Kisah Naskah Drama tentang Anak Pungut

Kisah Naskah Drama tentang Anak Pungut - contohcerita.com hadir lagi mengajak adik-adik pelajar untuk belajar pementasan drama atau teater. Kali ini kita akan belajar dengan sebuah teks atau naskah yang cukup menarik, sederhana dan mudah dihafal. Naskah yang dimaksud adalah drama yang mengambil tema kehidupan sehari-hari.


Inti ceritanya diambil dari sebuah cerita rakyat nusantara. Cerita tersebut yaitu kisah si baroar yang mungkin sudah banyak dikenal oleh sebagian rekan pelajar semua. Ya, dalam kisah tersebut diceritakan tentang seorang anak pungut yang dibesarkan oleh seorang raja.

Tentu menarik, meski mengambil latar masa kerajaan namun kisah didalamnya cukup bisa dikembangkan menjadi naskah drama yang menarik. Dari cerita rakyat tersebut dapat dikembangkan teks drama 8 orang pemain yang dialognya pendek atau singkat. Seperti apa, silahkan adik-adik baca langsung berikut.

Kisah Si Baroar sang Anak Pungut
Naskah Drama 8 Orang Pemain

Para Tokoh Pemain
1) Sultan pulungan 
2) Prajurit 
3) Si sauna
4) Rakyat
5) Si Baroar
6) Hulubalang
7) Si Saua
8) Pemimpin hulubalang 


Pada zaman dahulu kala,di Mandailing, Sumatra Utara, terdapat sebuah kerajaan kecil yang bernama Huta Bargot. Rajanya yang bergelar Sutan Pulungan. Ia mempunyai seorang permaisuri dan putra yang masih bayi. Di sela-sela kesibukannya mengurus kerajaan, Sutan Pulungan sering meluangkan waktu pergi ke tengah hutan untuk berburu rusa.

Sutan Pulungan:”Aku sungguh menantikan waktu luangku untuk berburu rusa yang besar di balik sesemak rimbun pepohonan dan rumput liar di hutan, terlebih bila anak panahku menancap di badan rusa dan membuatnya tidak berdaya(Membayangkan sambil tersenyum sendiri)”.

Pada suatu hari, Sutan Pulungan bersama beberapa orang hulubalang dan prajuritnya berburu rusa di sebuah hutan lebat. Sutan Pulungan membawa anjing pemburu kesayangannya yang sangat pintar dan tangkas bernama Sipamutung. Ketika mereka sampai di tengah hutan, Sipamutung tiba-tiba berlari kencang menuju ke suatu tempat. Tak berapa lama kemudian, ia pun terdengar menyalak dengan serunya. Mendengar salakan anjing kesanyangannya tersebut, Sutan Pulungan segera memerintahkan prajuritnya pergi ke tempat Sipamutung menyalak.

Sultan pulungan :”Wahai prajuritku, apa yang sipamutung temukan, coba pergi ke sana dan cari tahu apa yang sedang terjadi.
Prajurit : “Siap raja.

Mendengar perintah itu, beberapa orang prajurit segera berlari ke tempat Sipamutung menyalak. Setibanya di tempat itu, mereka melihat sebuah banyangan perempuan berkelebat lari dari bawah sebatang pohon beringin besar. Sementara Sipamutung masih terus menyalak. Ketika para prajurit tersebut mendekat dan memeriksa ke bawah pohon itu, tampaklah seorang bayi laki-laki tampanterbaring di atas sebuah batu besar. Tak berapa lama kemudian, Sutan Pulungan pun tiba di tempat itu.

Sultan pulungan :”Apa yang di temukan pamurtung.
Prajurit : “Ada bayi raja.
Sultan pulungan : “Bayi siapa itu?”.
Prajurit : “Tidak tau raja.

Akhirnya, ia bersama rombongannya memutuskan untuk berhenti berburu dan segera membawa pulang bayi malang itu. Setibanya di Negeri Huta Bargot, Sutan Pulungan menyerahkan bayi itu kepada seorang janda tua bernama si Saua, yang sejak lama mendambakan seorang anak. Lantas anak itu di panggilnya si baroar.

Sultan pulungan : “Wahai sauna, aku berikan bayi untukmu bayi yang ku temukan di hutan, karena aku tahu kau yang telah lama mendambakan seorang anak”.
Si sauna :  (Bahagia sekali)terimakasih raja, hamba sangat berterimakasih kepadamu. (Dan raja menninggalkanya)
Si sauna : “Anakku akan ku berinama kau si baroar (Ucap si sauna)”..

Waktu terus berjalan. Si Baroar telah berusia lima tahun dengan wajah yang sangat tampan. Namun anehnya, wajah dan perawakan si Baroar sangat mirip dengan putra Sutan Pulungan, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak dapat lagi membedakan keduanya. Orang-orang sering keliru menyapa ketika bertemu dengan salah seorang dari kedua anak tersebut. 

