Pahitnya Perjuangan Menyatakan Cinta

Pahitnya Perjuanganku Menyatakan Cinta - Udara dingin berhembus menembus cela-cela jendela kamarku. Aku terbaring lemas diatas kasur kesayangan. Mataku terbelalak menerawang ke atap kamarku. Sudah lebih dari 2 jam aku terbaring lemas di kamarku, tapi mataku tak kunjung terpejam.


Mimpi indah juga tak kunjung menjemput ku kedalam dunianya. Tubuhku sedang terbaring lesuh diatas kasur, tapi pikiranku menerawang jauh menuju sosok yang berjarak puluhan kilo meter dari rumahku.

Ya, dia lah sosok yang selama ini aku kagumi. Sejak pertama kali aku masuk SMA, wanita itu sudah menghantui kehidupanku. Berkali-kali aku mencoba menepis bayangannya tapi tetap saja, auranya terlalu indah untuk kulupakan.

Senyumnya terlalu manis untuk segera ku lewatkan. Dan teduh tatapannya terlalu sejuk untuk ku tepiskan. Oh Tuhan.. berikanlah gadis manis itu padaku. Aku bersumpah takan pernah ku lepaskan dia sekali dia masuk kedalam pelukanku.

Sudah lebih satu tahun aku mencoba memendam rasa ini. Dan selama itu pula aku mencintai nya diam-diam. Mencuri pandang ke arahnya, mencari tau semua tentangnya, dan selalu menyelipkan namanya dalam setiap doaku. Kejadian pagi tadi terlalu manis untuk kulewatkan.

Sepertinya Tuhan mulai mendengar doaku. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya aku akan bisa berada dalam satu kelas dengan bidadari ku ini. Terlebih dia duduk tepat satu bangku didepanku. Terkadang didalam kelas aku hanya bisa terdiam mengagumi indah ciptaanNya.

Tak banyak yang bisa kuucapkan selama dia berada dihadapanku. Bibirku seketika menjadi keluh setiap berada dihadapannya. Tegar kaki ku tak cukup kuat menahan tekanannya.

Mataku terlalu lemah untuk berpaling dari sejuk sinarnya. Sampai kejadian tadi pagi, sebuah kejadian yang tak akan pernah ku lupakan. Bahkan sampai rambutku mulai memutih dan lemakku mulai menipis.

Tadi pagi adalah kali pertama semua uratku menjadi kuat dihadapannya. Sudah satu bulan lebih dia duduk dihadapanku. Tapi baru kali ini aku berani meminta nomor handphonenya.

Tapi, kekuatanku hanya berlaku untuk sekejap saja. Tak banyak yang bisa ku perbuat setelah aku mendapatkan nomor handphonenya. Hanya ku simpan dan kupandangi.

Sesekali terbesit pikiran untuk sekedar menelpon atau mengiriminya sms. Tapi apa yang akan aku bicarakan setelah dia mengangkat telponku?. Pesan apa yang harus ku kirimkan agar dia membalas pesanku?.

Sekali lagi ku tatap nomor handphonenya. Ku pencet tombol hijau untuk memanggil. Tapi tidak lama setelah itu ku tekan lagi tombol merah untuk membatalkannya.

Oh Tuhaan… ciptaanMu begitu indah. Engkau sungguh Maha Kuasa di atas segalanya. Hanya dengan ciptaanMu saja kau mampu membuatku jatuh telak dalam kegelisahan yang amat dalam. Tolong segeralah berikan gadis itu padaku, agar aku bisa menjadi lebih tenang dan bangkit dari segala kegelisahan ini.

Setelah lebih dari 3 jam mata ku terbuka, akhirnya aku bisa terlelap jauh kedalam mimpi bersama kegelisahan dan juga indah bayangannya.

***

Sepercik sinar matahari membangunkanku dari indah mimpi ku semalam. Ku hirup udara segar yang masuk lewat fentilasi kamarku. Ku lentangkan kedua tanganku selebar-lebarnya. Ku buka mulutku dan menguap sedalam-dalamnya.

Ku akhiri ini dengan satu teriakan keras. Hah!!! Akhirnya hari ini datang juga. Semoga saja nanti aku bisa mendapatkan kekuatan lebih untuk sekedar menatap indah wajahnya.

