Perihnya 15 Tahun Penantian Tanpa Henti

Kisah Sedih 15 Tahun Penantian Tanpa Henti - Dingin, sunyi, sepi, itulah yang aku rasakan malam ini. Aku merasakan sebuah rindu yang tak tertahankan. Aku merasa begitu kehilangan sejak kepergiannya. Dia telah pergi membawa sejuta kehangatan dan keceriaan dalam hidupku.


Kini, tinggal lah aku sendiri di sini. Di tempat biasa kami duduk bersama. Di bangku taman kota yang selalu ramai oleh pengunjung. Aku tenggelam dalam kesunyian dan kesepian yang mencekam. Sekalipun sekekelilingku penuh dengan suara keceriaan muda-mudi pengunjung taman.

Aku menengadahkan pandanganku ke atas. Memandangi bintang-bintang terang yang selalu cerah dalam kegelapan. Aku menertawakan diriku sendiri lagi. Tidak ku sangka di usiaku yang sudah hampir tiga puluh tahun ini aku masih belum menikah.

Menyedihkan. Berbagai macam lamaran sudah ku tolak dan berbagai macam cacian juga sudah kuterima. Memang banyak yang bilang tubuhku masih bagus dan wajahku masih cantik. aku masih bisa menggunakannya jika aku memang menginginkan seorang pendamping hidup.

Tapi apalah dayaku, aku sudah terlanjur menjadi perawan tua. Perawan tua yang telah kehilangan bintang kehidupannya. Yang selalu berharap suatu saat nanti bintang itu akan kembali hadir.

Menemani dan menghangatkan dalam penantian panjang yang begitu melelahkan.
Aku kembali berjalan menyusuri taman ini. taman yang begitu akrab dengan masa mudaku. Masa muda yang memaksaku untuk terus mengingatnya dan juga memaksaku untuk terus menantinya.

Di taman ini lah aku dan Rayhan dulu sering bercengkrama. Kami memang tidak memiliki ikatan resmi. Tapi aku sangat bahagia bersamanya. Meski taka da kata cinta yang terucap diantara kami, tapi aku bisa mendengar kata cinta dari hati kami.

Itu-lah yang membuat ku tetap setia menantinya. Menunggunya kembali dalam segala ketidak pastian. Meski aku sadar resiko apa yang harus ku terima saat aku memutuskan untuk menantinya, tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkannya.

Sempat aku berpikir untuk melupakan semua kisah ini lalu keluar dalam lingkaran penantian yang melelahkan. Tapi, aku sama sekali tak kuasa.

Aku tidak akan pernah bisa bahagia bersama orang lain selama aku masih menyimpan harapan ini. Aku juga hanya akan menyakiti orang lain, karena sampai saat ini, kisah itu terus menghantui dan membayangiku.

Memaksaku untuk tetap tinggal, berputar-putar mengelilingi taman kecil kota, lalu kembali duduk di kursi yang sama. Kursi yang telah menjadi saksi bisu, betapa indahnya kisah cinta ku lima belas tahun yang lalu.

Ku lirik kembali jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukan pukul Sembilan malam. Tidak terasa sudah lebih dari tiga jam aku duduk dan berkeliling taman.

Dan kurasa sekarang sudah waktunya aku untuk pulang. Duduk dan berkeliling di taman memang hal yang selalu ku lakukan sendiri. Yah, benar-benar sendiri. Saat aku sudah selesai bekerja dan pulang dari kantor, hanya taman ini lah yang selalu ku tuju pertama kali.

Meski tidak setiap hari, tapi aku terlewat sering mengunjungi taman ini. karena hanya taman ini lah yang bisa memuaskanku akan sebuah kerinduan yang tak tertahankan. Hanya taman ini lah yang mampu membuatku merasa lebih hidup. Karena di taman ini, aku menaruh dan mempertaruhkan harapanku. Harapan yang selalu ku nanti, dan tak akan pernah ku lepaskan.

Saat aku berjalan hendak pulang, hujan tiba-tiba turun. Aku pun segera berlari menuju halte bus terdekat. Hari ini aku memang sengaja tidak membawa mobil. Karena belakangan ini wajah Rayhan sering muncul dalam mimpiku dan aku juga sering berhalusinasi tentang wajahnya.

Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padaku. Karena itu aku memutuskan untuk naik bus saja.

Halte bus tampak sudah begitu ramai dan sesak oleh orang-orang. Aku sudah tidak kebagian sedikitpun tempat untuk berteduh di sana. Alhasil, aku pun harus merelakan tubuhku terkena tetasan air hujan.

