Jualan Tak Laku-Laku, Apa yang Salah Ya?

Cerita Cerpen Motivasi Usaha Sukses - Aku masih duduk sendiri di depan gerobak dagangan ku. Sudah beberapa hari ini dagangan ku selalu sepi. Orang-orang yang membeli hanyalah orang-orang yang datang dari jauh dan memang tak pernah berniat untuk membeli bakso ku.


Aku masih merasa heran dengan apa yang sudah aku alami selama beberapa hari ini. Sudah hampir satu bulan penuh daganganku selalu sepi.

Padahal sebelumnya dalam sehari aku selalu bisa menjual lebih dari dua puluh mangkuk dalam semalam, tapi sekarang semuanya sudah berubah. Jangan kan dua puluh lima piring, sepuluh piring dalam semalam saja rasanya sulit sekali.

Kulihat jam tangan yang menempel di pergelangan tanganku. Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Menunggu pembeli datang rasanya juga akan sia-sia karena memang mungkin tidak banyak orang yang akan keluar malam jam-jam segini.

Akhirnya dengan setengah hati aku pun meutuskan untuk pulang tanpa membawa banyak uang. Miris sekali rasanya, aku benar-benar merasa sudah tidak punya semangat hidup.

Sejenak aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. apakah ada yang salah dengan daganganku sehingga sekarang menjadi sepi? Tapi perasaan semuanya masih biasa saja. Tidak ada yang salah. Semuanya masih sama dengan beberapa hari yang lalu saat baksoku masih memiliki banyak pembeli.

Sesampainya di rumah, ku lihat anakku sedang tertidur pulas. Kasihan sekali dia, di usianya yang masih sangat kecil, dia harus kehilangan kasih sayang seorang ibu. yaaah, istriku meninggal beberapa tahun yang lalu.

Saat itu anakku masih duduk di bangku SD kelas empat. Dan sekarang dia sudah kelas enam SD dan sebentar lagi akan menghadapi UN. Dan disaat-saat pentingnya ini, aku sama sekali tidak sempat menemaninya untuk belajar. Bahkan di malam hari aku selalu meninggalkannya karena aku harus berdagang.

Ku hampiri anakku yang sedang tertidur pulas. Ku tarik selimutnya ke atas agar dia tidak merasa kedinginan. Kuelus rambut ikalnya, ku pandangi wajahnya yang tampan. Lalu aku berbaring di samping nya. Berharap dalam tidurnya dia bisa merasakan kasih sayang yang tak seberapa dari seorang ayah.

***

Keesokan malamnya, aku kembali berdagang seperti biasa. Dan semuanya juga hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Sama sekali tidak banyak pembeli yang mau membeli baksoku.

Aku masih duduk termenung di depan gerobakku. Sesekali ada orang yang melewati depan gerobakku, ku pikir dia akan membeli baksoku, tapi ternyata dia malah melewatiku dan berjalan menuju penjual yang lain.

Malam semakin larut dan pembeli tak kunjung datang. Mala mini ku hitung hanya ada lima orang yang membeli baksoku. Dua dari mereka adalah temanku sendiri. Beruntung masih ada orang yang mau membeli baksoku walaupun hanya sedikit.

Karena dengan begini aku masih bisa memberi uang saku untuk anakku besok.
Kulirik jam tanganku. Waktu sudah menunjukan tengah malam. Ini artinya aku harus segera pulang. Dan lagi-lagi aku pulang dengan tidak banyak uang yang aku bawa.

Sedih sekali rasanya, kalau hari-hari terus seperti ini, bisa-bisa aku akan bangkrut dan anak semata wayangku tidak akan bisa meneruskan sekolahnya. Dalam perjalanan pulang aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Apa yang sebenarnya salah dalam daganganku ini. Kurasa aku selalu menjual bakso yang segar dan layak konsumsi. Saus dan kecap yang aku gunakan juga bukan saus dan kecap rendahan.

Penampilan dan kesopananku juga selalu kujaga agar pengunjung tidak bosan. Tapi kenapa daganganku tak kunjung laku? Pikiranku benar-benar kacau kali ini. Tubuhku terasa begitu lemas. Aku benar-benar merasa telah di pecundangi oleh dunia.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menaruh gerobak jualanku dan segera mencari anakku di kamarnya. Tapi aku tidak menemukan sosok anakku disana. Aku berteriak memanggil namanya , tapi dia tak kunjung menjawab.

Aku terus mencari sosoknya di wc, berharap aku bisa menemukannya. Tapi aku juga tak kunjung menemukannya. Pikiranku mulai panik. Tubuhku terasa semakin lemas. Dan akhirnya ku sandarkan tubuhku di kursi ruang tamu.

