Cerita Pengalaman Panen Madu di Kebun

Cerita Pengalaman Panen Madu di Kebun – hidup di daerah yang masih banyak lahan yang ditanami berbagai tumbuhan memang memiliki kesenangan tersendiri. Di desa, masih banyak hutan, banyak kebun-kebun rakyat dan banyak juga lahan persawahan. 


Untuk sebuah petualangan, suasana daerah semacam itu memang menjanjikan banyak kesenangan, tak kalah dengan suasana kota yang gemerlap. Sebagai seseorang yang hidup di desa, aku sering pergi ke sana kemari, bertualang seperti bolang di berbagai lokasi yang menarik.

1) Jual madu
2) Madu mp3
3) Lagu madu
4) Tes madu asli
5) Pengertian madu
6) Khasiat madu untuk wajah
7) Cara mengkonsumsi madu
8) Manfaat madu bagi kesehatan

Petualanganku kali ini adalah untuk mencari madu dari sarang lebah madu. Memang, sekarang ini sudah semakin sulit mencari sarang lebah madu liar karena semakin sempitnya lahan. Dulu, waktu aku masih kecil, bahkan di belakang rumah saja sudah banyak sarang lebah yang madunya bisa dipetik.

Tadinya sih aku tidak bermaksud mencari madu, tapi berbekal informasi dari salah satu teman akhirnya aku dan dua temanku memutuskan untuk mencari madu. Sore itu, aku sedang duduk santai di depan rumah sambil bermain gitar.

“Woi… enak nih yang lagi santai…”
“Pasti… kemana aja kalian, tumben sore begini baru muncul?”
“Biasa bro, bantu babe cari rumput…!”
“Haalah… paling juga molor…”
“Suntuk nih bro, gak ada kegiatan… masak setiap hari molor melulu kerjaannya…”
“Iya sih, tapi ngapain ya…?”

Enggak ada ide apapun, akhirnya kami teriak-teriak menyanyikan lagu sekena-nya. Sesekali kami berbincang kecil dan bercanda. Sedang asyik, tiba-tiba salah satu sahabatku mengatakan ada sebuah sarang lebah yang dulu pernah ia panen bersama ayahnya.

“Mungkin sekarang masih ada, kayaknya ayah juga sudah lama tidak panen madu. Bagaimana kalau besok kita ke sana saja?” Kami pun akhirnya memutuskan untuk berburu madu esok hari.

Esok harinya, menjelang siang kami meluncur ke kebun milik salah satu teman kami. Kami hanya membawa sebuah ember kecil dan sabit. Panas, bertiga kami menyusuri kebun tumpang sari yang diselingi dengan pohon pepaya. “Ah, kalau lapar tinggal metik pepaya nih”, pikirku dalam hati.

Setelah setengah jam kami berjalan menyusuri kebun, mondar mandir ke sana kemari, tiba-tiba Rudi berhenti di depan sebuah batang pohon besar yang tergeletak di antara tanaman di kebun. Sepertinya itu adalah batang pohon sisa ditebang tetapi tidak digunakan.

“Enggak salah, ini sepertinya…” Rudi menunduk dan mulai mengamati batang tersebut. Aku melihat beberapa ekor lebah yang terbang ke bagian bawah batang pohon tersebut. 

“Wah, benar ini Rud, di bagian bawah kayaknya”. Setelah sedikit yakin, aku lalu mulai membersihkan batang tersebut dari rumput liar. Rudi kemudian mengambil sebuah batang kayu yang cukup panjang yang terletak di bagian lain potongan kayu tersebut. 

Ia segera mengajak kami untuk membalik potongan kayu tersebut. Arya mencoba mengungkit batang itu sendirian, tak kuat. Rudi kemudian mencoba membaliknya, sama, tak bisa. Akhirnya aku menyuruh Rudi memegang pengungkit sedangkan aku dan Arya membalik batang pohon tersebut dengan tangan.

“Hiuft…”, keringat mulai bercucuran. Setelah beberapa menit berjibaku membalik batang kayu tersebut akhirnya sebuah sarang lebah madu siap panen ada di depan mata kami.

“Eh, beneran nih enggak apa-apa, kita kan enggak pakai apa-apa?”
“Enggak, tenang aja, pakai asap rokok aja mereka sudah menyingkir”
“Tuh, tuh, itu coba lihat…”
“Iya benar, itu sarangnya….”
“Wah…. Lumayan besar tuh…”
“Yuk kita ambil saja…”

Rudi langsung beraksi, mengambil satu potong sarang yang penuh dengan madu. Tiba-tiba lebah yang berkerumun pun mulai bubar, terbang ke sana kemari. “Wah, mantap nih… Coba lihat, madunya banyak”, ucap Rudi kegirangan. 

“Aduh… duh… duh…”
“Napa Ya?”
“Ini, ada lebah masuk ke baju…”
“Dikibas aja, asal enggak ditekan dia enggak akan nyengat kok…”

Dengan hati-hati, kami pun mulai mengambil sarang lainnya sambil menghindari lebah-lebah yang banyak sekali. Arya tak henti-hentinya meniupkan asap ke sekitar lebah agar tidak mengganggu.

Meski tak ada satu sengatanpun yang kami dapat tapi memanen madu menjadi pengalaman yang sangat menegangkan bagiku. Aku sendiri sebenarnya sedikit trauma dengan lebah tetapi aku mencoba tetap tenang dan terus memberanikan diri. 

Panen madu di kebun temanku akhirnya selesai. Setelah semua sarang kami ambil, hanya disisakan sedikit sekali, kami langsung pulang menuju rumah.

“Saatnya berpesta…”, sampai rumah kami segera mencicipi hasil buruan kami. 
“Hem, benar-benar lezat dan nikmat…”
“Manis… mantap….”

Setelah puas menikmati madu yang kami panen tadi, kami pun memberikan sisa madu tersebut ke ibu Rudi. Tidak banyak yang kita makan, tapi itu adalah madu yang benar-benar madu, manis dan lezat. Aku benar-benar puas, mudah-mudahan kami bisa memanen madu itu lagi lain waktu.

Back To Top