Saat aku sedang memandang ke sekitar, tiba-tiba saja hujan seperti berhenti. Aku sudah tidak merasakan tetesan air hujan lagi di tubuhku. Tapi aku melihat hujan di sekitarku masih terus tak berhenti.

Aku menengadahkan wajahku ke atas. Ku lihat ada sebuah payung yang menaungiku, bersama dengan wajah seorang pria yang begitu akrab dengan mataku. Wajahnya memang sudah berbeda, tapi sampai kapanpun aku tidak akan lupa dengan wajah itu.

Dia tersenyum ke arahku. Senyumannya tampak begitu manis. Memberi keteduhan dan juga kehangatan pada hati yang dingin. Ah, kurasa aku sedang berhalusi nasi lagi.

“Kamu apa kabar?” Tiba-tiba bayangan itu bersuara. Tidak biasanya bayangan halusinasiku bersuara seperti ini. tapi kali ini, bayangan itu tampak seperti nyata.

“Kok diem si?” Tangannya kini memegang bahuku. Memberikan sentuhan hangat. Lewat tangannya seolah ia berkata bahwa dia memang benar-benar ada dan nyata.

“Rayhan…” ucapku lirih. Dia hanya mengangguk sembari terus tersenyum ke arahku. Kini air mataku sama sekali sudah tak terbendung. Aku sudah tak kuasa lagi menahan air mata yang sedari tadi ingin menjebol pelupuk mataku. Dan kini air mataku sudah jatuh menuju bumi. Tertarik oleh gaya gravitasi yang begitu tinggi.

“Lisa, kok kamu nangis si? Ada apa?” wajahnya tampak sedikit panik. Senyum tak lagi mengambang di wajahnya kali ini. tapi, isakanku sama sekali tak mereda. Justru isakanku semakin keras dank eras.

Aku tau orang-orang di sekitarku sedang memandangi kami sekarang. Tapi apa peduli ku, bahkan aku masih belum yakin seratus persen apakah ini nyata atau bukan.

“Aduuh Lisa.. jangan nangis lagi si..” ucapnya panik. Dan kini dia segera membawaku menuju sebuah kafe terdekat dengan halte bus.

Sesampainya di kafe tangis ku masih belum reda. Aku sendiri tidak tau kenapa aku bisa menangis sedahsyat ini. tapi yang jelas, aku ingin menangis. Yah, hanya menangis, itu saja.

“Lisa kamu apa kabar? Kok kamu nangis gitu si?” Tanya nya saat dia sudah kembali duduk di hadapanku. Kini sudah ada dua cangkir kopi di hadapan kami. Aku tidak menjawabnya. Karena memang aku tidak sanggup. Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.

“Aduuuuh Lisa.. ini di minum dulu kopinya. Jangan nangis mulu dong.” Ucapnya lagi. Aku pun segera meraih kopi di hadapanku. Masih panas, tapi cocok dengan tanganku yang dingin.

Ku teguk kopi yang ada di dalam cangkir itu. terasa panas di mulut, dan begitu hangat saat masuk ke dalam tenggorokan. Tangisku kini mulai reda. Dan aku sekarang sadar. Yang dihadapanku ini memanglah Rayhan asli, bukan bayangannya.

“Kamu kenapa di sini?” Tanya ku berusaha bersikap tenang. Tapi aku tidak menatap ke wajahnya, karena memang aku tak punya banyak kekuatan untuk menatapnya.

“Buat kamu.” Jawabnya pelan. Jantungku berdesir halus mendengar ucapannya. Dia tidak mau membahas masalah tangisanku. Sepertinya dia tau kalau aku memang sangat merindukannya.
“Maksud kamu?”

“Aku ada di sini buat kamu. Buat Menuhin janjiku ke kamu. Dan juga buat mengakhiri penantian panjang kamu selama lima belas tahun.” Jawabnya serius.


“Aku emang udah lima belas tahun pergi dari kota ini. Tapi, setiap enam bulan sekali aku selalu pulang ke kota ini. Cuma buat ngeliat kondisi kamu. Dan saat aku lagi ngga ada di kota ini, aku minta temanku buat ngawasin kamu. 

Dan ternyata, kamu selalu ke taman setiap malem. Aku ngga tau kamu ngapain di taman. Tapi, aku yakin pasti kamu bakalan nunggu aku di taman. Dan sekarang, aku pengen mengakhiri penantian panjang kamu.” Ucapnya panjang lebar.

Dia memelukku pelan. Dan kini aku merasa begitu nyaman. Aku memang tak berucap, tapi hatiku sudah meledak-ledak bahagia. Akhirnya penantian lima belas tahunku bisa segera berakhir dengan datangnya sebuah harapan yang begitu menyilaukan.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top