Bahan Bangunan yang Menumpuk Tak Jua Berdiri Menjadi Rumah

Contohcerita.com - pernah membaca cerita tentang membangun rumah? Ya, berikut ini bisa dikatakan sebuah cerita pendek atau pengalaman yang berhubungan dengan membangun rumah. Ceritanya menyentuh, meski sangat singkat pasti anda suka.

Bahan Bangunan yang Menumpuk Tak Jua Berdiri Menjadi Rumah
Cerita ini adalah cerita nyata dari kehidupanku bersama keluargaku. Aku bersama keluargaku tinggal di desa. Namaku adalah Andre Bagus Setiawan. Aku adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Ayahku seorang petani dan ibuku seorang buruh cuci.

Singkat cerita kami sekeluarga memiliki keinginan untuk membuat sebuah rumah yang akan kami jadikan sebagai rumah pokok kehidupan keluarga kami.

Aku dan ayahku yang seorang petani adalah seorang petani cabe yang cukup berhasil ketika masa masa tanam cabai pertama.

Saat aku dan ayahku menanam cabai untuk pertama kalinya, aku dan ayahku mendapat untung sebesar 25 juta.

Untung itu kami belanjakan untuk membeli bahan bangunan seperti pasir, bata, semen, kayu dan sejumlah bahan bangunan lainnya.

Sisanya kami jadikan sebagai modal lagi untuk menanam cabai lagi. Tadinya kami sudah punya rencana bahwa panen cabai kami yang pertama sengaja kami belanjakan untuk membeli bahan bangunan.

Kami sudah punya rencana bahwa nanti ketika kami sudah panen lagi, dan harga cabainya lumayan maka keuntungan itu akan langsung kami belanjakan untuk menyewa para tukang.

Namun apa daya rencana itu gagal total dan kami tahun ini gagal untuk mewujudkan impian kami membuat rumah pokok.

Bahan bangunan yang sudah kami beli akhirnya hanya tergeletak sia sia yang hanya kami tutupi dengan plastik seadanya.

Sudah satu tahun bahan bangunan itu tergeletak di pekarangan rumah. Rencana yang sudah kami buat gagal dan tidak memberi manfaat untuk bahan bangunan itu.

Namun kala melihat bahan bangunan itu, niat ku tumbuh lagi, bagaimana caranya aku harus mewujudkan keinginan keluargaku memiliki sebuah rumah.

Dari pelajaran yang dapat ku petik ialah aku harus merencanakan segala sesuatu dengan matang dan mempertimbangkan segala resiko yang akan terjadi. (Gunarto)

Back To Top