Tetap Bersinar, Bahkan Saat Malam Telah Berakhir

Tetap Bersinar, Bahkan Saat Malam Telah Berakhir – “engkau adalah bintangku dan akan tetap menjadi bintang dalam hidupku.” Kalimat itu selalu terngiang dalam benak dan anganku. Bahkan setelah setahun kepergiannya. 

Tetap Bersinar, Bahkan Saat Malam Telah Berakhir

Aku masih mengingatnya jelas, sangat jelas sekali. Aku masih bisa merasakan sentuhan jemarinya di pipiku. Aku masih bisa merasakan hela nafasnya yang berat ketika mengatakan “aku sayang kamu”. 

Morgan adalah sosok lelaki yang sangat lembut dan perhatian. Ia sangat sempurna, bahkan mungkin makhluk paling sempurna yang pernah aku temui di dunia ini. 

Tak ada yang se-perfect dia. Dari berbagai sudut pandang sekalipun. Sampai detik terakhir nafasnya menghirup udara kota ini, ia masih tersenyum tangguh. Menguatkan hatiku. 

Morgan adalah cinta yang sempurna. Tak cacat meski banyak luka. Tak tercela meski sering di rundung nestapa. 

Sempurna, bukan berarti tanpa cela bukan? Morgan adalah sosok yang pada akhirnya selalu bisa menyelesaikannya – semua perkara hidup yang melilit, semua gundah hati remaja yang tak tahu diri. 

Jauh sebelum ia menjelma menjadi bintang di jagat raya, ia telah menjadi penerang di hatiku. “Tenang sayang, santai saja. Pasti semua beres, lihat saja besok!” ia meyakinkan aku ketika aku sedang gundah. 

Nyatanya benar, dukungannya membuat aku mampu melakukan yang terbaik, dengan hasil memuaskan. “Memangnya kamu Tuhan, memastikan seperti itu!”, aku pernah memprotes sikap optimisnya.

“Ah, tidak perlu waktu lama untuk mengetahuinya. Yang membuat aku optimis adalah kamu sayang”, ia mampu membuatku terdiam.

Bahkan setelah ia meninggal, semua tentangnya menjadi petunjuk, menjadi pengingat sekaligus penyemangat. Aku selalu mampu keluar dari situasi sulit dengan cara hidupnya. Kecuali satu, tentang rinduku yang semakin menggunung ini.

Sore yang sejuk, aku masih ingat benar waktu itu, aku sedang menangisi hidup, tak tahu bagaimana mengatasi masalah ekonomi yang membelit keluargaku. Beriring sepoi angina, Morgan mampir ke gubuk tak sempurna yang aku dan keluargaku huni. 

“Yang sudah sulit tak perlu dipersulit. Pasti banyak alternatif jalan keluarnya. Aku tidak akan membantumu kali ini tapi nanti, aku akan membantumu memperbaiki semua ini.” Ucapnya kala itu berapi-api.

“Tapi bagaimana, semua jalan buntu” ucapku memprotes. “Tidak semua, coba deh kalau perlu tulis tuh jalan keluar satu persatu. Coret yang tidak bisa diterapkan, pasti ada satu yang tersisa.” Jelasnya kepadaku.

Sederhana, tapi nyatanya aku melakukan saran Morgan dan bisa mendapatkan satu solusi terbaik, atau setidaknya yang paling baik diantara yang buruk.

Setengah tahun berlalu, keadaan berubah. Kehidupan keluargaku menjadi lebih terarah, lebih pasti dan lebih terjamin. 

Berikutnya Morgan menyuntikku dengan semangat untuk memperbaiki hidup. Ia mengatakan bahwa aku tidak boleh tergantung pada apa yang sudah ada, dan tak pasti.

“Kau harus belajar mandiri Lilla. Kapan lagi, sekarang waktunya!” Ia memaksaku untuk mendirikan sebuah usaha untuk membantu perekonomian keluarga. Ia memaksaku untuk mengeksplorasi bakatku, meski aku sendiri tak tahu. 

“Yang sederhana, yang simple. Tapi bisa kamu kerjakan 1000 persen.” Jelasnya ketika aku Tanya mengenai ide usaha. 

Hiuft… kini semua itu hanyalah kenangan. Hembusan angin yang dihiasi dedaunan jatuh hanya bisa menghadirkan bayangnya.

Setahun yang lalu, kekasihku Morgan meninggal dunia ketika berkendara dengan geng motor kesayangannya. Setelah peristiwa kecelakaan itu, ia benar-benar menjadi bintang menyinariku bahkan setelah malam berlalu sekalipun.

---oOo---

Back To Top