Cerpen Religi Singkat, Taubat

Sebuah cerpen religi singkat, "Taubat". Sebuah cerita, baik itu cerita pendek (cerpen) atau novel memiliki manfaat bukan hanya dari sisi keindahan seni saja tetapi juga dari sisi pesan dan nasehat yang terkandung dalam cerita tersebut. 


Seperti cerpen singkat berjudul "taubat" ini yang merupakan cerpen religi dengan unsur nasehat yang sangat kental. Memang, cerpen keagamaan (agamis) seperti ini biasanya dibuat oleh penulis selain untuk karya seni ditujukan juga agar dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca.

Kalau kita membaca Cerpen Religi Singkat ini pasti ada pesan yang benar-benar berharga untuk kita renungkan. Dalam cerita berjudul "Taubat" ini kita diberi nasehat untuk tidak membantah kepada orang tua, kita diberi pesan untuk benar-benar menjauhi narkoba yang akan merusak hidup kita. 

Kita juga diberi pesan bahwa Alloh benar-benar memiliki cara sendiri dalam membimbing umatnya untuk tetap di jalannya. 

Jika kita melakukan kesalahan segeralah bertaubat, Allah mengampuni dosa-dosa orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Sebelum kita membaca cerpen tersebut mari kita baca juga kisah inspirasi berikut:

1) Cerpen religi ramadhan penuh berkah
2) Cerpen hip hop mengubah hidupku 
3) Penuh dosa, pantaskah surga untukku
4) Jadikan aku kekasih halalmu 
5) Cerpen religi aku pulang

Kalau dilihat dari sisi pesan moral, cerita yang di kemas dengan bahas sederhana ini bisa kita jadikan pembelajaran yang berharga. 

Selain itu cerita pendek seperti ini juga bisa kita gunakan sebagai bahan belajar di sekolah misalnya untuk analisa cerpen dan lain sebagainya. Yang sudah sedari tadi penasaran dengan cerpen singkat ini bisa langsung membacanya berikut.

Cerpen Religi Singkat, Taubat
Cerpen oleh Irmajajil

Terlahir di keluarga yang agamis tak menjamin kehidupan seseorang bisa selalu lurus dan tak terjerumus. Buktinya saja, meski terlahir sebagai anak alim ulama dia memiliki cerita dan pengalaman hidup yang begitu tragis, penuh dosa. 

Bukan cuma dosa, bahkan masa depan bahkan sama sekali tak jelas terlihat. Bekal pendidikan agamis dan kasih sayang yang tulus tak serta merta mampu membentengi dirinya dari kerasnya hidup.

"Pergi sana, keluar dari rumah ini sekarang juga!!!, aku tak sudi punya anak lelaki tak ber-akhlak sepertimu, pergi!!!"

Teriakan itu selalu saja terngiang di kepala Rudie, ia sama sekali tak mampu melupakan penghinaan terbesar yang pernah ayahnya berikan kepadanya. Ya, Rudie adalah anak kedua dari seorang kiyai yang tak mampu mengendalikan amarah kala mengetahui anaknya memiliki tabiat hidup yang modern. 

Bagaimana tidak, Rudie adalah anak yang diharapkan dapat meneruskan ayahnya dalam berdakwah menyebarkan agama yang dianut tapi malah tercemari dengan kehidupan modern yang nista.

Rudie memang merupakan anak yang pandai, sejak kecil ia selalu dapat membanggakan ke dua orang tuanya. Ia selalu menjuarai lomba mengaji, membaca al quran dan bahkan lomba ceramah agama. 

Wajar jika orang tuanya khususnya ayahnya begitu menginginkan ia menjadi penerus dakwah yang selama ini dijalani. Malang memang, ketika beranjak dewasa, Rudie mulai tak terkendali, ia bergaul dengan remaja-remaja dengan berbagai latar belakang yang gamor, mewah dan penuh hura-hura. 

Perubahan yang paling jelas terlihat adalah pada penampilannya di mana ia mulai memanjangkan rambutnya, menggunakan pakaian serba ketat dan sobek ala anak punk, semua itu begitu memukul hati sang ayah hingga akhirnya ia di usir dari rumah.

Berkelana tiap hari, dengan kepandaiannya ia mulai dapat menjalani hidup, bahkan ia bisa meniti karir di dunia hiburan menjadi seorang pemain sinetron yang cukup dikenal.

Semua berawal saat ia secara tak sengaja bertemu dengan seorang sutradara mudah berbakat yang akhirnya mampu menjadikan Rudie sebagai artis terkenal melalui sebuah sinetron religi.

