Kegiatan Ekstra Kurikuler di Sekolah

Cerpen Pendidikan Anak Sekolah - Kali pertama aku masuk ke SMA Harapan Bangsa. Hal yang menjadi tuntutan adalah kegeiatan ekstra kurikuler. Setiap siswa wajib mengikuti kegiatan ini. Mereka bebas memilih berapapun kegiatan yang ingin mereka ikuti.


Tapi mereka tidak boleh sekolah disini tanpa mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Atau dengan kata lain setiap siswa yang sekolah disini wajib mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.

Aku sendiri tidak begitu tertarik dengan pada kegiatan ekstra kurikuler. Entahlah, aku tidak menemukan hobiku dalam list kegiatan ekstra kurikuler disana. Selama ini hobiku adalah memancing. Aku pandai sekali dalam hal ini. Dalam satu kali memancing aku bisa mendapatkan banyak ikan.

Aku bisa dengan pandai nya menyusun umpan sendiri. Tak jarang mata pancingku juga kurubah sedemikian rupa agar mampu menangkap ikan yang besar. Sementara untuk jorannya, aku lah orang yang tepat untuk kau temui jika kau ingin mendapatkan joran yang berkualitas.

Sayangnya, tidak ada ekstra kurikuler memancing disekolahku. Padahal sebenarnya aku ingin protes pada guru. Bukankah ekstra kurikuler itu diadakan untuk mengembangkan dan menumbuhkan potensi siswa.

Kenapa tidak ada ekstra kurikuler memancing. Bukankah memancing itu juga penting. Aku bisa saja memenangkan lomba memancing antar sekolah. Atau antar provinsi.

Kalau perlu aku juga bisa saja memenangkan lomba memancing antar negara untuk sekolah ini. Tapi sayang, memancing tak pernah dianggap sebuah bakat disekolah yang indah ini.

Kala itu , hari terakhir penentuan ekstra kurikuler pun tiba. Setiap siswa wajib menyetorkan laporan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka ikuti. Dan karena aku masih kelas X, aku benar-benar bingung untuk mengikuti kegiatan apa. Tak ada satupun kegiatan yang aku minati.

Bahkan aku juga tidak begitu paham apa yang akan kulakukan saat aku mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. Beruntung, saat itu aku memiliki seorang teman yang tergolong pandai.

Dia benar-benar membantuku dalam menyelesaikan masalah. Saat aku bercerita perihal kebingunganku mengenai kegiatan ekstra kurikuler, dengan santai dia mengajakku untuk mengikuti kegiatan KIR ( Karya Ilmiah Remaja).

Entah bagaimana dia mendapatkan kekuatan untuk menghasut, tapi kala itu dia benar-benar bisa menghasutku dengan sangat pandai. Dia bilang di kegiatan KIR kita akan bisa menjadi ilmuan cilik.

Melakukan berbagai macam penelitian lalu menemukan sesuatu yang baru. Pikiranku melayang-layang kala aku mendengar hasutannya. Dia benar-benar pandai membumbui  sebuah cerita.

Dia bilang ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan jika aku mengikuti kegiatan KIR. Dan satu hal yang sangat berpengaruh padaku saat itu adalah, dia bilang kalau dalam kegiatan KIR ada banyak sekali  gadis yang cantik. Dan atas dasar itulah aku akhirnya bersedia untuk ikut kegiatan Ekstra Kurikuler Karya Ilmiah Remaja bersamanya.

Diawal-awal kegiatan, seperti halnya kegiatan yang lainnya. Kami semua siswa baru diperintahkan untuk melakukan perkenalan.  Dan benar saja, memang ada banyak gadis cantik yang mengikuti kegiatan ini.

Kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis yang pandai. Tak hanya itu saja, para senior yang ada dalam kegiatan ini jugalah senior-senior yang cantik. dan dihari pertama aku mengikuti kegiatan KIR aku langsung yakin. Ini lebih layak disebut kegiatan mencari jodoh dari pada kegiatan mencari penemuan ilmiah.

