Salah Jurusan Kuliah

Cerpen Pendidikan tentang Anak Kuliah - Menentukan jurusan kuliah adalah salah satu masalah yang sulit dan harus dihadapi setiap siswa SMA yang akan segera lulus. Termasuk diriku. Aku tidak begitu tau tentang jurusan apa yang ingin ku ambil. Sepertinya aku hanya akan ikut saja dengan perintah orang tuaku.


Memang rasanya akan sulit. Tapi ini juga karena kesalahanku. Diumurku yang sudah hampir menginjak 17 tahun aku tidak benar-benar tau apa passion ku sebenarnya. Dan ini lah yang saat ini menjadi boomerang bagi diriku sendiri.

Satu tahun yang lalu, ayahku menyuruhku untuk mengambil jurusan hukum. Beliau berharap aku akan menjadi seseorang yang berguna untuk negara. Kalaupun tidak bisa, setidaknya aku harus bisa berguna untuk orang lain dengan cara menyelesaikan masalah-masalah mereka.

Diawal-awal masa perkuliahan semuanya masih tampak biasa saja. Aku menjalaninya dengan penuh semangat dan antusias. Layaknya anak SMA yang baru masuk sekolah, aku juga sudah bisa mendapatkan banyak teman. Memang beberapa senior yang sok berkuasa terasa begitu menjijikan, tapi itu semua tidaklah begitu bermasalah bagiku.

Aku masih memiliki banyak teman yang siap membantu ku kala aku dalam kesulitan.
Di masa pertengahan semester, aku mulai tergoda dan melirik berebagai macam event yang ada dikampus.

Yang paling kuminati kala itu adalah event lomba menulis karya ilmiah. Dengan senang hati aku pun mengikuti lomba itu. Pemikiranku yang kritis menantangku untuk kembali menemukan sesuatu yang baru lalu menyampaikan pemikiranku lewat sebuah karya ilmiah.

Aku benar-benar bernafsu pada event itu. Dan beruntung, saat itu aku berhasil mendapatkan juara. Setelah itu, event-event menulis yang lain pun semakin banyak yang bermunculan. Mulai dari menulis puisi, menulis, cerpen, dan lain sebagainya.

Dengan penuh antusiasme dan semangat aku kembali mengikuti berbagai macam lomba menulis itu. Dan tak jarang aku kembali memenangkan lomba menulis tersebut.

Karena terlalu antusias terhadap berbagai event menulis, tak jarang beberapa tugas kuliahku menjadi terbengkalai. Dan ini lah yang menjadi masalah besar untukku. Aku merasa kalau diriku sudah salah jurusan.

Minatku terhadap dunia hokum sirna begitu saja kala aku bertemu dengan dunia menulis. Aku mabuk dengan berbagai macam susunan kalimat yang terlihat begitu indah dimata. Aku terlena dalam buaian indahnya dunia sastra. Dunia tulis menulis menjadi hal yang sangat menggebu-gebu dalam hidupku.

Aku menjadi begitu bersemangat dalam dunia ini. Dan karena hal ini lah tugas-tugas kuliahku menjadi terbengkalai. Aku jadi tidak fokus di dalam kelas. Saat dosen sedang mengajar, pikiranku melambung jauh pada dunia yang tidak kuhinggapi sekarang.

Aku merasa ada dunia lain yang jauh lebih layak untukku. Aku merasa dunia hokum bukanlah duniaku. Dan aku sudah salah jurusan.

Saat itu aku sudah merasa begitu bimbang dengan jurusan yang aku ambil ini. Kebimbangan semakin bertambah kala ada orang-orang yang menawarkan freelance menulis konten padaku. Tak hanya itu mereka juga menawariku untuk menjadi seorang copywriter mereka menjanjikan honor yang lumayan. Dan saat itu lah mentalku benar-benar terasa kacau.

Pikiranku untuk keluar dan kembali kepada jalur yang benar semakin besar. Aku merasa seperti sudah salah naik bus. Aku merasa bus ini tidak akan membawa ku ketempat yang ku inginkan.

Tapi,  jika aku turun dari bus ini. akan terasa sangat sayang waktu yang sudah ku luangkan. Akan terasa sangat sayang juga biaya yang sudah ku keluarkan.  Tidak seharusnya aku membuang waktu dan biaya ku begitu saja.

Terlebih bagaimana jadinya perasaan orang tua ku jika aku keluar. Mereka pasti akan sangat kecewa padaku. Aku lah satu-satunya harapan mereka. Aku sangat menyayangi mereka dan tak mungkin mengecewakan mereka.

