Cerpen tentang Disiplin di Sekolah, Kerugian Tidak Mengerjakan Tugas Rumah

Contohcerita.com - cerpen disiplin di sekolah menggambarkan sebuah pesan dan nasehat kepada pelajar siswa siswi sekolah. Dalam cerita tentang tugas atau pekerjaan rumah ini para pelajar bisa mengetahui bagaimana ruginya jika tidak disiplin.

Cerpen Singkat tentang Disiplin di Sekolah berjudul Tidak Mengerjakan Tugas
Ceritanya sederhana tapi pesan moral yang ada didalamnya bagus. Selain itu, ceritanya juga cukup pendek jadi tidak akan membosankan. Kalau ada waktu senggang, silahkan baca langsung cerita pendek sederhana berikut.

Kerugian Tidak Mengerjakan Tugas Rumah
Cerpen tentang Disiplin di Sekolah

Udara dingin menusuk tulang. Sore itu, suasana berkabut setelah hujan dari tengah hari. Gondin duduk di depan televisi memeluk toples kue. Sesekali tangan kanan-nya meraih remote, mengganti channel tv. Mulutnya tak berhenti mengunyah. 

Sore itu suasana sempurna untuk bermalas-malasan. Cuaca dingin, badan letih, tak ada orang pula di rumah. Gondin sampai lupa waktu. Ia juga tak ingat kalau masih memiliki tugas yang belum dikerjakan.

Sedang asyik, tiba-tiba terdengar bunyi dari ponselnya. “Din, tugas kamu sudah selesai belum. Jangan lupa dikerjakan ya, besok aku lihat…” “Ah, santai lah, masih sore ini. Nanti malam aja. Gue lagi PW nih…”

Dengan santainya Gondin menjawab pesan dari Rika. Besok pelajaran bahasa Inggris pak Mamat. Tak ada yang istimewa dari pelajaran itu. Yang tidak mengerjakan tugas, biasanya tidak dihukum. Yang mengerjakan tugas juga sama sekali tidak dipuji atau apapun. 

Gondin terlihat santai menghadapi tugas yang belum dikerjakan.. Ia tetap santai di depan televisi sambil terus menikmati kue. Tak terasa, Gondin pun tertidur. Ia bahkan tak menyadari ketika kedua orang tuanya pulang. 

“Coba lihat anak gadis kamu pa, sampai ketiduran di depan TV”
“Ya mungkin capek Ma, suruh pindah ke kamar aja”

Sang ibu kemudian membangunkan Gondin untuk pindah tidur ke kamar. Setengah sadar, Gondin beranjak dari kursi dan langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia tidur begitu pulas, sampai pagi menjelang. 

Pukul 5, alarm berbunyi, menandakan batas waktu paling siang Gondin harus bangun. Dengan badan yang segar, ia langsung bangun dan bergegas menyiapkan buku-buku pelajaran. Di lihatnya jadwal pelajaran untuk memastikan tak ada yang terlewat. 

Buku catatan kecil pun tak luput dari perhatiannya. “Astaga… PR bahasa Inggris”. Gondin baru ingat bahwa ia belum mengerjakan tugas pelajaran bahasa Inggris yaitu mengarang cerpen. Ia segera duduk dan langsung mengerjakan tugas. 

Lima menit berlalu, perasaan Gondin mulai tak tenang. Hari seperti sudah sangat siang. Dapur sudah bergemuruh, sang ayah pun sudah bangun. Tiba-tiba ia beranjak dari kursi, tak mampu mengerjakan tugas tersebut. Karena sudah mulai siang, ia pun segera menyiapkan diri menuju ke sekolah.

Sampai di sekolah. Jam pelajaran di mulai. Pak Mamat segera memasuki kelas dengan membawa beberapa bungkusan dengan kertas kado yang rapi. Segera, suasana kelas menjadi sangat riuh. Anak-anak penasaran apa yang dibawa pak Mamat dengan susah payah itu.