Aku beranjak dari tempat tidurku dan segera meluncur ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ku masukan buku pelajaran hari ini kedalam tas ransel ku.

Kupakai seragam sekolah yang sudah tampak mulai menguning, sesekali kulihat diriku dicermin. Lalu berbalik, kemudian kulihat lagi. Kusisir rambutku kesamping.

Kusemprot tubuhku dengan aroma wangi parfum. Tidak akan ku biarkan sedikitpun celah keburukan dari diriku yang bisa ia lihat.

Dengan kendaraan roda dua kesayanganku, aku segera bergegas berangkat menuju sekolah. Jantungku tak sedetikpun berhenti berdebar. Tak ada hal lain yang mampu mengusik pikiranku selain dirinya.

Tidak lama aku melajukan kendaraanku, akhirnya aku sampai juga disekolah. Ku parkirkan kendaraan ku ditempat biasa. Dengan cepat aku langsung berjalan menuju kelas.

Bisingnya suara anak-anak lain yang baru juga datang tidak mampu mengalahkan bisingnya hatiku. Semua penuh dengan gadis itu. Yaah.. hanya ada dirinya difikiranku saat ini.

Namun sayang sekali, sesampainya di kelas, suasana kelas masih tampak begitu sepi. Hanya ada beberapa siswa yang baru datang. Ku lihat jam dinding di dalam kelas dan akhirnya aku sadar.

Oh sial! Aku terlalu bersemangat hari ini. Ini terlalu pagi untuk memulai pelajaran. Akhirnya ku putuskan untuk berjalan menuju bangku ku. Kuletakkan tas ransel ku di atas meja.

Aku duduk terpaku menatap ke arah pintu. Berharap semoga siswa yang masuk kali ini adalah dia. Sampai cukup lama aku menatap kearah pintu, akhirnya sosok bidadari yang aku tunggu-tunggu datang juga.

Rambutnya yang lurus dan hitam legam kini diikat kebelakang. Menambah indah pesonanya. Matanya tampak begitu cerah seperti biasanya. Senyum yang mengambang diwajahnya pun begitu lembut. Membuat jantungku berdesir.

“Hoeey ndre, ngelamunin siapa?! Ciee lagi jatuh cinta ya..” Tiba-tiba sosok bidadari yang aku kagumi sudah berada didepanku. Dia menepuk pundakku sembari menggoda diriku yang sedang tenggelam dalam keindahannya.

Lagi-lagi otakku berfikir keras apa yang harus aku lakukan. Sial! gadis yang aku sukai sudah menggodaku tapi aku tak pernah berdaya dihadapannya.

“Ahh..eh.. eng.. engga kok, ngga ngelamun. Ngga jatuh cinta juga.” Jawabku gugup dan sekenanya.

“Alaaah.. hayoo jatuh cinta sama siapa.. cerita dong.. wanita macem apa yang udah bikin kamu kasmaran gini.” Godanya sekali lagi. Kali ini dia sudah duduk tepat didepan mataku.

Dia memunggungi papan tulis dan menghadap ke arahku. Hingga aku benar-benar bisa menatap lekat wajahnya. Dan sial! Pertanyaan macam apa yang barusan dia lontarkan.

Apa yang harus aku jawab dengan pertanyaan itu. Haruskah aku menjawab “wanita macam kamu!”. Atau harus kujawab “wanita sepertimu!”. Oh, sekali lagi lidahku tiba-tiba keluh dihadapannya.

Aku hanya bisa terdiam dan menggelengkan kepalaku. Kupaksakan bibirku tersenyum agar suasana tidak menjadi keruh.

“Hiii gitu ya Andre, ngga mau cerita. Yaudah deh.” Ucapnya manja. Dia membalikan tubuhnya lalu menatap kedepan. Aku sedikit lega karena kini aku tidak harus bertatapan langsung dengannya.

Jantungku yang dari tadi menggebu-gebu pun kini sudah mulai berdetak kembali normal dengan perlahan.

