Dunia yang Tak Indah Lagi

Cerita Cerpen Singkat tentang Kehidupan – Hari ini adalah kali kelima aku melamar pekerjaan. Dan hasilnya pun tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Ditolak ditolak dan selalu ditolak. Kadang aku ingin menyerah mencari pekerjaan dan memulai usaha sendiri saja.


Mengikuti jejak orang-orang sukses yang kini sudah mengisi seminar-seminar sukses dan seminar-seminar pengusaha. Tapi aku sama sekali tidak punya banyak modal untuk membuka usaha sendiri.

Jangankan untuk membuka usaha, untuk makan sehari-hari saja aku hanya memanfaatkan kiriman dari orang tua di kampung. Kasihan sekali orang tuaku, bekerja keras untuk menyekolahkan ku, tapi akhirnya aku hanya menjadi pecundang rendahan di sudut kota ini.

Sebenarnya aku juga malu karena harus selalu mengandalkan orang tua. Tapi, tentu aku akan lebih malu jika harus pulang kampung dengan tangan kosong.

Pulang hanya dengan membawa gelar sarjanah, lalu menjadi pengangguran di kampung karena tidak ada yang bisa aku lakukan disana. Miris sekali. Jika aku pulang sekarang, bukan hanya aku yang akan malu.

Orang tua dan saudara-saudaraku juga pasti akan merasakan hal yang sama karena aku sama sekali tidak memiliki penghasilan. Kepulanganku juga pasti akan mengarahkan cara pandang orang-orang terhadap pendidikan.

Mereka pasti berfikir kalau pendidikan itu tidak penting. Mengeluarkan uang banyak hanya untuk sebuah ilmu adalah hal yang salah. Itu lah yang akan di pikirkan oleh orang-orang kampung jika aku pulang.

Ah… rasanya benar-benar sulit. Apa memang semua fresh-graduate pasti mengalami hal yang sama dengan ku saat ini? Atau hanya aku lah fresh-graduate yang mengalami hal sulit seperti ini? Pikiran ku benar-benar kacau sekarang.

Aku masuk ke dalam kamar kost ku yang kecil dan lumayan berantakan. Ku buka beberapa kancing kemejaku dan ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah sekali rasanya seharian melamar kerja kesana kemari.

Kelelahanku terasa semakin lelah mengingat kerja keras ku ini tidak membuahuahkan hasil. Jika aku berfikir lagi, apa yang sudah aku alami selama empat tahun terakhir ini sangatlah menyenangkan.

Kuliah di kampus yang keren dan memiliki banyak teman. Berangkat ke kampus, belajar, berteman, lalu pulang bersama pacar. Aah, indahnya dunia ku beberapa tahun lalu.

Tapi kini, apa yang bisa aku lakukan. Bangun tidur tidak ada lagi yang harus aku kerjakan. Pergi ke kampus juga aku tidak tau apa yang mau aku lakukan disana. Status ku yang sudah bukan mahasiswa lagi benar-benar membuat hidupku berubah seratus delapan puluh derajat.

“kriiing… kriing.. kriing..” Handphone ku berbunyi keras menandakan ada panggilan masuk. Menyadarkan diriku yang sudah tenggelam dalam lamunan tak jelasku. Aku berharap telpon ini datang dari salah satu perusahaan yang memintaku bekerja disana.

Atau setidaknya dari seorang teman yang akan menawari ku pekerjaan. Tapi begitu menatap layar ponselku, bukanlah nama perusahaan atau nama teman yang ada disana. Melainkan nama seorang gadis yang selama ini kuanggap sebagai kekasih ku.

Oh Tuhan… bukan ini yang aku butuhkan sekarang. Dia pasti akan meminta ku mengajaknya berjalan-jalan atau menyuruhku datang ke rumahnya. Apa tidak bisa dia tidak mengganggu ku sebentar saja. Dengan berat hati akhirnya aku menekan tombol hijau untuk menjawab telpon darinya.

“Haloo sayaang.” Ucapku pada seseorang di ujung sana.
iya halo.. kamu kemana aja si?! Udah seharian ini ngga ngubungin aku?! Ditelpon ngga diangkat, di sms engga bales mau kamu itu apa?! !@$%$#@$@#%” Ucapnya begitu cepat. Kepalaku terasa begitu pusing mendengar celotehan dan umpatannya.