“Selamat pagi anak-anak. Bagaimana kabar kalian semua, baik bukan? Kalau tidak salah, minggu kemarin bapak kasih tugas pada kalian. Silahkan dikumpul ke depan, akan bapak koreksi langsung”

Siswa yang mengerjakan tugas segera mengumpulkan tugasnya di meja pak Mamat. Gondin dan Rika beradu pandang. Mereka hanya diam saja karena tidak mengerjakan tugas. Selain mereka, ada juga beberapa anak lain yang tampak sama, tidak mengerjakan tugas sekolah.

“Tugas sudah dikumpul, sementara bapak melihat tugas kalian, silahkan kalian pelajari materi bab V di buku cetak. Setelah bapak selesai melihat tugas kalian, nanti akan bapak jelaskan lebih lanjut. Tapi ingat, jangan berisik ya”

Segera setelah memberikan instruksi, pak Mamat fokus pada buku tugas anak-anak. Satu persatu tugas dilihat. Anak-anak sibuk mempelajari bab yang diminta. Di sela-sela itu Gondin dan Rika sempat berbisik-bisik sambil melihat pak Mamat.

“Din, tumben amat ya…”
“Apaan…?”
“Pak Mamat, kok tugas kita langsung di koreksi gitu?”
“Au ah…”

Sambil membaca buku cetak, Gondin menyempatkan sesekali melirik guru bahasa Inggris di mejanya. Sekilas ia melihat beberapa buku tugas disisihkan dibagian kiri. Buku lainnya di tumpuk dibagian kanan. 

Waktu berlalu, sekitar setengah jam, pak Mamat berdiri, “baiklah anak-anak. Bapak sudah memeriksa tugas kalian semua. Sebelum bapak jelaskan bab yang baru kalian pelajari ada sesuatu yang bapak ingin sampaikan”

Beberapa anak berbisik-bisik sambil terus mengamat sang guru. “Selama ini, bapak tidak pernah menghukum kalian yang tidak mengerjakan tugas. Bapak juga tidak memberikan hadiah pada kalian yang rajin. Tapi sebenarnya, bapak selalu melihat hasil tugas kalian. Ada beberapa anak yang disiplin, selalu mengerjakan tugas yang bapak berikan dengan baik”

Anak-anak mulai semakin tegang dengan apa yang disampaikan pak Mamat. Gondin dan sahabatnya mulai sedikit gelisah, takut dihukum atau dimarah. “Hari ini adalah hari istimewa bagi murid bapak yang disiplin. Selain itu, hari ini juga merupakan peringatan bagi kalian yang kurang disiplin. Stenley, Jarot, Intan, silahkan kalian maju ke depan.”

Murid yang disebut namanya pun langsung maju ke depan dengan wajah bingung. Antara takut dan penasaran. Pak Mamat pun melanjutkan, “mereka inilah murid-murid bapak yang disiplin. Meski tidak dikoreksi langsung, mereka tidak pernah malas mengerjakan tugas. Untuk mereka, bapak sudah menyiapkan hadiah istimewa. Silahkan diambil satu – satu”

Gondin terdiam, manyun. Ia merasa menyesal dan iri, “kenapa bukan aku”. Ketiga murid itu segera mengambil bungkusan di meja. “Silahkan di buka”, ucap pak Mamat kemudian.

Tiga murid itu segera membuka hadiah itu di depan kelas. Dengan senyum bangga dan bahagia, mereka kemudian menunjukkan isi kotak itu. Penasaran, anak-anak bahkan ada yang sampai berlari ke depan. Sebuah buku novel bahasa Inggris, kamus bahasa Inggris digital dan satu buah jam tangan cantik menjadi hadiah yang sangat istimewa bagi mereka.

“Hore… terima kasih pak…” “Iya, terima kasih banyak pak…” Mereka segera mencium tangan pak Mamat dan kembali duduk ke bangku masing-masing. 

Setelah mereka duduk, pak Mamat pun berkata, “anak-anak, itu tadi adalah sebuah contoh pentingnya disiplin. Dengan disiplin, kalian akan mendapatkan banyak hal yang berharga, sesuatu yang tak ternilai harganya untuk masa depan kalian. Mulai dari sekarang, ingat untuk selalu disiplin dalam belajar.”

--- Tamat ---

Back To Top