Teguran Itu Cahaya Masa Depan

Cerpen Motivasi dan Religi - Pagi ini aku bangun kesiangan lagi. Entah sudah berapa kali aku bangun kesiangan. Tapi, aku seperti tidak kenal lelah bangun siang. Sebenarnya aku sudah sangat bosan dengan teguran-teguran yang selalu guru BK lontarkan padaku. `


Karena bangun  sering bangun kesiangan aku selalu saja datang ke sekolah terlambat. Segala macam hukuman dan juga teguran sudah aku rasakan. Tapi sama sekali tidak membuatku jera.

Entah apa yang sudah membuatku bangun kesiangan. Aku selalu memasang alarm tapi suara alarm tak pernah bisa membangunkanku. Ibuku selalu pergi di pagi hari, dan dia tidak pernah sempat membangunkanku. Ini lah aku yang sekarang. Bangun saat matahari sudah terik dan dengan buru-buru langsung berlari ke arah kamar mandi.

Setelah selesai mandi aku langsung memakai seragam sekolahku. Memikul tas merah dipunggung dan segera memakaikan sepatu dikakiku. Kuambil sepedah kecilku dan segera ku kayuh menuju sekolah.

Beruntung, masih ada Andini yang  juga sepertinya bangun kesiangan. Dia membuatku memiliki teman dijalan. Dan juga membuatku tak sendiri saat dimarahi guru BK nanti.

“Eh Reni, Kamu belum berangkat juga?”  tanya Andini saat menyadariku bersepedah dibelakang nya.

“Iya ini, aku bangun kesiangan. Kamu bangun kesiangan juga?” Ujarku padanya. Dia hanya mengangguk sembari tersenyum.

Dia nampak bahagia karena dia memiliki teman yang juga terlambat. Dan dari sorot matanya aku bisa merasakan sesuatu. Mimik wajahnya berubah. Dengan senyum yang masih mengambang diwajahnya, dia memberikan isyarat untuk balapan.

Dengan mata yang berbinar penuh semangat dia tiba-tiba langsung menggoes sepedahnya kencang. Sontak itu semua berhasil membangkitkan semangatku. Aku pun segera mengayuh sepedaku kencang. Berusaha mengejarnya yang sudah berada jauh didepanku. Balapan sepeda dipagi hari pun tak terhindarkan.

Dengan penuh kegembiraana aku terus mengayuh sepedaku. Sesekali aku berhasil mendahuluinya, tapi dia segera mendahuluiku lagi. Seperti it uterus sampai akhirnya kami tiba disekolah.

Aku benar-benar bahagia memiliki sahabat seperti Andini. Tapi rasa bahagia ku seketika hilang saat aku dan Andini menaruh sepedaku diparkiran. Kulihat pak Harfan sudah berdiri didepan gerbang. Siap menanti siswa-siswa malas yang datang terlambat.

Pak Harfan adalah guru BK yang terkenal dengan kesangaran dan kekejamannya. Dia pasti akan segera menegurku dan segera memarahiku.

“Aduuh, kalian berdua lagi… kalian berdua lagi…” Ucap Pak Harfan mengeluh saat aku dan Andini sudah berjalan kearahnya.

“Kalian ini ngga pernah capek ya. Apa kalian ini ngga bosen datang terlambat? Apa kalian ngga bosen ditegur terus sama bapak?” Ucap pak Harfan lagi. Kini aku dan Andini sudah berada didepannya. Menundukan wajah dan bersiap menjalani hukuman dari pak Harfan.

“Ya sudah, kalian sekarang boleh milih. Kalian mau milih hukuman apa? Nyapu taman? Ngepel WC atau hormat dibawah tiang bendera sampai jam istirahat?” ucap pak Harfan kesal.

Mimik wajahnya benar-benar menunjukan kemarahannya yang sudah memuncak ke ubun-ubun. Sedangkan aku dan Andini hanya bisa terdiam. Menjawab pak Harfan yang berceloteh sama saja dengan bunuh diri. Aku sudah cukup paham dengan sifatnya. Dia paling tidak suka jika ada murid yang menjawab saat sedang dimarahi begini.

