Kisah Lucu Seorang Anak yang Tak Mau Sekolah

Kisah Lucu Seorang Anak yang Tak Mau Sekolah - ya, namanya juga anak-anak, kadang memang tingkahnya bisa membuat kita geli sendiri bahkan juga emosi tinggi. Tidak bisa disalahkan juga karena mereka sedang belajar. Masih banyak yang belum mereka mengerti.


Berikut ini kita akan kembali menghadirkan sebuah kejadian atau cerita yang bisa dikatakan lucu sekaligus gokil. Kejadian atau kisah ini berhubungan dengan anak kecil yang tidak mau belajar di sekolah.

Kalau masalah anak-anak yang tidak mau belajar sih itu bukan hal yang aneh. Tapi yang ini mungkin bisa membuat anda semua geli dan tertawa sendiri. Seperti apa sebenarnya yang terjadi pada anak kecil tersebut?

Ceritanya begini, di kampung sebelah - kampung saya ya, bukan kampung anda - ada seorang anak yang sedang mulai belajar di sekolah dasar. Di sekolah, sang guru mulai memberikan pelajaran tentang berhitung, matematika.

Di kelas baru, sang anak kecil - sebut saja Unyil - mulai diajari penjumlahan sederhana. Satu hari, dua hari, tiga hari, awalnya semua berjalan lancar sampai akhirnya suatu pagi yang cerah ia mengatakan hal yang tak disangka kepada ibunya.

Ternyata, Unyil tidak mau lagi berangkat sekolah, "aku enggak mau sekolah Ma...!" ucap Unyil tegas kepada sang Mama.

Sang Ibu tentu saja bingung kenapa anaknya tidak mau berangkat sekolah. Ia pun bertanya dan berusaha membujuk sang buah hati.

"Sayang, kenapa kamu tidak mau pergi ke sekolah?", tanya sang Ibu sembari membelai rambut buah hatinya itu.

"Aku bingung Ma, Ibu guru ngajarnya enggak jelas, masak ganti-ganti terus.", ucap sang anak tadi dengan polos.

"Kok ganti - ganti bagaimana sih nak?" tanya sang Ibu, "Memang kamu diajari apa sama bu guru?" Lanjutnya lagi.

"Ya belajar berhitung. Coba Ma, dua hari lalu katanya enam adalah tiga ditambah tiga, kemarin enam adalah empat ditambah dua, eh sekarang katanya enam adalah lima ditambah satu, bingungkan?" jelas sang anak tadi.

Mendengar jawaban sang anak tadi tentu saja sang ibu tersenyum geli. Ada - ada saja ya. Namanya juga anak-anak, belum begitu paham dengan banyaknya kemungkinan. Mungkin kita dulu waktu kecil juga seperti itu ya.

Back To Top