Jika si Baroar berjalan-jalan sendirian, orang-orang yang bertemu dengannya selalu memberi hormat kepadanya dan menyapanya seperti menyapa putra Sutan Pulungan. Tetapi sebaliknya, jika bertemu dengan putra Sutan Pulungan, mereka memperlakukannya seperti anak orang kebanyakan.

Rakyat:”(Melihat si Baroar), hormat kami baginda raja (Sambil menyembah), kemana kirannya raja akan pergi”.

Si Baroar:”(Tak mengerti mengapa dia disembah), Hey tuan aku bukan raja tuan panggil aku Baroar”.

Di sisi lain.

Rakyat:”Hey Baroar mau kemana kau, pakaiamu sudah seperti raja saja”.
Sutan Pulungan:”Jaga biacaramu tuan, aku Sutan Pulungan seorang raja..!”.
Rakyat:”(Langsung menunduk dan menyembah), maafkan kamu tuan raja, muka raja begitu mririp dengan Baroar”.

Saat mengetahui putranya sering mendapat perlakuan demikian dari orang-orang di sekitarnya, Sutan Pulungan dan permaisurinya merasa sangat terhina. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membunuh si Baroar secara rahasia agar tidak diketahui oleh orang banyak.

Pada suatu hari, Sutan Pulungan mengumpulkan seluruh pembesar kerajaan untuk menyusun rencana pembunuhan rahasia tersebut. Dalam sidang tersebut, ia memerintahkan kepada pembesarnya agar segera menyelenggarakan upacara adat Sopo Godang, yakni upacara penggantian tiang besar balai sidang yang sudah lapuk. Sutan Pulungan akan menyelenggarakan upacara adat tersebut secara besar-besaran di istana Kerajaan Huta Bargot, karena ia ingin memanfaatkan keramaian itu untuk menutupi perbuatannya membunuh si Baroar.

Sutan Pulungan:”Wahai rakyatku dan para abdi dalam di kerajaan ini, berhubung tiang pendopo sudah begitu lapuk, aku sebagai raja di sini mempunyai keinginan agar tiang pendopo itu diganti secepatnya. Karena bila tiang pendopo yang sudah lapuk itu kita biarkan saja akan bisa membahayakan orang yang ada di kerajaan ini”.

Orang-orang yang hadir dalam rapat:(Menyetujui sebuah saran berupa printah yang diajukan oleh raja).

Sang raja pun menyuruh hulubalang untuk member tanda silang kepada si baroar maksuknya agar bias membedakan si baroar dan putranya.

Pada hari yang telah ditentukan,di adakan upacara adat untuk mengalihkan perhatian para warga agar para hulubalang dapat melaksanakan tugas untuk membunuh si Baroar tanpa sepengetahuan mereka.Ketika para warga sedang asyik bersuka ria, para hulubalang pun menyiapkan tiang untuk dimasukkan ke dalam lubang. Kebetulan saat itu, mereka melihat si Baroar yang sudah diberi tanda di keningnya sedang berdiri tidak jauh dari mereka. 

Secara sembunyi-sembunyi, mereka segera menangkap dan menjatuhkan si Baroar ke dalam lubang, kemudian menimpanya dengan tiang besar.Tak seorang pun yang mengetahui perbuatan mereka, karena para warga sedang asyik bersuka ria. Para hulu balang pun merasa lega dan gembira, karena berhasil menjalankan tugas dengan lancar. Demikian pula yang dirasakan oleh Sutan Pulungan, karena si Baroar yang selalu membuatnya terhina telah mati.

Sutan pulungan:”Akhirnya tidak ada lagi yang merebut kewibawaanku sebagai seorang raja, karena si Baroar sudah mati, kini bakti dan kesetiaan rakyat hanya untuku, haha, akupun sekarang tidak perlu lagi merasa terhina karena memang tidak ada yang akan menghinaku dengan perlakuan-perlakukan rakyat yang memuja-muja Baroar”.

Namun, sejak acara tersebut dilaksanakan, putra Sutan Pulungan tidak pernah lagi terlihat di istana. Seluruh keluarga istana menjadi panik dan segera mencari putra Sutan Pulungan. Mereka telah mencarinya di sekitar istana, namun mereka tetap tidak menemukannya. 

Sutan Pulung pun mulai cemas, jangan-jangan para hulubalangnya keliru dalam menjalankan tugas. Untuk itu, ia pun segera mengutus seorang hulubalang pergi ke rumah si Saua untuk melihat apakah si Baroar masih bersamanya. Ternyata benar. Sesampainya di sana, utusan melihat si Baroar sedang membelah kayu bakar bersama si Saua. Ia pun segera kembali ke istana untuk melaporkan hal itu kepada sang Raja.

Hulubalang:(Mengintai rumah si Saua sambil berjalan dengan begitu berlahan, setelah sebelumnya menerima printah dari sutan Pulungan), benar saja si Baroar masih hidup lantas siapa yang ku bunuh kemarin, aku harus melaporkannya kepada raja”.

Ternyata si baroar masih hidup. Mendengar laporan itu, Sutan Pulungan langsung naik pitam. Ia sangat marah kepada para hulubalangnya yang telah keliru menjalankan tugasnya.