Kebanggaan mulai muncul, harga diri mulai meninggi, Rudie akhirnya mulai melupakan ajaran-ajaran yang pernah ia dapatkan dari orang tuanya. Kini, Rudie sang artis menjadi Rudie yang gaul dengan banyak jenis perbuatan dosa. Honor bermain film menjadi pemicu pertama yang menjerumuskan Rudie lebih dalam.

"Hai Rud, ini honor kamu..., silahkan dihabiskan untuk membeli hidup...."
"Haa.a..a.... bisa aja, ya, terima kasih bos"

Menerima honor yang besar dari film Rudie ingin sedikit merasakan nikmat hidup dengan segala kebanggaan yang ia miliki. Ia pun mulai pergi ke bar, diskotik dan menghamburkan uang.

"Hallo bos, bukankah kamu bintang terkenal itu..?" tanya seseorang ke pada Rudie
"Hei bro, bisa saja kamu ini... Ya, saya Rudie...", jawab Rudie, "gimana lagi asyik taa...." lanjutnya
"Yo...i mamen..... selalu asyik...." jawab lelaki itu

Sedang asyik Rudie berjingkrak dengan musik yang memekakkan telinga lelaki itu kembali menyapanya.

"Bos, mau yang asyik gak, dijamin kalau yang ini bisa bikin kita terbang.." ucap lelaki itu sambil memegang pundak Rudie.
"Apa boy.... apaa memang??" tanya Rudie
"Ah.... ada bos, tapi jangan disini, kurang seru..."

Lelaki itu kemudian merangkul dan mengajak Rudie ke belakang. Saat itulah babak baru kehidupan Rudie di mulai. Orang yang menyapanya tadi mengajak Rudie untuk memakai obat-obatan terlarang. Karena gratis dan dibujuk akhirnya Rudie pun mencobanya.

Awalnya memang indah, tak membebani, Rudie akhirnya sedikit demi sedikit menjadi "pemakai", istilah untuk orang yang menggunakan obat terlarang. 

Hari terus berjalan, bulan berganti akhirnya Rudie tak mampu lepas dari jeratan obat jahanam tersebut. Ia kini merasakan bahwa kenikmatan sesaat tersebut tak mampu sedikitpun ia tolak.

Dengan pengaruh obat yang mulai merusak otak dan tubuh Rudie akhirnya tabiatnya menjadi lebih buruk. Semua hasil pekerjaannya menjadi artis dihabiskan untuk obat terlarang, judi, mabuk dan berbagai hal buruk lain. 

Dalam pengaruh setan, sedikit demi sedikit otak Rudie mulai tak beres. Ia mulai sering terlambat syuting, enggan bangun pagi, malas bekerja. Tentu saja semua itu perlahan membuat kondisi hidup Rudie semakin tak karuan.

Tak ada yang mampu menyelamatkannya saat itu, meski banyak nasehat dari rekannya namun Rudie benar-benar tak mampu lagi beranjak dari kebusukan hidup yang sedang ia jalani. Setiap hari ia berlumur dosa sampai akhirnya ia harus pulang karena mendengar ayahnya telah meninggal. 

Dihadapan jasad yang tak lagi mampu berdiri ia meronta, menangis dan meratapi kepergian ayahnya. Ia merasa bersalah karena semasa hidup ia belum pernah memberikan kebahagiaan apapun pada ayahnya tersebut.

Saat itulah ia tertegun dan menyadari bahwa jalan hidup yang sedang ia jalani begitu jauh dari impian dan harapan semua orang.

Di ujung senja, aku duduk termenung
Meratapi dosa diriku yang penuh hina
Di titik rendah aku semakin hina
Tapi di mata Dia, aku tetap hamba-Nya

Tak sadar diriku, melupa dan melenyapkan-Nya
Tapi di mata Dia, aku tetap mulia
Ya Allah ya Rasulullah, ampuni dosaku, ampuni kekhilafanku
Ya Allah ya Rasulullah, ampuni dosaku, taubatan di.. riku

Apalah daya seorang Rudie yang tak memiliki keteguhan hati, ia di kelilingi orang yang benar-benar taat ibadah di rumahnya namun ia sendiri tak mampu sama sekali beranjak dari nista dan dosa. 

Dipeluknya erat setiap goresan luka itu, digenggamnya erat semua dosa yang ia lakukan, di rumah itu tak seorang pun tahu bahwa Rudie sudah begitu menjadi binatang metro politan.

Tak ada yang berubah dan berbeda pada kehidupan Rudie seanjutnya. Ia masih menjadi pemakai, pemabuk dan bahkan sekarang ia sudah mulai menjadi pencuri di rumahnya sendiri.