Dihari kedua, kegiatan ini mulai membahas sesuatu yang benar-benar ilmiah. Banyak dari kami diperintahkan untuk mencetuskan berbagai ide. Tapi semua ide yang diutarkan seolah tidak begitu menarik dimata Bu Wulan-guru pembimbing kegiatan Karya Ilmiah Remaja.

Beliau sudah membekali kami berbagai macam cara untuk mengeluarkan ide. Mulai dari ide teknologi terapan, ide alternatife pangan, sampai ide-ide dibidang pertanian. Tapi tak satupun dari kami berhasil mencetuskan ide yang menarik di mata Bu Wulan.

“kita tutup pertemuan kali ini dulu. Dalam waktu satu bulan ini akan ada lomba karya Ilmiah tingkat kabupaten dan provinsi. Jadi dalam minggu-minggu ini ibu harap kalian sudah bisa menemui ibu dengan membawa ide yang benar-benar menarik.” Ucap Bu Wulan.

Kami semua hanya terdiam mendengar ucapannya. Beberapa diantara kami saling bertatapan  menandakan kebingungan. Beberapa yang lainnya ada juga yang memegangi kepalanya. Sementara aku hanya bisa diam karena memang aku tidak tau apa-apa.

Dalam minggu-minggu ini kami harus bisa menemukan sebuah ide yang menarik untuk diikutsertakan dalam lomba. Roni-temanku yang menghasutku untuk ikut kegiatan KIR juga tampak begitu kebingungan untuk mencari ide.

“Gimana ni? Lo udah dapet ide belum?” tanya nya sembari menuntut padaku. Aku hanya terdiam karena memang aku tidak begitu tertarik pada kegiatan ini.

“Ah lo ini ndre. Lo itu bisanya apa si?” tanyanya lagi.
“Mancing.” Jawabku asal. Dia terdiam lalu memandangiku dengan mata menyelidik.
“Pakannya?”


“Bikin sendiri lah.”  Jawabku lagi.
“Ide cemerlang.” Ucapnya dengan senyum lebar. Seperti sudah memenagkan lotre.
“Kita bakal bikin pakan ikan dengan bahan-bahan sederhana dan juga kaya akan protein sehingga hasil panen para petani ikan akan melambung tinggi.” Ucapnya lagi.

“Emang bisa?” tanyaku heran.
“Ya bisa lah. Tenang aja. Lo yang bikin pakannya. Gue yang bikin makalahnya.” Ucapnya lagi sambil tersenyum lebar.

***

Sepulang sekolah aku dan Roni langsung mengerjakanm ide ini. Aku menyiapkan segala macam bahan-bahan yang biasa kugunakan untuk membuat pakan ikan. Mulai dari ampas tahu, dedak, sampai dengan ikan asin murahan. Roni tampak asik mencatat dan sesekali memotret ku saat aku sedang membuat pakan ikan.

Dia tampak begitu serius dan antusias. Sepertinya dia memang menaruh harapan besar pada pakan ikan ini. Dia juga sepertinya yakin kalau bu Wulan akan suka dengan ide ini.

Keesokannya, aku dan Roni datang menghadap bu Wulan. Tidak tanggung-tanggung, Roni datang menghadap dengan membawa makalah yang sudah selesai. Dia sepertinya memang sangat yakin dengan karya ilmiahnya ini.

Sesampainya dihadapan bu Wulan, Roni langsung menyerahkan makalahnya. Bu Wulan hanya tersenyum-senyum kecil saat membuka dan membaca makalah itu. Tapi dari senyumannya itu aku yakin, dia sepertinya suka dengan ide ini.

“Oke, makalah ini ibu acc. Dan akan segera ibu sertakan dalam lomba KIR tingkat kabupaten.” Ucap Bu Wulan sembari tersenyum. Roni langsung tertawa kegirangan mendengar ucapan bu Wulan. Begitu juga denga ku. Tidak kusangka bu Wulan akan setuju dengan ide pakan ikan bodoh ini.

Aku dan Roni kembali kekelas dengan wajah yang sumringah. Memang karya kami belum membuahkan hasil, tapi setidaknya kami sudah menang disekolah kami. Karena belum ada satupu  karya yang diterima bu Wulan selain karya kami. Kami yakin kami akan bisa menuai prestasi dengan karya kami.

---oOo---

Back To Top