Contoh Cerita Cerpen tentang Hari Valentine Days

Contoh Cerita Cerpen tentang Hari Valentine Days - satu lagi karya sederhana yang akan kita baca. Kali ini berhubungan dengan yang biasa disebut "hari kasih sayang", menurut kebanyakan orang. Cerpen valentine ini dipersembahkan untuk anda semua yang setia dengan contohcerita.com

Cerita Cerpen tentang Hari Valentine Days
Contoh Cerpen tentang Hari Valentine
Selain untuk bahan hiburan di kala senggang, kami berharap cerita ini bisa memberikan nilai positif bagi pembaca semua. Bisa jadi motivasi, bisa jadi inspirasi kita bersama.

Valentine Days
Cerpen tentang Valentine Days

Tentu kita harapkan ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Seperti apa kisah selengkapnya, mari kita nikmati bersama cerpen kasih sayang berikut ini.

Namaku adalah Bimbim, orang yang sejak dalam kandungan sudah beragama Islam. Dan tumbuh dewasa dengan diiringi pelajaran-pelajaran Islam yang selalu orang tuaku ajarkan kepadaku.

Aku makan menggunakan pelajaran Islam. Aku minum menggunakan pelajaran Islam, tidur menggunakan pelajaran Islam, bahkan ketika hendak masuk kamar mandi berak, menggunakan pelajaran Islam. Semuanya serba Islam pokoknya.

Itulah mengapa banyak orang yang menilaiku sangat kaku, sok alim, dan tidak terkadang mudah mengkafirkan. 

Yah aku terima saja ucapan dari orang-orang tetapi kemudian aku keluarkan lagi melalui kuping kanan setelah sebelumnya masuk melalui kuping kiri. Bagiku mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam, karena mereka tidak dididik Islam sejak kecil.

Pernah pada suatu ketika aku berjalan hendak menuju masjid, di perempatan dekat dengan tukang bakso ada 4 orang laki-laki yang sedang tertawa lepas sambil menghisap rokok yang penuh dengan asap yang merusak udara. 

Dengan sopan aku dekati keempat pemuda tersebut, salah satu pemuda bertato rambutnya panjang dan badannya besar melihatku dengan tatapan liar.

Aku menunduk dan terus berjalan mendekati segerombolan orang tersebut. Maaf mas ini sudah adzan, mari kita ke masjid. 

Tuturku dengan sangat sopan, dan kemudian semua pemuda melihatku. Hahaha, emang elu siapa, ngajakin kite ke masjid, lue malaikat..?, ustad..?, malaikat aja mau gua lawan kalo nyuruh gua solat hahah. 

Jawab salah satu pemuda dengan sombong. Eh pak ustad udah kalo mau ke masjid, ya ke masjid aja kita nitip dah hahah. Ungkap salah satu dari pemuda dengan tertawa.

Braggk. Amarahku memuncak, kaki secara tidak sadar menendang meja yang ada di hadapan si preman. Mas ini tidak tahu sudah ada adzan ya, kalau sudah ada adzan ya ke masjid. 

Bicaraku sangat lantang seperti kerasukan jin singa yang sedang sangat marah. Sang preman tidak gentar mereka menegapkan badannya dan mendekatiku secara bersamaan. 

Terus kalo gue tidak mau ke masjid situ mau apa – sambil mendorong-dorong tubuhku ke belakang – lue berani sama kite, kite yang punya kawasan sini, lue anak kemarin sore aja belagu.

Salah satu preman memegang kerah lenganku dan mempelintirnya hingga kerahku berubah menjadi lusuk. Sementara itu amarahku semakin memuncak. Kakiku secara reflek menendang kemaluan preman yang memelintir kerah bajuku. 

Nampak di sana sang preman tergeletak lemas karena nyilu pada bagian kemaluan. Kurang ajar lue ye.

Sang preman lainnya melemparkan pukulannya melalui tangannya yang besar, dan Brakk mengenai samping bawah mataku hingga nampak ada kunang-kunang yang berterbangan.

Seketika aku langsung terjatuh ketika menerima pukulan dari sang preman.

Ketiga preman yang tidak terima karena temannya ku tendang langsung menginjak-injak tubuhku yang tergelatak di tanah.

Layaknya dendam yang membara membakar hati hingga sang preman tidak punya belas kasihan menedang semua bagian tubuhku hingga keluar darah dari mulutku.

Woy..! hentikan woy..! Teriak warga yang melihat aku tergeletak dan menerima injakan dari kaki besar sang preman. 

Awas lue ye, urusan kita belum kelar – mengacungkan jarinya kepadaku yang sudah tidak berdaya. Ayo lari – Ungkap sang preman kepada teman-temannya – Sang preman lari, sementara para warga menolongku. Di bawalah tubuh yang tidak berdaya ini yang penuh memar ke rumah pak ustad. 

Tubuhku yang tidak bisa digerakan secara leluasa diangkat oleh enam warga, ada yang memagang kakiku, tubuhku dan kepalaku. 

Wah kok bisa si Irwan lue dikroyok sama preman. Ungkap salah satu warga yang mengankat kakiku. Iya ini ada-ada aja Irwan.

Ungkap warga yang mengangkat tubuhku. Sementara itu aku terdiam dan hanya menatap sipit dengan lebam di bawah pinggir mata.

Tubuhku di baringkan di kursi empuk yang mempunyai panjang kira-kira tiga meter. Sementara anak pak ustad berjalan datang membawakan lap dan air hangat untuk mengkomres luka lebamku.

Hati begitu bahagia karena sepertinya anak pak ustad yang cantik itu yang akan mengusap luka lebamku.

