Usaha Bangkrut dan Gagal, Apa yang Harus Aku Lakukan?

Cerpen Sederhana Motivasi Usaha - Begitu lulus SMA aku kehilangan ibuku. Sebelumnya aku sudah kehilangan ayahku saat aku masih duduk di bangku SMA. Aku tidak punya seorang kakak dan hanya memiliki satu adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP.


Lahir sebagai anak pertama membuat aku harus menghidupi satu adikku ini. Aku tak punya pilihan lain selain bekerja untuk menghidupinya. Aku tidak mungkin dengan egois memanfaatkan harta warisan orang tua ku untuk kuliah. Aku masih memiliki seorang adik yang harus kujaga.

Aku sangat sadar bahwa aku harus menyekolahkannya agar dia bisa hidup sejahtera dan keluar dari jurang kemiskinan.

Memang tidak banyak harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tuaku. Hanya satu petak tanah yang tidak terlalu besar dan juga sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Sebenarnya aku juga masih memiliki seorang paman yang bersedia menanggung biaya sekolah adikku.

Tapi aku tidak mungkin mau menerima tawarannya itu.  Aku sadar dia juga tidak berada dalam kondisi ekonomi yang baik. Terlebih dia juga masih memiliki dua orang anak yang duduk di bangku SD. Dia juga pasti membutuhkan banyak uang untuk menghidupi keluarganya sendiri.

Saat sedang dilanda kebingungan, aku mencoba untuk berbuat sebijak mungkin. Aku memutuskan untuk menjual setengah dari luas tanah yang ditinggalkan oleh ayahku. Tekadku sudah bulat. Aku aku akan membuka usaha ku sendiri. Tapi aku juga bingung karena tidak tau usaha apa yanga harus kutekuni.

“Mas, tanah peninggalan ayah mau dijual sama mas?” Tanya adikku yang kini sedang duduk bersama ku diruang keluarga.

“Iya dek. Tapi Cuma sebagian. Mamas mau buka usaha sendiri. Mamas ngga mau nggantungin hidup sama orang lain.”

“Terus mas mau buka usaha apa?”

“Ngga tau ini dek. Mas juga masih bingug.” Jawabku datar.

Suasana seketika menjadi hening. Aku bisa merasakan kerisauan dalam diri adikku. Dia seperti tidak rela aku membuang masa depan pendidikan ku hanya untuk menghidupinya. Tapi walau bagaimana pun tekad ku sudah bulat aku akan tetap membuka usaha sendiri.

Iseng-iseng aku membuka sebuah artikel usaha di internet. Lalu tanpa sengaja aku menemukan sebuah artikel menarik tentang nasi goring. Keuntungan dan kekuranganya tertulis lengakap disana.

Setelah membaca dan belajar banyak dari situs tersebut. Akhirnya aku pun berinisiatif untuk membuat usaha nasi goreng.

Dengan bermodalkan uang hasil penjualan tanah peninggalan ayahku, aku pun menyiapkan segala sesuatu yang ku perlukan untuk berjualan. Mulai dari gerobak, wajan, kompor, dan peralatan-peralatan lainnya. Sekitar dua minggu aku menyiapkan semuanya, akhirnya aku siap berdagang.

Aku memilih perempatan pasar sebagai tempat untuk mangkal. Aku yakin ini adalah tempat yang sangat strategis untuk nasi gorengku. Di hari pertama aku membuka usaha ini, belum banyak pengunjug yang mau membeli nasi gorengku.

Bisa ku maklumi karena memang usaha ku ini masih baru. Di hari kedua aku berdagang, masih belum banyak perubahan. Hanya ada beberapa orang saja yang mau membeli nasi goreng ku ini. Dan ku rasa mereka adalah orang asing yang memang tidak sengaja membeli nasi goreng ku ini.

Setelah sekitar satu bulan berjualan, perubahan juga masih tidak tampak. Semua masih berjalan seperti biasanya. Dalam semalam aku hanya bisa menjual lima sampai sepuluh piring saja.

Dan semangat ku mulai mengendur. Untung saja aku masih memiliki adik yang mau menyemangatiku. Aku mencari cara agar daganganku bisa laris. Dari pada menunggu pembeli, lebih baik aku menghampiri pembeli. Itu lah yang ada di pikiranku saat itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjualan keliling. Dan benar saja, hasilnya memang sedikit mulai nampak. Dalam semalam aku kini sudah bisa menjual sepuluh sampai dua puluh lima piring.

Tapi rasa lelah yang aku dapat kan juga semakin bertambah. Sesuai dengan penghasilanku. Hari demi hari terus kulalui dengan berjualan nasi goreng keliling. Semakin lama pembeli serasa semakin surut.

Yang tadinya aku bisa menjual dua puluh lima piring dalam semalam kini aku tak pernah bisa menjual lebih dari sepuluh piring dalam semalam. Mengenaskan. Perjuangan ku seoalah menjadi sia-sia.