“Haduuuuh.. malah diem lagi. Yaudah sekarang kalian berdua ambil alat pel digudang. Terus kalian berangkat ke WC dan pel itu WC sampai bersih.” Ucap pak Harfan kesal.

Lalu dia segera berlalu meninggalkan aku dan Andini. Sementara aku dan Andini segera berlari menuju gudang untuk mengambil alat pel. Bagiku hal seperti ini sudahlah sangat biasa.

Selama sebulan ini aku lebih mirip seperti buruh sekolah jika dibandingkan dengan siswa sekolah. Setiap pagi aku selalu membersihkan sekolah. Entah itu menyapu halaman. Membersihkan taman. Menyirami bunga. Atau mengepel WC seperti ini. dan tentu saja ini membuatku jengkel.

“Aduh.. kok nasip kita tiap hari kayak begini ya din.” Keluhku kesal. Andini hanya tertawa mendengar keluhanku dan terus melanjutkan kegiatan mengepelnya. Sementara aku segera menaruh alat pel dan kemudian menyandarkan tubuhku di tembok.

“Aku capek gini terus din. Aku bosen ditegur mulu. Apa aku keluar sekolah aja ya? Kayaknya udah ngga bisa aku sekolah lagi kayak gini.” Ucap ku pada Andini.

Mendengar ucapanku dia langsung menoleh kearahku. Ditaruhnya alat pel yang sedari tadi lekat ditangannya. Dan disandarkannya tubuh mungilnya tepat pada tembok disampingku.

“Husss.. jangan ngomong gitu.” Ucapnya padaku. Tapi dia tidak menoleh kearahku. Matanya menatap lekat kearah kloset yang sudah bersih. Dan mataku juga menatap lekat kearah itu.

Kloset itu benar-benar bersih sekarang. Sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu saat aku belum sering bangun kesiangan. Mungkin karena terus-terusan kubersihkan jadinya kloset itu bisa sebersih sekarang.

“Kita ngga boleh marah ataupun kecewa kalau ditegor. Pak Harfan itu marah sama kita karena dia sayang. Kita harusnya seneng kalau masih ada orang yang mau negor kita kalo kita salah.

Coba bayangin kalo tiba-tiba ngga ada lagi orang yang negor kita pas kita terlambat? Ngga ada lagi orang yang marahin kita kalo kita terlambat?” ucapnya panjang. Tapi dia sama sekali tidak menoleh kearahku. Aku berusaha menatapnya lekat. Berusaha mentelaah kembali kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Teguran itu cahaya masa depan. Sekarang aku paham. Dengan teguran, kita bakal jadi orang yang jauh lebih baik. Dengan teguran kita juga akan bisa jadi lebih disiplin.

Jadi ngga perlu marah ataupun kecewa kalo kita ditegur. Ucap Andini lagi. Kali ini dia menatap wajahku lekat. Seperti berusaha menyampaikan apa yang ada didalam isi kepalanya.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dan perlahan-lahan otakku mulai sadar. Memang benar apa yang sudah dikatakannya. Aku sama sekali tidak boleh marah atau kecewa kalau aku ditegur.

Teguran adalah cahaya masa depan. Dengan teguran aku akan jadi lebih disiplin. Dengan teguran aku akan jadi sopan. Dan dengan teguran juga, aku akan jadi lebih baik dari sebelumnya.

“Iya setuju. Yaudah deh ayok ngepel lagi. Buruan selesein terus kita kekelas. Besok aku janji aku ngga bakal telat lagi.” Ucapku penuh semangat. Lalu kuraih alat pel yang tadi sudah ku letakkan. Kini aku benar-benar bergairah membersihkan WC.

“Janji sama siapa?” ucap Andini menyelidik.
“Sama diri sendiri.” Jawabku sembari tersenyum lebar. Dan Andini pun tersenyum lebar.

Aku bisa merasakan kegembiraan yang merambat kedalam tubuhnya. Karena aku juga merasakannya. Aku benar-benar besyukur memiliki sahabat seperti Andini. Aku juga sangat bersyukur punya guru seperti pak Harfan.

Dia sama sekali tak pernah lelah menegurku. Dan dia juga tak pernah memberikan cahaya masa depan untukku.

---oOo---

Back To Top