Bagai menyimpan bangkai di saku celana, kebobrokan Rudie pun mulai tercium orang terdekatnya. Ibunda yang sangat menyayangi anaknya mulai menyadari bahwa ada yang salah pada diri sang anak. 

Pelan ia pun mulai mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Betapa terkejut dan kecewanya ia ketika ia mengetahui bahwa Rudie - sang anak tercinta - telah menjadi seorang pecandu narkoba. Ia begitu terpukul, tapi ia sadar bahwa itu adalah ujian dan cobaan dari yang kuasa.

Tak di buka sekalipun aib anaknya tersebut, ia kemudian mulai mencari cara untuk membuat Rudie taubat. Sukses, ia pun bisa sampai beberapa kali mengajak Rudie untuk menjalankan ibadah umroh di tanah suci. 

Pada kali terakhir, ia pun bisa membujuk Rudie untuk memotong rambut dan memperbaiki penampilannya tersebut. 

Pelan dan pasti, hati Rudie yang kotor dosa mulai tersentuh, ia kini menyadari bahwa apa yang selama ini ia lakukan merupakan dosa besar yang harus ia tinggalkan.

Sepulang dari umroh, ia beberapa kali sempat berusaha menjauh dari obat, mulai dari membatasi bergaul sampai pada membatasi menggunakan obat. 

Sampai putus asa, ia sama sekali tak mampu mengendalikan pengaruh obat neraka itu. Semakin kuat ia menghindarinya maka semakin sakit yang ia rasakan.

Ia benar-benar bertekad dan ingin berhenti dari semua kebodohan yang ia jalani. "Sekali kamu masuk, kamu harus mati untuk bisa keluar", itu adalah kalimat yang ia dapatkan dari rekan pengedar yang mengetahui bahwa Rudie ingin berhenti menjadi pecandu.

Di usia yang masih muda dan labil tentu saja hal itu semakin membuat hancur kehidupan Rudie.
Keputusasaan semakin besar ia rasakan, ketakutan semakin sering menghantuinya.

Di titik rendah aku semakin hina
Tapi di mata Dia, aku tetap hamba-Nya
Tak sadar diriku, melupa dan melenyapkan-Nya
tapi di mata Dia, aku tetap mulia.

Ampuni dosaku, ampuni kekhilafanku
Ampuni dosaku, taubatan diriku
Allah.. Allah..
Lirik by: Zian Zygaz - Taubat

"Mukjizat dan pertolongan Alloh bisa datang kapanpun, dimanapun dan pada siapapun", itulah pesan sang bunda kepada Rudie yang mengetahui anaknya semakin parah.

Sang bunda tak patah arang, dan karena ia menyadari mungkin saja nyawa Rudie tidak akan lama lagi maka ia menceritakan semua keadaan Rudie kepada seluruh anggota keluarga.

Kini satu persatu dari mereka mulai memberikan dukungan, memberikan kekuatan untuk bisa membuat Rudie kembali menjadi muslim yang taat.

"Umi, bagaimana jika Rudie kita nikahkan?", ucap kakak tertua Rudie suatu malam sehabis makan malam
"Em...kenapa begitu?" umi menjawab dengan dasar seperti tak setuju

"Rudie sudah dewasa umi, dan karena itu kita tidak memiliki kendali penuh akan kehidupannya. Satu-satunya orang yang mungkin bisa memberikan bantuan kepada Rudie adalah istri yang sholeh." jawab kakak Rudie

Sang bunda tertegun, ia menyadari benar perkataan anak sulungnya tadi benar adanya. "Bismillah, jika Alloh mengijinkan Rudie pasti bisa bertobat, taubat yang sesungguhnya.

Keluarga Rudie pun akhirnya mencarikan jodoh untuk dinikahkan dengan Rudie - jodoh terbaik menurut pandangan mereka. Namun apa bisa dikata, meski cantik, meski menarik, tapi tak ada satu pun yang disetujui oleh Rudie. Bahkan Rudie pun sampai benar-benar marah dan pergi meninggalkan rumah sampai beberapa bulan. Sang bunda dan seluruh keluarga benar-benar hanya bisa pasrah dan berdoa saat itu, sampai akhirnya pada suatu malam...

"Rudie.....!!!!! Sedang apa kamu disini, astaghfirullah......!"
Saat itu sang bunda, di tengah malam yang pekat mendapati Rudie sedang berpelukan dengan seorang wanita di garasi belakang rumah. Rudie yang saat itu sedang mabuk tak mampu berbuat banyak di hadapan ibunya. Wanita yang di bawa Rudie hanya bisa menangis ketika sang ibu pun menyeret mereka berdua ke dalam rumah.