Sini Siti biar ayah yang mengusap dan mengkompres si Irwan. Ungkap pak Ustad mengambil air hangat yang berada di baskom kecil dan juga lap kering. Hatiku kecewa dan bibirku menjadi manyun.

Lue kok bisa seperti ini si Irwan. Ungkap pak ustad sambil mengelap luka lebamku dengan sedikit menekan. 

Adduh..! – Berontak kesakitan – Pelan-pelan pak ustad. Dan mulaiku ceritakan kejadian awal sampai akhir hingga aku bisa dihajar oleh preman.

Ibadah itu personal Irwan. Ungkap pak ustad sambil terus mengoleskan lapnya di wajahku dengan menekan. 

Jadi bila si preman tidak mau diajak ke masjid ya sudah, intinya kita sudah ngajak. Biarkan Allah yang menghukum, kita sebagai manusia tidak berhak menghukum orang-orang yang enggan sholat.

Apa si pak ustad sama aja, malah nyalahin saya lagi. Ungkap hatiku tanpa terdengar oleh pak ustad. Ini ni kalo ilmu agamanya kurang kuat, lihat orang jihat dan hendak menegakan agama Allah malah diomelin.

Masih ngoceh, di dalam hati tanpa pak ustad mendengarkan. Udah lah..! menepis tangan pak ustad karena telinga sudah sangat lelah mendengarkan ocehan dari pak ustad.

Aku sudah sembuh. Beranjak pergi meninggalkan rumah pak ustad tanpa mengucapkan terimakasih. Astahfirullah.

Ucap pak ustad melihat anak yang tidak tahu diri pergi tanpa menucapkan salam dan terimakasih. Pak ustad tidak berkata apa-apa lagi ketika melihatku pergi.

Pagi yang cerah sementara aku membuka facebook, di sana nampak para muda-mudi memasang setatus mengucapkan,"Selamat Hari Valentine". 

Ini tidak bisa dibiarkan, sebagai muslim sejati aku harus memerangi para muda-mudi yang beragama Islam yang merayakan Valentine, karena hal itu hanya merusak agama Islam saja.

Ku mulai tekan tombol komentar dari setatus pemuda yang berisi tentang Valentine. Valentine itu adalah kebudayaan barat, jadi sebagai umat Islam janganlah merayakan hari Valentine.

Karena orang yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kepada kaum itu sendiri. Bertaubatlah..! tulisku di kolom komentar.

Apa si lue gak penting, gak usah urusin hidup gua, mau ngerayain valentine mau enggak bukan urusan lue. Jawab pemuda menanggapi tulisanku lima menit kemudian dari tulisanku terpublikasi.

Mas..!, mas itu bego mas, jangan mau dibohongi sama orang barat mas suruh ngerayain Valentine, karena hari Valentine timbul dari sejarah pastur Valen yang berzinah dengan seorang perempuan, sejak itulah dinamai valentine.

Tulisku di kolom komentar dengan hati yang penuh amarah.

Wah lue udah kelewatan lue, udah kita ketemuan aja kita tanding otot, bila lue menang dari gua berantem, gua mau dengerin lue, tapi kalo lue kalah lue jadi anak buah gue seumur hidup lue. Jawab komentarku 10 menit kemudian.

Siapa takut mas, saya tunggu di taman sekarang. Tulisku di kolom komentar yang juga sudah termakan emosi.

Sejam kemudian aku bertemu dengan seorang pemuda yang ku temui di facebook sedang memasang setatus tentang valentine. 

Inilah kesempatanku untuk menghancurkan orang-orang yang sudah diracuni fikiran barat.Oceh hati bertatap muka dengan pemuda yang ku temui di facebook.

Udah gak usah banyak bosa-basi, ayo langsung saja serang gua. Sambil meregangkan otot tangannya yang cukup besar. Ayo maju. Dia menantangku menyuruhku untuk menyerang dengan segenap kekuatanku.

Oke. Mengayunkan tendangan ke arah perut sang pemuda. Tetapi upps, tendanganku tertangkap oleh tangan dengan otot besarnya. 

Di tariklah kakiku ke samping tubuhnya dan kemudian kakinya menendang kakiku yang masih menempel di tanah. 

Terjatuhlah aku dengan sangat kuat mendaratlah punggungku dengan sangat kasar hingga membuat ngap nafasku. Setelah jatuh nampak pemuda menginjak bagian perutku tanpa ampun. 

Sampai mulutku keluar darahpun dia belum memberikan ampun. Tidak ada perlawanan yang berarti yang bisa ku lakukan, karena kedua tanganku dipegang erat oleh satu tangan kananny yang besar.

Sedangkan kedua kakiku dipegang satu tangan kirinya yang juga besar. Sementara itu kakinya yang juga besar terus menginjak-injak perutku hingga mulutku mengeluarkan darah.

Nasib baik ada orang yang juga menolongku, pria betubuh besar dan kekar itu lari. Tubuhku tergeletak tidak berdaya, tapi ini tidak menghentikan langkahku untuk tetap menegakan agama Allah.

Aku tetap akan memerangi para kaum kafir dan para orang-orang yang mengamalkan pemikiran kafir. (Arif Purwanto)

---oOo---

Mengharukan juga ya kisah yang diangkat dalam karya di atas? Ya, paling tidak kita bisa mendapatkan bahan tambahan untuk belajar menulis atau mengarang.

Siapa tahu dengan adanya cerpen hari valentine di atas kita bisa lebih bersemangat belajar menulis. Siapa tahu ada yang memiliki bakat terpendam yang tidak diketahui.

Ya sudah, semoga berkenan untuk anda semua. Silahkan lanjutkan untuk melihat beberapa karya lain yang sudah disiapkan dibagian akhir pembahasan ini. Pilih saja yang disukai ya, silahkan!

Back To Top