Contoh Cerpen tentang Persahabatan 500 Kata

Contoh cerpen tentang persahabatan 500 kata mungkin saja banyak sekali yang membutuhkan. Biasanya tentu yang banyak membutuhkan adalah rekan-rekan yang sedang belajar untuk membuat karangan fiksi. Maka dari itu kita coba hadirkan juga satu judul yang cukup menarik untuk diikuti.

Cerpen 500 kata tentang persahabatan
Cerpen ini judulnya "sahabat pemberi semangat". Jelas sekali dari judul dapat diketahui bahwa karya ini akan memberitahukan kepada kita semua bahwa sahabat adalah salah satu sumber motivasi yang cukup penting. Dengan adanya sahabat kita bisa lebih semangat dalam menjalankan hidup. Seperti apa cerita selengkapnya, silahkan dibaca.

Sahabat Pemberi Semangat
Cerpen tentang Persahabatan 500 Kata

Pagi yang cerah bersenandungkan semangat membakar jiwa yang telah lama tidur dari dunia pendidikan. Senandung matahari pagi menjadi awal memulai hariku menjadi mahasiswa setelah aku berhenti selama kurang dua tahun. Inilah niatanku setelah cukup banyak menelan dunia luar, dunia kerja, dan dunia bermain sebebas-bebasnya tanpa batas dan tanpa halangan.

Sepatu pantopel sudah ku semir dengan begitu mengkilapnya layaknya kaca terkena sinar yang hingga menyilaukan mata. Baju sudah ku setrika begitu halus menyentuh bagian kulitku, sehingga sangat nyaman untuk dikenakan.

Roy yang tidak kalah bahagianya memulai harinya sebagai mahasiswa yang juga sebelumnya sempat cukup lama berhenti dari bangku pendidikan. Motivasi tinggi dan ingin adanya perubahan dalam hidup menjadikan kami berdua bersemangat memulai aktivitas perdana kami sebagai mahasiswa.

Saking bahagianya hingga lupa menyebutkan namaku sendiri kepada para pembaca. Namaku adalah Udin, yang pagi ini begitu merasa bahagianya karena menemukan dan bersatu dengan jiwa yang telah lama tidak ada dalam hati. Hingga sampai lupa ku memperkenalkan diri, mudah-mudahan ini bukanlah masalah besar untuk pembaca..hehe.

Roy: Apakah kau sudah siap untuk mengawali hari pertama kita kuliah dengan semangat..?.

Aku: Tentu Roy, aku begitu bersemangat dan aku juga sudah mempersiapkan peralatan kuliah untuk digunakan pada kuliah perdana pada pagi ini, rasanya benar-benar tidak sabar aku Roy.

Roy: Bagus itu yang ingin ku dengar sahabatku, waktu sudah menunjukan jam delapan kurang sepuluh menit, mari kita beranjak ke kampus dan memulai aktivitas kita sebagai mahasiswa.

Aku: Ayo Roy, kau yang mengendarai mobilnya ya.

Dengan kelihaian dan sedikit seni dalam menghidupkan serta mengendarai mobil aku diwabanya dengan kecepatan mengendara yang sedang. Roy nampak hati-hati benar serta sangat mengutamakan keselamatan, sehingga sebagai penumpang akupun merasa nyaman menjalani perjalanan ini.

Sepuluh menit berselang sementara mobil kami sudah di depan kampus, kami turun dari mobil serta bergegas berlari ke kelas.

Aku: Aku begitu gemetar Roy, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya dan juga aku juga pernah menjadi mahasiswa sebelumnya.

Roy: Ayolah tidak ada yang hendak memakanmu di sini, jadi buatlah perasaanmu senyaman mungkin agar tubuhmu tidak bergetar, (Memberikan semangat kepadaku).

Ujung jari tangan yang dingin, serta sedikit tubuh merasa gemetar ku paksa untuk terus berjalan masuk ke dalam kelas serta disaksikan mahasiswa-mahasiswa baru yang lain. Pak dosen menyapa kami,"Silahkan duduk, dan selamat datang di dunia pendidikan tingkat tinggi".

Sementara aku dan Roy hanya membalas dengan senyuman lebar, serta langsung mengambil tempat diantara para mahasiswa baru yang sudah mendapatkan tempat duduknya.

Pak Dosen: Sebelum saya menyampaikan kuliah pertama kita, saya ingin meminta kalian memperkenalkan diri kalian sendiri satu-persatu dari yang terdepan dan yang paling kanan.

Mahasiswa baru yang paling depan dan paling kanan memperkenalkan dirinya, kini aku sudah mendapatkan kembali rasa nyaman dalam hati akibat semangat dari sahabatku, aku sudah merasa cukup nyaman dan berfikir bahwa memang inilah aku sekarang.

Seorang mahasiswa yang sejatinya adalah ada untuk menjadi sorotan banyak orang karena kemampuan intelek yang di atas rata-rata. Ketika di dalam kelas ini pun aku merasa kepercayaan kepada diriku sendiri sudah bertambah, sehingga rasa grogi atau merasa kurang percaya diri kini sudah hilang. (Arif Purwanto)

Back To Top