Setengah Tahun, Kesepian

Hari ini tepat bulan ke lima aku sendiri. Yah, aku benar-benar sendiri. Saat aku masih berusia dua belas tahun ayahku pergi meninggalkanku dan ibuku. Penyakit leukemia yang dideritanya memaksanya pergi lebih dahulu meninggalkan kami.


Saat itu aku masih cukup kuat karena disampingku ada ibu yang menemani. Dia memang orang yang paling terpukul atas penyakit yang merenggut nyawa ayahku. tapi dia selalu menggenggam tanganku dan berusaha menguatkan aku.

Dalam genggamannya seolah dia berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia sebisa meungkin berusaha untuk menguatkan dan juga menghiburku. Sedih memang, ibuku menghiburku saat seharusnya aku menghiburnya.

Dan lima bulan yang lalu. Yah, lima bulan yang lalu. Ibuku meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Dia meninggal dengan cukup tragis. Mobil ditabrak oleh mobil lainnya dan mobil yang menabraknya itu pergi meninggalkan ibu ku yang sudah sekarat.

Masyarakat yang melihat kejadian itu sudah berusaha menolongnya. Tapi, sesampainya dirumah sakit nyawa ibuku sudah tidak dapat tertolong lagi.
Aku benar-benar sendiri sekarang. Aku adalah anak tunggal dan aku tidak punya orang tua.

Saat ibuku meninggal aku baru saja merayakan kelulusan SMA. Dan sekarang aku sudah kuliah semester satu disalah satu Universitas ternama didaerahku. Beruntung ayah dan ibuku menyisakan beberapa harta yang bisa kugunakan untuk hidup.

Tidak, tidak hanya untuk hidup tapi juga untuk meneruskan pendidikanku dan mungkin juga untuk membangun masa depanku. Tapi, walau bagaimana pun kepergian mereka tetap saja meninggalkan luka yang begitu mendalam dalam hati dan benakku.

Selama lima bulan terakhir aku benar-benar merasakan sepi yang tak tertahankan. Aku selalu menangis sendirian dikamar jika mengingat nasibku. Aku sama sekali tak punya lawan bicara dirumah. Dan dikampus, aku juga tak memiliki banyak teman.

Sungguh pedih nasibku ini. Hidup sendiri dan sama sekali taka da yang peduli. Kali ini benar-benar sudah tak ada lagi yang menguatkanku. Saat ayahku pergi, ibuku selalu ada disisiku. Dan kini, aku hanya sendiri. Menahan sakitnya derita kehidupan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Semuanya kuhapi sendiri dalam sepi.

***

Air mataku kembali menetes. Jatuh membasahi gundukan tanah yang masih tampak baru. Kucabuti beberapa rumput yang mulai liar diatas gundukan tanah itu. Dan sesekali kutaburkan beberapa bunga diatasnya.

Gundukan tanah yang disebelahnya pun tak luput dari perawatanku. Sebisa mungkin kubersihkan gundukan tanah itu, sampai tak lagi menyisakan satu pun rumput liar.

Setelah selesai membersihkan kedua gundukan tanah itu, aku segera membacakan ayat-ayat Tuhan. Berharap dengan bacaanku ini, mereka berdua akan semakin tenang di alam yang lain.

Saat aku berbalik dan beranjak untuk segera pulang, kudapati ada sosok pria yang juga menangis sepertiku. Mungkin dia menangisi kedua orang tuanya. Atau dia menangisi orang lain, aku tidak tau. Tapi yang jelas dimatanya aku bisa melihat kesedihan yang begitu dalam.

Saat sedang memandanginya, tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Aku pun langsung menundukan wajahku dan segera berlalu meninggalkannya. Saat hendak masuk kedalam mobilku, tiba-tiba langkahku terhenti.

Ada seserang yang memegang lenganku. Seolah ingin menangkapku dan membawaku ikut serta bersama. Aku menoleh kearahnya. Dan kudapati wajah seorang pria yang tadi menangis. Tapi, kini raut sedih diwajahnya sudah menghilang.

Dia tersenyum manis kearahku. Aku tidak tau apa maksudnya. Hanya mengerutkan dahilah yang bisa kulakukan sekarang.

“Renita kan? Anak sastra?” Ucap pria itu tanpa melepas cekalannya pada tanganku. Aku hanya bisa terdiam melihat tingkahnya. Kenapa dia tau aku? Ku rasa aku tidak cukup terkenal dan aku juga tidak mengenalinya.

“Ah.. Ee.. aku Rayhan anak sastra juga. Tapi kita beda kelas. Mungkin kamu ngga kenal sama aku.” Ucapnya kikuk. Dia melepaskan cekalan tangannya dilenganku, lalu dia segera menyodorkan tangannya pertanda mengajakku berkenalan.