Modal yang aku miliki juga semakin lama semakin terkuras. Terlebih adikku kini sudah beranjak SMA dan tentu aku membutuhkan lebih banyak uang untuk menghadapi ini semua.

Mala mini aku memutuskan untuk tidak berdagang karena memang aku tidak memiliki uang untuk membeli bahan-bahan dasar yang ku perlukan. Aku terduduk lemas di ruang tamu meratapi nasibku yang kacau ini.

“Mas ngga dagang?” tanya adikku sembari berjalan menuju kearahku.
“Engga de. Mas kehabisan modal.” Ucapku datar.

“Aduuh kok bisa si mas? Gara-gara uangnya buat bayar sekolah aku ya mas?”
“Husss. engga kok. Kamu jangan mikir kayak gitu.”


“Yaudah mas aku keluar sekolah aja ya, biar mas bisa serius sama usaha mas.” Ucapnya lagi. Kini matanya sudah mulai berkaca-kaca. Kasihan sekali aku melihatnya.

“Kamu ngga boleh ngomong gitu de. Kamu harus terus sekolah biar bisa jadi orang yang berguna. Urusan dapur dan biaya biar mas yang nanggung. Kamu fokus sekolah aja ya.” Ucapku sembari memegang pundaknya.

“Tapi mas…”

“Ngga ada tapi-tapian dek. Masih ada tanah setengah lagi yang bisa kita jual. Mas akan berusaha biar kita bisa terus hidup.” Ucapku padanya lagi.

Kini air matanya sudah mengalir membasahi pipi. Aku benar-benar tidak tega melihatnya.

“Kamu tenang aja ya. Semuanya akan baik-baik aja kok. Kamu fokus aja buat sekolah. Kamu harus jadi anak yang pinter biar mas ngga ngerasa kecewa udah berjuang buat kamu.” Ucapku lagi yang kini sudah memeluknya. Sesekali ku hapus air mata di pipinya.

Kejadian malam itu benar-benar sudah membuat ku terbakar. Aku tidak akan pernah membiarkan adikku menangis lagi. Dia adalah anak yang pandai disekolahnya. Dia selalu mendapatkan peringkat pertama saat pembagian rapot.

Dan aku tidak akan pernah membiarkan dia kehilangan impian dan cita-citanya. Mulai sekarang dia lah alasan untuk aku terus melanjutkan hidup. Dia masih butuh aku, dia masih butuh perjuangan ku. Aku rela membuang masa muda ku hanya untuknya.

Keesokan harinya tanah yang tersisa dari peninggalan ayahku pun kujual. Sudah tidak ada harta lagi yang aku punya selain rumah dan gerobak nasi goreng itu. Di sini aku benar-benar membuat keputusan final yang gila.

Aku memutuskan untuk membangun warung nasi goreng sendiri di depan rumahku. Karena kebetulan rumahku berada di pinggir jalan raya, aku yakin pasti warung ku ini akan bisa menarik banyak pengunjung.

Sekitar satu bulan pembuatan dan Persiapan warung, akhirnya aku siap berdagang. Dan selama satu bulan itu pula aku tidak memiliki penghasilan. Aku fokus untuk membuat nasi goreng yang enak.

Kebersihan dan cita rasa adalah dua hal yang sangat aku fokuskan kali ini. Di hari pertama, sudah ada beberapa pengunjung yang datang. Di hari kedua, jumlah pengunjung warung nasi goreng  ku semakin bertambah.

Dengan dibantu adikku, aku bisa melayani beberapa pengunjung yang ramai. Dan sekitar dua bulan aku berjualan, warung nasi goreng ku benar-benar sudah ramai.

Karena merasa belum sanggup membayar karyawan, aku hanya meminta bantuan adikku untuk berjualan. Sesekali uang yang kudapat dari berjualan ku gunakan untuk memperbaiki dan menambah cantik dekorasi warung agar pengunjung bisa merasa betah.

Sekitar enam bulan berjualan, akhirnya aku bisa mengembalikan modal dari tanah peninggalan ayahku.

Ini semua berkat adikku. Aku tau dia tak pernah lelah untuk mendoakanku. Disela-sela waktunya dia juga tak pernah lupa mengingatkanku untuk beribadah. Aku benar-benar bersyukur memiliki seorang adik seperti dia. Seorang adik yang begitu mencintai ku dan aku juga mencintainya.

Saat kau merasa lelah dan lemah karena selalu merasa gagal dalam usahamu, janganlah pernah menyerah. Liat lah sekelilingmu, masih banyak hal yang kau miliki. Jangan pernah hitung apa yang telah hilang darimu. Tapi hitunglah apa yang masih kau miliki dan jadikan itu semua sebagai kekuatanmu.

---oOo---

Back To Top