Lalu bagaimana dengan masa depanku? Haruskah aku mengorbankan masa depanku demi kebahagiaan orang tuaku? Haruskah aku tetap duduk di bus yang sudah jelas tidak akan membawaku pada tempat yang ku inginkan?

Pikiranku benar-benar kacau. Berkecambuk dalam sempitnya relung otakku. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan disaat-saat seperti ini. Yang harus kulakukan  hanya lah berbagi cerita pada Andi-teman satu kampusku.

Biasanya dia selalu punya ide dan saran yang berguna untukku. Setidaknya kata-katanya akan bisa memotivasiku. Membuka setiap lubang-lubang diotakku. Membuat darah bisa masuk kedalamnya dan segera aku bisa berfikir normal.

Dia selalu punya ide yang tidak biasa. Mendobrak, unik, dan selalu segar. Yaah, aku harus menemuinya dan meminta sarannya.

Malam itu, aku menghubunginya dan memintanya untuk menemuiku disebuah kafe di kawasan bintaro. Aku sudah tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Aku seperti dihadapkan diantara pilihan hidup dan mati. Hidup dengan sejuta beban. Atau mati dengan membawa miliaran dosa.

Cukup lama aku menunggu, akhirnya dia tiba juga disebuah tempat yang aku janjikan.

“Ada apaan lo ngajakin gue ketemu dikafe gini? Emang ada sesuatu yang penting banget ya?” Tanya nya yang kini sudah duduk dihadapanku.
“Gue bingung banget ini ndi. Gue butuh bantuan lo.”
“Iya emang masalah lo itu apa?”

“Salah jurusan.” Ucapku singkat. Dia terdiam sembari memandangiku. Dari tatapannya aku tau kalau dia juga berfikir bahwa ini adalah masalah yang berat dan sulit.

“Lo yakin udah salah jurusan?” tanya nya. Aku hanya mengangguk pelan. menandakan bahwa apa yang sudah dikatakannya itu benar.

“Emang menurut lo jurusan yang bener buat lo itu apa?” Tanyanya lagi.
“Sastra.” Jawabku singkat. Dia hanya terdiam. Lalu dia mengambil gelas berisi cappuccino didepannya.


“Gue ngerasa dunia gue itu bukan hukum ndi. Gue ngarasa dunia gue itu sastra. Gue salalu ngerasa bersemangat tiap kali ada pembahasan soal sastra. Gue ngga pernah cape buat baca berbagai macam info soal sastra. Siang malem gue rela buat belajar sastra sekalipun ngga dibayar. Gue suka dunia tulis menulis dan gue cinta sama dunia sastra.” Ucapku panjang.

“Terus lo mau keluar?”

“Pengennya si gitu. Tapi…”
“Tapi apa? Waktu? Biaya? Orang Tua?” Tanyanya beruntun.


Aku hanya mengangguk pelan. Dia benar-benar seperti sudah paham tentang masalahku. Sepertinya memang bukan aku satu-satunya orang yang sudah bercerita masalah semacam ini padanya.

“Kalo menurut gue si lo ngga usah keluar.” Ucapnya lagi. Aku hanya memandanginya lekat. Memintanya untuk segera memberi alasan atas ucapannya.

“Okelah lo mungkin udah ngerasa kaya salah naik angkot. Tapi gue tanya, seandainya lo balik terus naik angkot lain apa lo udah tau tujuan akhir angkot itu? Bisa aja angkot yang lo pengenin itu tujuan akhirnya sama atau berdekatan ama angkot yang lagi lo naikin sekarang dan lo anggap salah.” Ucapnya panjang.

Otakku kini sudah mulai mencerna kalimatnya. Berfikir akan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Dan ini kita lagi ngomongin soal masa depan bung. Ngga ada yang tau masa depan lo besok. Bahkan diri lo sendiri. Ngga ada yang tau tempat pemberhentian lo saat lo masuk jurusan hokum. Begitu pun kalo lo mau ngambil jurusan sastra. Semuanya sama men, semu!!” Ucapnya serius.

“Pemberani itu bukan orang yang ngga punya rasa takut. Tapi pemberani itu orang yang juga punya rasa takut, dan dia bisa ngadepin rasa takutnya. Bukan lari dari rasa takutnya itu.” Ucapnya lagi.

Aku hanya bisa terdiam tanpa bersuara. Memang sepenuhnya apa yang dikatakan Andi ada benarnya. Dan sekarang aku mulai sedikit yakin. Salah jurusan bukanlah sebuah masalah besar. Sebuah masalah besar adalah ketika kita salah tujuan. Itu lah yang kutangkap dari obrolan singkat kami.

---oOo---

Back To Top