Segudang Rindu yang Membusuk

Cerpen Cinta Sedih tentang Rindu - Ku balikkan lagi tubuh ku kearah samping. Entah sudah berapa kali ku bolak balik bantal ini. Entah sudah berapa kali aku membalikkan badan. Aku sudah mengulang doa tidur sebanyak sepuluh kali. Tapi, aku tak kunjung terlelap.


Mataku ini tak kunjung terpejam. Mimpi indah tak kunjung menjemputku masuk kedalam dunianya. Entah kenapa malam ini aku merasa aneh. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Eh sebentar, jangan lupa baca ini juga ya!

1) Kisah secuil cupcake
2) Cinta diantara dua sahabat
3) Pahitnya menyatakan cinta
4) 100 sms cinta dari kekasih
5) Cinta sebatas tatapan mata

Bayangannya terus terngiang-ngiang dalam benakku. Wajahnya melekat kuat di benakku. Dan senyumnya terus mengawang di dalam anganku. Mungkin ini yang sering disebut oleh orang-orang dengan kata “rindu”.

Perasaan gelisah yang sangat kuat dan keinginan yang begitu dalam untuk bertemu. Tapi kenapa aku merindukannya. Dia bukan lah siapa-siapa ku. Aku hany berteman dengannya, tidak lebih. Bahkan kami tidak bisa disebut sebagai sahabat.

Selama ini aku selalu cuek dan acuh padanya, tapi kenapa sekarang aku ingin sekali bertemu dengannya. Oh Tuhan.. aku benar-benar tersiksa dengan perasaan ini.

Seandainya saja dia tinggal di sebelah rumahku, sudah pasti aku akan segera menuju rumahnya dan menggedor rumahnya. Seandainya saja dia sekarang berada di sisiku.

Pasti akan ku peluk erat dirinya, dan sampai kapanpun tak akan pernah ku lepaskan.
Ku lirik jam beker diatas meja. Jarumnya sudah menunjukan pukul 00:30 . Sudah lewat tengah malam.

Tanpa terasa sudah lebih dari 3 jam aku hanya berlarut-larut memikirkan dirinya. Tapi sampai kapan aku akan terus seperti ini. Apa hal ini akan terjadi di setiap malamku.

Kenapa perasaanku jadi seperti ini. Ada rasa bersalah dalam diriku. Ada rasa menyesal di jiwa ku. Dan juga da perasaan ingin bertemu. Yah, aku sangat ingin bertemu dengannya.

Ku raih handphone ku. Aku mencoba mencari namanya dalam list kontak handphoneku. Dan aku menemukannya. Tertulis jelas dilayar handphone ku kontak dengan nama Andre.

Seorang pria jail yang menyenangkan. Seorang pria yang dulu selalu ku cueki dan tak pernah ku pedulikan. Dan sekarang menjadi seorang pria yang amat sangat aku rindukan. Batinku benar-benar terasa tersiksa malm ini.

Ku tekan tombol hijau di handphoneku. Belum sempat panggilanku itu terhubung, sudah ku tekan lagi tombol merah untuk mengakhirinya. Aku benar-benar gugup. Apa yang harus aku katakana jika dia mengangkat telponnya nanti.

Aku tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menghubunginya. Haruskah aku berkata jujur kalau aku sangat merindukannya. Tapi, bagaimana jadinya jika teman-temanku tau.

Selama ini yang mereka tau aku tidak peduli dan sangat acuh pada Andre. Saat dia menggoda dan meledeki ku, aku selalu tidak mempedulikannya. Tapi kini, dia sudah pergi jauh.

Aku benar-benar merindukannya. Tawanya, senyumnya, tingkahnya, aku merindukan semuanya dari dirinya. Oh Tuhan…. Tolong bantu lah aku untuk bertemu dengannya.

Jika ada kesempatan kedua untuk bertemu dengannya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Akan ku pedulikan dia. Akan ku berikan perhatianku untuknya. Dan aku akan berusaha untuk menanggapi segala ucapannya.

Ketika gugup bukannya menelpon Andre, justru aku palah menelpon Risa sahabatku. Yah, aku bingung sekali kepada siapa aku harus bercerita.

Aku tidak punya banyak teman. Terlebih tidak banyak orang yang bisa aku percaya, hanya ada beberapa saja orang-orang yang bisa ku percaya dan mereka adalah orang-orang yang benar-benar dekat denganku.

“Halo… ada apa si mel malem-malem gini nelpon. Ganggu orang tidur aja.” Suara Risa terdengar dari ujung sana. Dari suaranya aku tau kalau dia masih mengantuk.

“Hehe… aku kangen ris.” Ucapku cengengesan.
“Kangen siapa? Kangen gue? Ya besok kan kita mu geh mel.” Ucapnya lagi.
“Bukan ris.”

“Terus?”

“Gue kangen… gue kangen Andre ris.” Ucap ku sedikit gugup.


“What?! Andre?” Ucap Risa kaget. Sepertinya dia sudah menghilangkan kantuknya gara-gara mendengar kata Andre.

“Lo serius mel?! Bukannya lo selama ini ngga peduli sama dia? Kenapa lo tiba-tiba kangen sama dia?” Tanya nya lagi.

“Ngga tau ris. Gue juga bingung. Malem ini gue ngga bisa tidur Cuma gara-gara mikirin dia. Duh gimana dong ris.” Rengekku pada Risa.

“Tunggu…tunggu… Lo ngerasa kehilangan?” ucap Risa menebak-nebak.
“Kehilangan? Kenapa? Kenapa gue harus ngerasa kehilangan?” ucapku membantah tebakannya. “Lo cinta sama dia?” ucap Risa berusaha menebak lagi.

Jantung ku langsung tersentak mendengar ucapannya. Cinta… apa benar aku jatuh cinta dengan Andre. Tapi kenapa baru sekarang perasaan itu terasa. Kenapa perasaan ini terasa  saat Andre sudah tidak ada disini. Apa ini hukuman? Apa ini karma? Andre.. maafkan aku.

“Kok lo diem si mel?” ucap Risa mengagetkan ku.
“Ah..eh…eng..engga kok engga papa.” Ucapku gugup.
“Lo beneran cinta sama Andre?” ucap Risa lagi.
“Aduuuh ngga tau deh Ris, pusing gue.”


“Hiiis dasar. Yaudah deh besok dikampus aja lo cerita lagi. Gue mau tidur dulu ngantuk. Tut… tut… tut…” ucap Risa langsung mematikan telponnya. Sialan umpatku dalam hati. Risa benar-benar menelfon tutupnya tanpa basa-basi.

Tapi setidaknya aku merasa sedikit lega setelah bercerita kepada Risa. Setidaknya sekarang aku bisa lebih tenang untuk tidur. Meskipun gelisah kerinduan ini masih sangat terasa.

Meskipun besok aku tidak mungkin bisa bertemu dengannya. Aku akan terus menyimpan kerinduan ini. Bahkan sampai kerinduan ini membusuk, aku akan tetap memeluknya. Karena aku mencintainya.. ups.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top