Hilang di Tengah Hutan, Penelitian Gagal Nyawa Melayang

Hilang di Tengah Hutan, Penelitian Gagal Nyawa Melayang – segar, benar-benar segar. Udara pagi begitu sejuk tanpa polutan. Jam setengah enam pagi, Aria kembali dari kegiatan paginya, lari pagi.

Hilang di Tengah Hutan, Penelitian Gagal Nyawa Melayang

Butir pening mengalir pelan di sekujur wajahnya. Dibagian leher, tampak handuk kecil melingkar mengelilinya. Sinar matanya terang penuh harapan dan impian. Meski darah mudanya bergejolak tapi ia tak seperti yang lain.

Aria adalah pemuda yang beda, lebih matang, lebih terkendali. Langkahnya pasti dengan segala perhitungannya. 

Kehidupan yang ia jalani mulus. Sekali-sekali kerikil tajam menghiasi perjalanan hidupnya. Membuatnya lebih kuat, matang.

Ia adalah seorang pembaharu. Ia banyak berpikir untuk kehidupan. Bukan kehidupannya sendiri, kehidupan banyak orang.

Selama kuliah, mahasiswa semester akhir di sebuah perguruan tinggi ternama itu banyak menelurkan ide-ide brilian – yang tak terpakai. 

Sampai di depan rumah, Aria mengelap peluh yang membanjiri wajahnya. Ia kemudian duduk di beranda, menyeruput segelas minuman yang sudah tersedia disana. 

Ia mengatur nafas. Dadanya terlihat naik turun teratur seiring oksigen yang mengisi rongga didalamnya.

Sejenak ia membungkuk, melepas sepatu yang dikenakan. Mematikan perangkat headset yang dikenakan. Ia menarik nafas dalam, membayangkan perjuangannya yang belum berakhir, “aku harus kuat, perjuanganku masih panjang”.

Ya. Benar sekali. Perjuangan Aria belum usai. Ia harus menyelesaikan penelitiannya sebelum bisa dinobatkan sebagai sarjana.

Ia mengambil objek penelitian di wilayah hutan kawasan. Ia meneliti masalah geologi dan sedang merampungkannya. 

Minggu ini, bersama beberapa rekan lain, ia dijadwalkan akan mengadakan kegiatan pemetaan geologi di hutan tersebut. Siang ini mereka akan meluncur ke lokasi.

Awan putih bersih menggulung-gulung di angkasa. Hari semakin siang. Aria mulai sibuk mempersiapkan perbekalan.

Beberapa perlengkapan telah siap. Ia segera meluncur ke kampus, berkumpul dengan rekan lain dan meluncur ke lokasi. 

Menjelang sore ia sampai di lokasi di kampung terdekat. Setelah mengurus berbagai kebutuhan administrasi di kampung, mereka segera beristirahat untuk memulai penelitian esok hari.

Mereka menginap di salah satu rumah warga yang dekat dengan hutan yang akan diteliti.

Pagi sekali, ketika kabut masih bergelayutan disana sini, Aria dan rombongan sudah menapakkan kaki di bibir hutan. 

Rombongan kemudian dibagi tiga kelompok, mereka meneliti di titik yang bebeda dengan jarak yang tak begitu jauh. 

Aria begit antusias. Ia bersama Mullan dan Ganni mulai meneliti. Mereka berjalan memasuki hutan dengan rasa perasaan yang begitu besar.

Waktu berlalu, semakin dalam masuk hutan, semakin banyak hal mengagumkan yang mereka temukan. 

Aria, Ganni dan Mullan mulai terlena, lupa bahwa ia berada di hutan yang lebat dan sangat luas.

Sampai akhirnya mereka sadar telah masuk terlalu jauh ketika tidak ada cahaya matahari yang mampu menembus rimbunnya dedaunan pohon yang menjulang. 

Mereka menghentikan perjalanan sejenak, mencoba memetakan dimana keberadaan mereka saat itu. 

Mullan, adalah yang pertama berdesir kencang dan merasa takut. “Astaghfirulloh… kita sudah terlalu jauh. Kita bisa tersesat!” teriak Mullan tiba-tiba ketika mereka sedang istirahat. 

“Mullan… bicara apa kamu ini…. Kita belum jauh, tenang saja!” ucap Ganni. “Benar… Tapi Gan, kita tidak meninggalkan jejak dari mana tadi kita masuk…” ucap Aria.

Rasa takut dalam sekejab masuk ke pikiran mereka masing-masing. Mereka mencoba tenang dan memetakan arah pulang. Kompas di tangan. Tapi mereka tak mengetahui arah datang.

Mereka memutuskan untuk kembali, dengan jejak ala kadarnya dan insting yang mereka miliki.

Separuh perjalanan, mereka dekat dengan jalan pulang tapi suasana menjadi lebih buruk ketika baterai ponsel mereka mulai menipis. 

Sebelum semua ponsel kolap, mereka segera mengirimkan pesan pada teman lain. Mengatakan bahwa mereka tersesat didalam hutan.

Pesan diterima, mereka mendapat balasan. Perasaan mereka sedikit lebih tenang. Mereka pun memutuskan untuk mengurangi pergerakan, agar tidak terlalu jauh tersesat. 

Menit berganti, jam berlalu begitu saja. Mereka tak juga mendapatkan tanda-tanda teman mereka. Panik kembali menyelimuti mereka. Mereka tak tahu harus berbuat apa.

Angin mulai sejuk, burung-burung mulai pulang ke sarang. Beberapa teman Aria masih mencoba melacak keberadaan mereka. 

Salah satu mereka juga sudah menghubungi masyarakat dan polisi untuk membantu pencarian. Jam 18.30, masyarakat kampung, tim sar dan petugas polisi datang di lokasi teman-teman Aria. Mereka mulai melakukan penyisiran. 

Meter, kilo meter tak ditemukan tanda-tanda keberadaan Aria. Jam 12 malam, dengan dukungan cuaca yang kruang bersahabat, tim akhirnya memutuskan untuk menunda pencarian.

Apalagi karena sudah tidak ada komunikasi yang berlangsung dari ponsel ketika mahasiswa yang tersesat tersebut. 

Pencarian di lanjutkan besok, mengingat tim pencari juga perlu berkoordinasi dan beristirahat. 

Hari berlalu, tim terus berusaha menemukan mereka. Pencarian telah diperluas. Bantuan pun sudah lebih banyak tapi mereka masih belum bisa menemukan keberadaan Aria. 

Di hari ke lima, akhirnya salah satu tim pencari menemukan tanda-tanda keberadaan mereka. Ada sebuah tas kecil yang tercecer, diduga milik salah satu dari mahasiswa tersebut. Pencarian pun segera lebih intensif.

Benar saja, sekitar satu kilometer dari penemuan tersebut, ditemukanlah tiga mahasiswa tersebut dalam kondisi mengenaskan. Mereka – Mullan, Ganni dan Aria – sudah tak bernyawa.

---oOo---

Back To Top