“Eh, kok kamu semalem engga sms aku? Engga nelpon aku juga? Kan kamu udah punya nomerku?” Ucapnya kembali menghadap ke arahku.

Jantungku yang belum sempat berdetak normal kini sudah harus berdegup kencang lagi. Aku benar-benar tidak sanggup menahan indah wajahnya. Mungkin jika terus seperti ini aku akan gila!

“Ah..ehh…eh.. aku engga punya pulsa Del.” Jawabku sekenanya.
“Emm.. gitu.. eh, aku boleh minta tolong engga ntar pulang sekolah?”
“Minta tolong apa?”
“Anterin aku pulang ya, papaku ngga bisa jemput soalnya. Dia lagi sibuk hari ini.” Ucapnya manja.

Permintaan macam apa ini. Ku coba mencerna lagi kalimatnya. Kurangkai kembali susunan kalimat yang dia ucapkan. Perlahan tapi pasti, akhirnya aku mengerti. Dia hanya meminta aku pulang bersamanya. Itu saja. Aku tak berani berharap lebih.

“Emm.. iya deh. Aku mau nganterin kamu pulang.” Ucapku sambil memberikan senyum termanisku.

“Makasih ya.” Ucapnnya lembut. Tampak senyum mengambang diwajahnya. Oh Tuhan.. jangan biarkan senyum itu hilang dari wajahnya. Akan ku peluk dan ku simpan selalu senyum indah itu.

***

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Saat yang begitu menegangkan akhirnya tiba. Saat dimana aku bisa berada pada satu kendaraan dengannya. Aku berjalan menuju parkiran. Kuambil kendaraan ku dan ku arahkan menuju gerbang.

Tampak wajah cantiknya sudah menungguku. Tidak banyak yang terucap saat itu. Hanya ada senyuman penuh makna yang mengambang jelas diwajahnya. Selama dalam perjalanan pun tak banyak yang bisa kuucapkan.

Hanya dia yang asik bercerita dan aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Aku berusaha sebisa mungkin agar tidak mengecewakan bidadari ku ini.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya kami tiba didepan pintu gerbang rumahnya. “Del, aku mau ngomong sebentar.” Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulutku. Entah datang dari mana kekuatan ini, tapi yang jelas saat itu aku bisa mengucapkannya.

“Em.. mau ngomong apa ndre?” Tanya nya lirih. “Aku suka sama kamu. Kamu mau ngga jadi pacarku.” Ucapku datar. Wajahku ku buat seserius dan setampan mungkin. Aku terus berusaha agar tetap tenang. Meski seakrang jantungku berdetak lebih cepat dari putaran kincir hallykopter.

“Ahahah ngga romantis banget si ndre.” Dia hanya tertawa mendengar ucapanku. Entah ide dari mana. Saat itu juga tanganku langsung meraih tangannya dan ku genggam erat kedua tangannya.

“Aku serius del. Aku suka sama kamu. Kamu mau engga jadi pacarku.” Ucapku lagi. Mata kami beradu. Kutatap selekat mungkin kedua matanya. Tak kubiarkan sedikitpun mata itu beralih dari mataku.

“Em… maaf ndre, aku ngga bisa..” Ucap nya lirih. Dia menundukan wajahnya. Tanganku pun terlepas dari tanganya. Seketika hatiku remuk. Dunia seperti sedang menyempit dan menghimpit keras jantungku. Napasku seketika menjadi sesak. Seperti ada tali besar yang mengikat tubuhku. Bodoh!

“Engga bisa nolak maksudnya. Iya aku juga suka sama kamu. Aku mau kok jadi pacar kamu.” Ucapnya lagi. Ada tawa terhias diwajahnya. Dia menatap kearahku. Dan secepat kilat dia mengecup pipiku. Setelah itu aku tidak tau pasti apa yang terjadi.

Dia hanya tersenyum manis lalu masuk kedalam gerbang rumahnya. Aku masih diam terpaku diatas motorku.

Masih belum bisa ku percaya apa yang baru saja terjadi. Tuhan benar-benar sudah mengabulkan doaku. Adelia Suci Divega kini sudah resmi menjadi kekasih dari seorang Muhammad Andre Prasetya. Terimakasih Tuhan…!

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top