Pengalaman Sendiri Belajar Sepeda Motor

Cerita cerpen pengalaman sendiri singkat berikut ini diambil dari inspirasi kehidupan nyata yang banyak terjadi. Bahkan mungkin semua pernah mengalami hal unik dan menarik ketika pertama kali belajar naik motor.


Beda ya, ini pengalaman belajar motor, bukan belajar sepeda. Meski sebenarnya kalau sudah bisa naik sepeda pasti bisa naik motor. Beda-beda sedikit. Ya, intinya kita akan belajar mengarang, belajar menulis cerita berdasarkan pengalaman sendiri.

Mungkin cerita ini kurang bagus. Mungkin kurang berkenan. Tapi setidaknya ini bisa jadi bahan belajar tambahan bagi yang ingin belajar menulis, khususnya cerpen. Hayo, siapa yang mau ikutan? Yuk kita baca sama-sama!

Belajar Sepeda Motor
Cerpen Pengalalman

Pada suatu hari dan tepatnya pada hari minggu ketika saya libur sekolah saya melihat kawan kawan se-umuran saya sudah lancar mengemudi motor. Saya merasa iri dan akhirnya saya minta ajari dengan mbah saya.

Akhirnya saya pun di ajari bagaimana naik motor dengan mengunakan motor l2 super yang cukup klasik. Suatu ketika saya mulai menaiki. Saya pun merasa bingung cara pengontrolan gas dan cara memasukan andel gigi.

Karena saya merasa bingung lalu saya disuruh turun sejenak. Saya kemudian di beri pengarahan dari mbah saya. Setelah saya sudah di beri pengarahan oleh  mbah saya, lalu saya mencoba mengemudikan nya.

Saya diajari terutama saya menyalakan motor lumayan cukup sulit karena motor tersebut enggkolan dan agak keras engkolanya. 

Terus saya coba terus saya engkol sampai sekitar 20 kali engkolan pun belum nyala. Akhirnya mbah saya turun tangan karena mungkin merasa kasihan sekali putuku.

Ketika mbah saya yang mengengkol, haya satu kali engkolan saja pun sudah menyala dan saya suruh naik lagi ke motor. 

Dengan agak sedikit rasa takut saya pun memasukan gigi motor yang pertama “ckleeeek…”. Karena gigi satu cukup membahayakan bagi pemula dan mbah saya pun menyuruh untuk memasukan gigi yang ke dua.

Dan saya ikuti saya pun memasukan gigi yang ke dua, “cekleek”. Kemudian mbah saya pun menyuruh gas pelan – pelan. Akhirnya saya pun mengikuti perkataanya saya gas pelan pelan dan mungkin karena saya kaget spontan gas keputar pol.

Saya pun langsung jundal ke paretan dan dan mbah saya pun langsung berlari mendekati saya. “Pie enek seng loro orak…” tanya dia. Saya pun menjawab, “orak kok …”. Mbah ku kembali bertanya kembali, “kiro kiro kue eje wani opo orak?”

Saya pun menjawab dengan gagahnya, “yo ejek lah gor koyo iki tok…!” Motor pun kami naikkan berdua. Ketika motor sudah berada di atas dan langsung mbah menghidupkan motornya. Saya kembali menaiki lalu saya mengikuti persyaratan yang tadi ia beritahu.

Masukan gigi 1 dan langsung susul masukan gigi ke 2 lalu gas pelan pelan. Dengan rasa hati - hati karena takut terulang yang kedua kali nya, akhirnya motor pun bisa berjalan. Lalu mbah saya memberi aba-aba lagi masukan gigi yang ke 3.

“Ketika sudah merasa di jalan yang nyaman lalu masukan lagi dengan gigi yang ke empat”, perintahnya. Saya pun menjawap dengan rasa was was, “iya mbah…” Setelah itu saya pun memasukan gigi yang ketiga, “ceklek….”

Saya pun merasa kaget karena setiap memasukan gigi pasti jundal motornya. Saya lalu memasukan gigi yang ke 4. Saya pun mulai merasa nyaman lalu dengan santainya saya belajar motor.

Setelah sudah mulai habis jalan perumahan, saya pun bingung karena sanya belum bisa belok. Saya pun coba - coba dengan rasa terburu – buru. Akhirnya, saya pun keblabasen masuk got “grrrusaaakk….”.

Tidak ada satu pun orang yang menolongku. Enggak ada orang, dan saya pun membangunkan motor sendiri. Karena paret enggak terlalu dalam dengan susah payah saya menaikan motor dan akhirnya saya pun berhasil.

Lalu saya naiki lagi dan saya enggkol dan untungnya hanya sekali enggkol saja langsung  hidup kembali dan saya pun langsung mengegas pelan pelan dan sampai rumah selamat.


---oOo---

Back To Top