Rupanya kekeliruan itu bermula beberapa saat sebelum upacara adat tersebut dilaksanakan. Putra Sutan Pulungan melihat tanda silang pada kening si Baroar. Karena ingin seperti si Baroar, ia pun menyuruh seseorang untuk membuat tanda yang serupa di keningnya. Kemudian ia pergi ke tengah keramaian upacara, dan pada saat itulah para hulubalang menangkapnya secara sembunyi-sembunyi, lalu memasukkannya ke dalam lubang.

Sutan Pulungan yang telah kehilangan putranya segera memerintahkan tiga orang hulubalangnya untuk membunuh si Baroar. Ketiga hulubalang itu pun segera menuju ke rumah si Baroar dengan pedang terhunus. Saat tiba di sana, mereka tidak menemukan si Baroar dan si Saua. Rupanya, ada orang yang mengetahui rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh para hulubalang tersebut terhadap si Baroar. 

Orang itu pun memberitahu si Saua agar segera menyelamatkan si Baroar. Jadi, sebelum para hulubalang tersebut tiba di rumahnya, si Saua telah membawa lari si Baroar ke daerah persawahan yang sedang menguning padinya, tak jauh dari tepi Sungai Batang Gadis.

Si Saua:”Ayo cepat mari kita lari, Hulubalang akan membunuh kita bila kita sampai tertangkap olehnya (Lari di pematang sawah yang padinya menguninng)”.

Si Baroar:”Aku masih tidak mengerti mengapa ini harus terjadi kepadaku”.

Si sauna:”Kau fikirkan nanti saja masalah itu, yang terpenting sekarang adalah mencari tempat yang aman untuk kita bisa terbebas dari Hulubalang”.

Ketika sampai di daerah persawahan, si Saua mengajak si Baroar untuk bersembunyi di sebuah gubuk yang atapnya hanya tinggal rangkanya yang berdiri di tengah sawah. Sebab, ia yakin bahwa para hulubalang tersebut pasti akan mengejar dan mendapati mereka sebelum tiba di tepi sungai.

Si sauna : “Anakku! Kita bersembunyi di sini saja! Kalau kita terus berlari, mereka pasti akan menangkap kita, karena mereka bisa berlari dengan cepat, (ujar si Saua seraya merangkul tubuh si Baroar)”.

Para hulubalang tersebut tiba-tiba kehilangan jejak. Saat melihat sebuah gubuk di tengah sawah, mereka pun mendekatinya. Ketika sampai di dekat gubuk itu, langkah mereka tiba-tiba terhenti. Si Saua dan si Baroar pun semakin ketakutan, karena mengira parahulubalang tersebut mengetahui keberadaan mereka. Namun ternyata, para hulubalang tersebut berhenti melangkah, karena melihat ada seekor burung balam sedang bertengger di puncak kerangka atap gubuk itu sambil terus berkicau.

Pemimpin hulubalang : “Ayo kawan-kawan kita cari mereka di tempat lain! Untuk apa kita cari di si janda tua dan si Baroar di gubuk itu. Kalau mereka bersembunyi di situ, tidak mungkin burung balam itu bertengger di atas sana!, (seru hulubalang yang memimpin pengejaran itu)”.

Setelah para hulubalang tersebut cukup jauh dari gubuk itu, si Saua dan si Baroar keluar dari gubuk itu dan berlari menuju ke arahSungai Batang Gadis. Namun sialnya, para hulubalang melihat mereka lagi.

Pemimpin hulubalang :“Hai, itu mereka! Ayo kita kejar!,( seru pemimpin hulubalang)”.

Si Saua dan si Baroar pun berlari semakin cepat. Ketika mereka tiba di tepi sungai, ternyata Sungai Batang Gadis sedang banjir besar, sehingga mereka tidak dapat menyeberang. Sementara para hulubalang yang mengejarnya semakin dekat. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dalam keadaan nyawa terancam, si Saua segera bersujud ke tanah memohon pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa.

Si sauna : “Ya Tuhan! Selamatkanlah nyawa kami!(ucap si Saua)”.

Ketika mengangkat kepalanya kembali, si Saua melihat sebatang kayu besar yang amat panjang hanyut melintang di tengah sungai. Anehnya, kayu besar itu berhenti tepat di hadapan mereka dalam keadaan melintang sampai ke seberang. 

Tanpa berpikir panjang dan merasa takut sedikit pun, janda tua itu dan si Baroar segera meniti kayu besar itu. Begitu tiba di seberang sungai, kayu besar itu kembali hanyut terbawa arus banjir. Para hulubalang yang baru tiba di tepi sungai tak dapat lagi mengejar mereka. Akhirnya, si Saua dan si Baroar selamat dari kematian.

Konon, beberapa tahun kemudian, di seberang Sungai Batang Gadis tersebut berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Panyabungan Tonga-Tonga yang dipimpin oleh si Baroar bersama permaisurinya. Keturunannya kemudian dikenal sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Nasution.

Back To Top