Ditengah kelelahanku, dia datang bukan untuk menghibur tapi justru malah menambah semuanya terasa semakin berat dan melelahkan.

“Iya sayaang.. maaf ya sayaang.. seharian ini aku sibuk ngelamar kerja, jadi ngga sempet ngubungin kamu.” Ucapku berusaha menahan emosi.

Alaaaaaaah, alesan?! Kamu dimana  sekarang?! Aku mau kekosan kamu!.” “tut…..tut…tut..” ucapnya langsung memutuskan telpon tanpa meminta persetujuanku.

Menyebalkan sekali rasanya. Dia pasti akan datang kekosanku dan segera memarahiku dengan ribuan kata-katanya. Di dalam kemarahannya pasti akan ada ceramah-ceramah yang tidak penting untukku sekarang.

Mulai dari menceramahiku karena kamarku yang berantakan sampai menceramahi ku gara-gara aku tak kunjung mendapat pekerjaan. Aah.. aku sudah terlalu lelah untuk dunia ini. Kemana perginya dunia ku yang indah beberapa tahun lalu. Apa memang ini kehidupan yang sebenarnya. Begitu melelahkan dan menyesakkan.

“Tok.. tok… tok…” Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Sudah bisa kutebak siapa yang mengetuk pintu. Pasti dia adalah gadis bawel yang selama ini ku sebut sebagai kekasih.

Dengan lemas aku pun beranjak dari kasur dan segera membukakan pintu untuknya. Dan benar saja, tak ada orang lain disana selain gadis bawel yang sangat aku cintai.

Aku berusaha memberikan senyum manisku meskipun aku tahu wajahku yang kelelahan pasti hanya akan menghasilkan senyum pahit. Tapi betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba gadis bawel ini memelukku.

Lebih parahnya lagi dia menangis dalam pelukanku. Aku berusaha untuk menenangkannya tapi tangisnya justru berubah semakin keras. Sialan! Bisa-bisa tetangga kostku akan menuduh yang tidak-tidak padaku.

“Kamu kenapa sayang… kok nangis?” Ucapku berusaha menenangkannya sambil mengelus rambutnya. Tapi bukannya semakin tenang, tangisnya malah terdengar semakin keras. Dia mengeratkan pelukannya seperti orang yang sedang ketakutan.

“Jangan pergi… jangan tinggalin aku….” Ucapnya terisak.
“Iya iya sayaang.. aku ngga pergi kok. Aku disini kok. Udah ya jangan nangis lagi ya..” Ucapku terus berusaha menenangkannya.

Kini tangisnya sudah mulai mereda dan aku mempersilakannya untuk masuk ke kamarku yang berantakan. Beruntung dia tidak memberikan ceramah murahannya terhadap kamarku yang kacau ini.

“Kamu kemana aja si? Kok sekarang jarang ngubungin aku? Jarang ngajak jalan, terus ngga pernah mau main kerumah lagi.” Ucapnya padaku pelan.

“Iya iya maaf ya sayang.. aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Aku udah bukan mahasiswa lagi dan aku harus cepet-cepet dapet kerjaan.” Ucapku padanya mencoba menjelaskan.

Tapi bukannya menocab mendengar dan menelaah penjelasan ku, Tiba-tiba dia malah memelukku lagi. Kali ini pelukannya tidak seekstrim tadi, tapi masih ada rasa takut dalam pelukannya ini.

“Sesibuk apa pun kamu jangan pernah lupain aku ya.” Ucapnya pelan. Aku hanya terdiam. Dia memang benar-benar aneh hari ini. Ku balas pelukannya dan sesekali mengelus rambutnya yang wangi.

“Aku sayang kamu” Ucapnya lagi.
“Iya, aku juga sayang kamu.” Ucapku pelan tanpa melepaskan pelukannya. Haah.. seketika aku merasa nyaman. Dunia memang terasa begitu berat dan tak indah lagi.

Tapi aku tetap bersyukur karena aku masih memiliki orang yang menyangiku. Satu hal yang aku pelajari hari ini. Terkadang kita memang merasa lelah dan lemah karena terus di pecundangi oleh dunia.

Tapi janganlah pernah menyerah.  Lihatlah kearah lain saat dunia tak menatap kearahmu. Karena di arah lain kau akan menemukan banyak keindahan lain yang bisa membuatmu bahagia.

---oOo---

Back To Top