian---

Back To Top