“Oh, iya.. iya.. ada perlu apa ya sama aku?” ucapku sembari menyambut sodoran tangannya.

“Ee.. gini, aku boleh nebeng engga? Tadi mobilku masuk bengkel pas aku mau nyampe sini.” Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya.

Wajahnya memang sama sekali tidak menunjukan bahwa dia orang jahat. Tapi, tetap saja aku berfikiran negatif. Tidak semua orang yang berwajah baik itu benar-benar orang baik. Semua pelaku korupsi juga berwajah baik.

“Tenang aja, aku bukan orang jahat kok. Rumahku ngga jauh juga dari rumah kamu.” Ucapnya lagi sembari menyodorkan KTP padaku. Sepertinya dia memang benar-benar butuh pertolongan ku sekarang.

“Em… yaudah deh iya.” Akhirnya aku bersedia membantunya. Aku tetap tersenyum saat menyerahkan kunci kontak mobilku padanya. Dan aku juga menerima KTP yang dia tadi sodorkan kupandangi wajah yang ada dalam KTP itu. Dan ternyata, dia memang benar-benar tampan.

***

Sekitar tiga puluh menit aku berada dalam satu mobil dengannya, akhirnya kini kami tiba didepan rumahnya. Dan benar saja, rumahnya memang terletak tidak jauh dari rumahku.

Selama dalam perjalanan ada banyak hal yang kami bincangkan. Mulai dari kegiatan kampus, sampai nyerempet-nyerempet ke dunia politik. Sesaat sebelum kami sampai dirumahnya, aku sempat menanyakan makam siapa yang ia kunjungi.

Dan ternyata, itu adalah makam mantan kekasihnya. Sepertinya dia sangat mencintai kekasihnya. Dan mungkin, dia sekarang sedang kesulitan untuk move on. Tapi, ada yang aneh saat aku mendengar ceritanya.

Dia bilang kekasihnya meninggal lima bulan yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil. Sama persis dengan nasib ibuku. Tapi, kenapa bisa sama? Apa ini hanya kebetulan? Atau, memang keduanya berhubungan?.

“Udah sampe, mau mampir dulu engga?” Ucapnya saat turun dari mobilku.
“Ah lain kali aja deh. Lagi ada kerjaan dirumah.” Aku tersenyum sembari memberikan penolakan halus padanya.

“Oh, yaudah. Makasih ya udah mau ngasih tebengan. Kamu ati-ati dijalan.” Ucapnya sembari tersenyum dan memberikan lambaian tangan. Aku juga hanya tersenyum sembari membalas lambaian tangannya dari balik kaca mobilku.

Aku senang ada yang mengenaliku meski aku tak mengenalnya. Terlebih, dia juga orang yang tampan. Saat duduk dan bicara dengannya aku juga merasa nyaman. Dan tak bisa kupungkiri, mungkin aku mulai menyimpan harapan.

***

“Deert..dert…dert..” ponselku bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Membuayarkan lamunanku dimalam yang sepi. Ku buka layar ponselku dan kudapati nama Rayhan disana.

Pesannya berisi perintah untuk keluar rumah karena Rayhan sudah berada didepan rumahku sekarang. Aku memang sudah cukup dekat dengannya selama sebulan ini.

Semenjak pertemuan itu, kami sering makan bersama dan juga nonton bersama. Tak bisa kupungkiri, sepertinya aku mulai benar-benar  merasa nyaman dengannya.

“Udah dari tadi ya?” Tanyaku saat aku berjalan kearahnya. Dia masih tampak tersenyum kearahku. Sepertinya dia juga merasakan apa yang kurasakan.

“Engga kok barusan aja.”
“Em.. mau makan dimana?”

“Udah deh, ikut aja. Aku yang atur.” Ucapnya masih dengan senyum yang manis. Aku pun hanya menurut padanya. Aku segera masuk kedalam mobilnya dan dalam sekejap kami sudah berjalan meninggalkan rumahku.

Saat dalam perjalanan, aku sedikit khawatir karena dia membawaku ke atas bukit. Aku tidak tau apa yang ingin dilakukannya. Tapi, sesampainya diatas bukit aku langsung tersenyum puas.

Tidak kusangka dia akan membawa ku ke tempat seromantis ini. Aku duduk bersama dengan Rayhan dengan ditemani satu buah lilin diatas meja. Di atas meja juga ada beberapap makanan yang siap kami santap.

Tapi, sedari tadi aku dan Rayhan sibuk bercerita. Nampak jelas bahwa masing-masing dari kami sedang merasakan kebahagiaan yang sama. Keberadaanya, benar-benar sukses menghapuskan rasa kesepian dalam diriku.

Kesepian yang sudah kurasakan selama setengah tahun ini, telah hilang dengan keberadaanya disisiku. Aku berharap, dia juga akan menemaniku dihari-hariku berikutnya.

---oOo---

Back To Top