Ternak Puyuh, Gara-Gara Kelangkaan Pakan Akhirnya Aku Bangkrut

Cerpen Pengalaman Usaha Gagal - Cerita ini bermula saat aku baru saja menyelesaikan pendidikanku di tingkat SMA. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi. Tapi, kedua orang tua ku sama sekali tak punya cukup biaya.


Jadi, mau tak mau aku pun harus berhenti. Hanya saja, aku bertekad kalau suatu saat nanti aku harus bisa kuliah dan menjadi sarjanah. Karenanya aku pun berusaha untuk mencari uang sendiri. Bagaimana pun caranya aku harus bisa menacari uang sendiri karena aku sudah cukup besar dan tidak mungkin aku terus-terusan mengandalkan orang tuaku.

Semalaman aku berpikir keras mencari tau usaha apa yang cocok untukku. Usaha yang tidak memerlukan modal terlalu besar dan bisa di kerjakan oleh pemula. Aku sudah mencarinya di internet, jenis-jenis usaha apa yang cocok untukku.

Tapi, aku masih belum menemukannya. Aku juga sudah curhat kepada teman-temanku semasa SMA. Tapi belum juga kutemukan jalan keluar. Sampai akhirnya orang tua ku pun memberikan saran padaku. Mereka bilang sebaiknya aku mencoba usaha ternak puyuh saja.

Selain karena modalnya yang tidak terlalu besar, cara pengelolaannya pun terbilang mudah untuk pemula.

Keesokan harinya bersama ayahku, aku pun pergi ke rumah temannya. Temannya ini adalah orang yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia ternak puyuh. Disana aku mulai mengenal apa itu puyuh dan belajar bagaimanaa cara membudidayakannya. Memang tidak terlalu sulit.

Hanya saja butuh ketekunan dan ketelitian dalam membudidayakannya. Teman ayahku ini juga bilang jika kita bisa bertahan cukup lama di dunia ternak puyuh ini, hasil yang bisa kita peroleh tidak lah sedikit.

Teman ayahku ini sendiri sampai sekarang sudah memiliki omset mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya. Tentu saja ini membuatku semakin termotivasi untuk segera membudidayakannya.

Tak mau menunggu lama, aku pun segera memesan beberapa puluh ekor  puyuh untuk ku budidayakan sendiri. Dan tentu saja saat ini masih menggunakan orang tuaku. Tapi, aku berjanji jika usaha ini berjalan dengan lancar dan bisa bertahan, maka aku akan segera mengembalikan uangnya itu.

Sepulang dari rumah teman ayahku, aku segera membereskan kandang-kandang yang sebelumnya sudah aku siapkan. Tidak terlalu banyak kandang yang aku siapkan. Tapi, cukup besar untuk menampung beberapa puluh ekor puyuh di dalamnya. 

Entah kenapa semangatku meluap-luap saat ini. Aku begitu yakin dan sangat optimis dengan usaha puyuh ini. Semoga saja dengan usaha puyuh ini aku bisa mendapatkan uang banyak lalu bisa melanjutkan pendidikanku sendiri.

Setelah beberapa hari, puyuh-puyuhku pun tiba. Cukup banyak, ada sekitar delapan puluh ekor. Aku membeli setiap ekor burung puyuh ini dengan harga lima ribu rupiah. Jadi, untuk delapan puluh ekornya aku mengeluarkan uang sekitar empat ratus ribu rupiah.

Tidak terlalu banyak. Dan kurasa sudah cukup untuk seorang pemula seperti ku. Targetnya, jika usahaku ini lancar, aku akan membudidayakan sampai seribu ekor. Tentu saja supaya omsetnya juga semakin banyak.

Di awal-awal usaha ternak puyuhku ini, semuanya berjalan lancar. Setiap hari aku selalu rajin dan tekun merawat puyuh-puyuh ini. Sebagai balasannya, puyuh-puyuhku ini juga rutin memberikan aku telur.

Aku bisa mendapatkan sekitar empat puluh sampai lima puluh butir telur setiap harinya. Dan setiap butir telur aku jual dengan harga lima ratus rupiah. Jadi, sehari aku bisa mendapatkan uang sekitar dua puluh ribu rupiah.

Tidak terlalu banyak memang, tapi jika berjalan terus menerus dan bisa bertahan, tentu saja usaha ternak puyuhku ini akan semakin membesar. Dan tidak mungkin jika aku bisa menjadi pengusaha ternak puyuh sukses di usia ku yang terbilang masih sangat muda.

Sekitar dua bulan aku menggeluti usaha ku ini, aku sudah bisa mengembalikan modal usaha dari ayahku. Aku juga kini sudah bisa merasakan hasil dari usaha ternak puyuhku ini. Tak mau menunggu lama-lama aku pun segera membeli beberapa puluh ekor puyuh lagi.

Tentu saja harapannya agar usaha ku ini bisa lebih cepat berkembang dan aku bisa segera menabung untuk masa depanku.

Setelah beberapa hari memesan pada teman ayahku, akhirnya puyuh-puyuh pesananku pun datang. Kali ini aku kembali memesan puyuh dalam jumlah yang sama. Yakni delapan puluh ekor.

Kandang baru juga telah aku siapkan untuk menampung puyuh-puyuh baru ku ini. Aku menaruh harapan besar pada ternak puyuhku ini. Karena memang hanya puyuh-puyuhku ini lah satu-satunya harapanku sekarang.

Benar saja, hanya dalam waktu beberapa minggu omsetku telah naik. Kini aku bisa mendapatkan uang sekitar lima puluh ribu rupiah setiap harinya. Artinya, aku bisa mendapatkan uang sekitar satu juta lima ratus ribu rupiah setiap bulannya. Terhitung hasil yang cukup besar, dibandingkan dengan omsetku sebelumnya.

Bertambahnya jumlah puyuh berarti bertambah juga jumlah pakan yang harus ku berikan. Tentu saja ini menjadi salah satu kendala dalam usaha ternak ku. Entah apa yang terjadi tiba-tiba saja aku sekarang merasa kesulitan mencari pakan untuk puyuh-puyuhku.

Sebelumnya aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Bahkan harga pakannya pun terhitung murah. Tapi sekarang, semuanya benar-benar berbeda. Aku benar-benar merasa kesulitan mencari pakan.

Dan setelah aku menemukan pakannya, harganya pun terhitung mahal. Ini menjengkelkan. Jika terus-terusan seperti ini bisa-bisa keuntungan yang kuperoleh sangat tidak sebanding dengan modal yang telah ku keluarkan.

Semakin hari kelangkaan pakan semakin menyulitkanku. Seperti badai, kelangkaan pakan ini telah menggoyahkan usaha ternakku yang mulai berdiri. Satu persatu puyuhku pun mati karena kelangkaan pakan.

Telur-telur yang diperoleh pun benar-benar sedikit. Aku benar-benar frustasi dan akhirnya aku memutuskan untuk menjual beberapa puluh ekor burung puyuhku yang tersisa. Dan tentu saja aku akan menggunakan uang hasil penjualannya untuk mencoba usaha yang lain. Karena bagaimanapun aku harus bisa sukses dan kemudian melanjutkan pendidikan dengan uang ku sendiri.

---oOo---

Back To Top