"Apa yang telah kalian lakukan....!?" tanya sang bunda dengan nada keras. Rudie hanya terdiam tertunduk sambil memegangi tangannya yang terus saja menggigil bergetar. Sang wanita pun hanya bisa berisak tangis.

Malam itu terlihat jelas sekali bahwa bahkan sang ibu yang telah mengandung dan melahirkan anak pun tak berhak dan tak bisa mengatur dan menentukan jalan hidup seorang anak. Sambil menyeka air mata akhirnya sang ibu pun meninggalkan mereka berdua begitu saja.

Keesokan harinya, Rudie yang masih tertidur kembali di seret. Wanita yang bersama Rudie yang sama sekali tak tidur pun mengalami hal yang sama.

"Hari ini kalian harus menikah!", ucap sang ibu, "sekarang kalian bersihkan tubuh kalian"
"Tapi mi, kami tidak melakukan apa-apa...kami hanya berpelukan" jawab Rudie setengah berdiri

"Tidak ada kata tapi Rudie, kalian yang bukan muhrim atau suami istri telah berduaan sepanjang malam tanpa ada yang tahu, Allah mengharamkan hal itu dan sebagai konsekuensinya kalian hari ini juga harus menikah.

Di depan penghulu, secara agama, akhirnya mereka pun menjadi pasangan suami istri yang sah. Awalnya kehidupan mereka tidak begitu terusik namun sang ibu ternyata tahu bahwa ada cinta yang besar dalam hati istri Rudie tersebut. 

Mulai dari pertama, istri Rudie diminta untuk memakai jilbab, setelah itu, suatu malam ia pun diberitahu bahwa Rudie sebenarnya merupakan pecandu narkoba. Sang ibu meminta istri Rudie untuk menjaganya sampai ajalnya yang mungkin tidak lama lagi menjemput.

Rasa cinta yang ada dalam diri wanita itu ternyata cukup besar. Ia pun tak mau kehilangan Rudie begitu cepat, ia tak mau menjadi janda di usia yang cukup muda. 

Dengan perasaan yang begitu campur aduk, si yatim piatu ini pun akhirnya bertekad untuk membuat Rudie taubat dan berhenti menjadi pemakai. Ia ingin Rudie menjadi pemimpin yang akan memberikan kehidupan bahagia kepada keluarganya kelak.

Bukan perkara yang mudah, sampai beberapa bulan usia pernikahan mereka pun ia belum tahu bagaimana cara untuk membuat Rudie sadar, sampai suatu hari ia memaksa Rudie untuk berobat karena sering sakit kepala.

"Kalau ibu ingin suami ibu sembuh ibu harus tega", itu adalah hadiah terbesar yang ia dapatkan dari dokter yang ia kunjungi. Akhirnya ia pun berhasil membuat Rudie bertobat dan terbebas dari kecanduan narkoba dengan cara yang begitu dramatis. 

Setiap kali Rudie membutuhkan obat ia mencoba mencegah Rudie untuk menggunakannya. Awalnya selalu gagal sampai akhirnya pada suatu subuh yang hening Rudie seperti hampir sekarat. Ia meronta meminta istrinya untuk mengambilkan narkoba yang di simpan. 

Dengan sekuat tenaga, sang istri menghalau Rudie, ia memeluknya, menahannya dengan sekuat tenaga sampai Rudie lemas. Saat itulah, ia menyeret Rudie ke dalam kamar mandi dan langsung menghujaninya dengan air dari gaung.....

Hari itu adalah hari pertama dimana Rudie bisa tidak menggunakan narkoba setelah sakau. Meski akhirnya ia harus dirawat beberapa hari ternyata kejadian tersebut menjadi tonggak sejarah bagi Rudie. Ia kini bisa menghindari menggunakan obat terlarang itu dengan cara istrinya tadi.

Dua bulan kemudian, Rudie telah benar-benar sembuh, kehidupannya sekarang berputar berbalik. Ia sholat, mengaji bahkan mulai mencari kerja. Di sela-sela itu ia mulai mengajak anak-anak di lingkungannya mengaji dan mendapatkan sedikit uang. 

Akhirnya senyum bahagia terpancar dari wajah mereka. Rudie kini menjadi pribadi yang berbeda, sudah 3 bulan sejak pertama kali ia lepas dari jerat pecandu. Mereka hidup bahagia...

---Sekian---


Demikianlah sebuah cerita pendek terbaru kali ini. Setelah selesai membaca Cerpen Religi Singkat, Taubat ini silahkan baca juga beberapa cerita menarik lainnya di bagian bawah. Masih ada banyak koleksi yang tak kalah seru, dan menghibur lainnya di situs ini.

Back To Top