Entah kenapa rasanya badan ku begitu lemas. Bahkan menggerakan kakiku untuk mencari anakku saja rasanya sangat berat.

“Pak, bapak tadi manggil aku?” Suara bocah terdengar dari belakang. Aku menengok ke arahnya dan kudapati sosok anakku sedang memakai sarung dan juga kopiah.
“Iya nak, kamu kemana aja dari tadi?”

“Maaf yah, tadi aku lagi sholat, jadi ngga bisa jawab panggilan bapak.” Deg.. jantungku langsung berdebar. Aku merasa seperti sedang di hakimi oleh anakku. Dia sholat? Setauku aku tak pernah banyak mengajarinya bacaan sholat. Terlebih ini sudah tengah malam, ini artinya dia sholat tahajjud.

Bagaimana bisa dia tau tentang tahajjud? Apa almarhumah istriku yang mengajarinya? Aku sadar selama ini aku sudah jarang sholat. Jangankan sholat tahajjud seperti anakku. Sholat wajib saja aku sudah jarang. Oh Tuhaan… ampuni lah hambamu ini karena sudah lalai dengan perintahmu.

“Sini nak, duduk sebelah bapak.” Ucapku padanya sembari menepuk-nepuk kursi di sampingku. Dia tersenyum lalu menghampiriku dan duduk disampingku.

“Siapa yang udah ngajarin kamu tahajjud nak?” tanyaku padanya.
“Bu guru pak. Katanya kalo kita sholat tahajud urusan kita akan di permudah oleh Allah. Sebentar lagi aku kan mau Ujian Nasional, jadi aku harus rajin sholat tahajud biar ujianku nanti juga di permudah oleh Allah.” Ucapnya polos.

Hatiku benar-benar bergetar melihat anakku ini. Aku merasa bersyukur karena sudah menitipkannya di sekolah islam. Meskipun alasan sebenarnya adalah biaya, tapi sekarang aku telah merasakan manfaat lainnya.

Anakku telah tumbuh jadi anak yang sholeh tanpa ku ketahui. Bahkan dia belajar banyak soal agama bukan dari keluarganya, tapi dari sekolahnya. Terimakasih ya Allah engkau telah membimbing anakku ke jalan yang benar.

“Yaudah kamu sekarang tidur ya, ini kan udah malem. Besok kamu kan sekolah.”

“Iya pak, tapi aku mau baca buku dulu. Nanti kan ketiduran sendiri kayak biasanya.” Ucapnya sembari tersenyum. Aku benar-benar merasa bersyukur sudah memiliki anak yang sholeh seperti dia.

Aku beranjak dari tempat ku duduk dan segera mengambil air wudhu. Sekarang aku baru sadar kenapa daganganku tidak laku. Aku sekarang benar-benar sudah jauh dari Sang Pencipta. Aku sudah terlalu banyak meninggalkan perintahnya.

Dan terlebih aku tak pernah bersyukur dan berinfak ketika daganganku masih laku dulu.  Mulai hari ini aku berjanji aku akan mendekatkan diriku pada yang maha kuasa.

Keesokan malamnya aku kembali berdagang. Kali ini berbeda dengan biasanya. Jika sebelumnya aku berdagang hanya untuk mencarai uang, kali ini aku berdagang tidak hanya untuk uang.

Tapi juga untuk beribadah. Aku berharap Allah akan meridhoi usahaku ini. Sehingga aku bisa mengantarkan anakku sampai ke perguruan tinggi dan membuatnya menjadi anak yang berguna bagi agama bangsa dan negara.

Dan benar saja, begitu aku merubah niatku, pembeli mulai berdatangan satu-persatu. Memang tidak terlalu banyak, malam ini aku hanya berhasil menjual lima belas mangkuk bakso saja. Tapi aku tetap bersyukur.

Saat pulang aku sempatkan untuk menyisihkan beberapa rupiah untuk ku taruh di kotak amal masjid. Aku berharap dengan mengsodaqohakan uangku ini, Allah akan meridhoi segala usahaku.

Hari-hari berikutnya jumlah pembeli baksoku semakin meningkat. Aku tidak tau apa yang sudah terjadi. Tidak ada banyak yang ku rubah dari cara berdagang ku. Semuanya hampir sama. Hanya niatlah yang aku rubah ketika aku berdagang.

Terimakasih ya Allah, engkau telah memberikan rizki pada hambaMu ini. Semoga saja Engkau akan menjaga hatiku ini dari kesombongan dan ke tamakan. Ridhoi lah segala usahaku ini ya Allah. Karena tanpa ridhoMu, aku tak akan bisa melakukan apa-apa.

---oOo---

Back To Top