Demi Persahabatan Ini

Contoh Cerita Persahabatan Sedih - Suami dan sahabat. Aku menikah dengan suami ku atas dasar cinta. Aku juga menjalin hubunganku dengan sahabatku atas dasar cinta. Aku mencintai keduanya. Tak satupun dari mereka ada yang kubenci.


Kehadiran mereka adalah kekuatan bagiku. Dengan adanya mereka langkahku terasa ringan. Dengan bantuan mereka, segala sesuatu dihadapanku menjadi lebih mudah. Dan dengan adanya mereka, aku tak pernah merasa takut terhadap apa pun.

Tapi kini, semuanya sudah sedikit berubah. Kali ini aku merasa takut. Bahkan sangat takut. Aku takut salah satu dari mereka pergi meninggalkanku. Aku mencintai Ridho-suamiku. Aku juga sangat menyayangi Aisyah-sahabatku.

Aku ingin mereka berdua selalu ada bersamaku. Apakah aku salah? Apakah aku egois? Atau mungkinkah aku terlalu naif?

Kurasa jawabannya adalah iya. Aku tau kami tidak mungkin bersama. Karena saat kami bersama, akan ada hati yang tersakiti. Entah itu aku, atau Aisyah. Dari sorot mata Aisyah aku bisa melihatnya. Sesuatu yang begitu dalam. Dengan sekuat tenaga dia memendam itu.

Tapi, aku tetap bisa melihatnya. Kala dia menatap mas Ridho-suamiku, semuanya nampak begitu jelas. Matanya memancarkan sesuatu yang sama dengan mataku. Dan sesuatu itu adalah cinta.

Yah, Aisyah mencintai suamiku. Lalu? Bagaimana dengan nasibku? Haruskah aku kehilangan Aisyah demi hubungan rumah tangga ku dengan mas Ridho? Harukah aku meninggalkan mas Ridho demi Aisyah? Atau, haruskah aku meninggalkan keduanya? Oh Tuhan… tolong berikanlah petunjuk-Mu.

Disamping tubuh Aisyah yang terbaring lemah ini, aku duduk termenung sendiri. Aku menggenggam tangannya erat. Berharap dia akan bisa segera membuka matanya, lalu kembali memberikan kehangatannya padaku seperti dulu.

Aku tidak tau penyakit apa yang menyerangnya, tapi kini tubuhnya sudah dalam keadaan koma. Kedua orang tua Aisyah sedang kembali kerumah. Dan mereka memintaku untuk menjaganya mala mini.

Aku juga sudah meminta izin pada mas Ridho untuk menjaga Aisyah dirumah sakit. Sudah dua minggu Aisyah terbaring lemas dikasur ini. selang infus masih menanancap dipunggung telapak tangannya.

Entah sampai kapan dia seperti ini. tiap malam aku tak pernah lelah berdoa untuknya. Tapi, kesadarannya tak kunjung kembali. Aku merasa khawatir, sedih, sekaligus kasian.

Tidak seharusnya gadis sebaik Aisyah menderita penyakit aneh semacam ini.
Sesaat sebelum orang tua Aisyah pergi, mereka meninggalkan sebuah buku untukku. Mereka menemukannya didalam kamar Aisyah. Ku buka buku ini perlahan.

Halaman paling depannya berisi sebuah puisi. Sepertinya puisi ini ia tujukan pada seorang pria yang begitu ia cintai. Dihalaman kedua berisi sebuah celotehan-celotehan khas remaja. Tidak kusangka dia bisa berceloteh semacam ini.

Di halaman ketiganya, dia sudah mulai menulis beberapa kejadian. Meski dalam bentuk celotehan, tetap saja kejadian itu nyata. Dan di halaman ke empat, hatiku terasa sakit kala aku membacanya. Ada nama suamiku disana. Muhammad Ridho Saputra.

Yah, kurasa hanya suami ku lah pria yang memiliki nama itu. Dan jika ada orang lain yang memiliki nama itu, kurasa Aisyah tidak akan semudah ini jatuh hati padanya.

Air mataku mulai mengambang kala aku membaca halaman itu. Tak ada satu pun kata yang terlewat. Sebisa mungkin terus kucoba untuk membaca nya dengan jelas. Mencoba memastikan siapa Ridho yang ada dalam buku diary nya.

Perlahan kubuka lembar demi lembar catatan diarynya. Aku membacanya perlahan. Sebisa mungkin aku berusaha mendapatkan makna dari setiap kata yang ada dalam tulisannya.

Sesekali aku berhenti sejenak untuk memastikan kata yang aku baca. Dan disetiap ada kata ‘Ridho’ disana, hatika terasa seperti teriris. Seperti ada ratusan jarum yang menusuk hatiku. Seperti ada ribuan silet yang menyayat jiwaku. Dan seperti ada jutaan bom atom sedang meledak didalam diriku.

Kini air mataku tak terbendung lagi. Aku benar-benar menangis. Tidak ada darah yang keluar, tapi tubuhku terasa begitu sakit. Mataku terasa panas dan dadaku terasa begitu sesak. Aku merasa lemas kala aku membaca buku diarinya. Kakiku seperti sudah tak sanggup menopang tubuhku lagi.

Dalam tulisannya, jelas-jelas dia tulis apa yang sudah membuatnya sakit seperti ini. Yah, dia sakit seperti ini karena aku. Karena aku mencintai mas Ridho, dan mas Ridho juga mencintaiku.

Tidak pernah kusangka sebegitu dalam cinta Aisyah pada suamiku. Tak pernah kusangka dia akan menginap selama dua minggu dirumah sakit hanya karena rasa cintanya.

Seandainya saja dulu aku tau perasaannyaa pada mas Ridho, mungkin semua tak akan berakhir seperti ini. seandainya saja dulu aku tak jatuh cinta pada mas Ridho, mungkin Aisyah tidak akan masuk kerumah sakit. Seandainya saja dulu aku menolak lamaran mas Ridho. Seandainya, dan seandainya.

Kututup buku diary Aisyah. Air mataku sama sekali belum berhenti. Tangan Aisyah pun ikut basah karena air mataku. Aku benar-benar seperti sudah tak sanggup lagi menjalani hidup.

Aku telah membuat sahabatku sendiri menderita. Dari diary nya itu aku bisa merasakan bagaimana penderitaannya. Dia pasti sangat amat tersiksa.

Melihat sahabatnya sendiri bersanding bersama orang yang disayangi. Dan bahkan kini aku sudah mengandung bayi dari sosok pria yang dia cintai. Aisyah oh Aisyah. Tolong maafkan sahabatmu yang bodoh ini.

Cukup lama aku menangis. Dan kini, air mataku seperti sudah habis. Air mataku sudah kering tapi lukaku masih sangat basah. Tidak kusangka semuanya akan jadi seperti ini.

Aku menghubungi orang tua Aisyah ditengah malam. Aku benar-benar sudah tidak tau apa yang harus ku lakukan. Tapi, orang tua Aisyah tidak mau mengangkat teleponku. Aku semakin panik.

Aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Sampai akhirnya keputusan terakhirku adalah menelpon mas Ridho. Sudah kuputuskan, aku akan meminta mas Ridho untuk menikahi Aisyah.

Tidak ada pilihan lain. Hanya itu. hanya dengan menikahkan mas Ridho dengan Aisyah lah nyawa Aisyah bisa tertolong. Peralatan medis sama sekali tidak bisa membantu.

Penyakit yang disebabkan oleh cinta sama sekali tak bisa terdeteksi oleh dokter. Dan satu-satu nya obat yang bisa digunanakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh cinta, adalah cinta itu sendiri.

***

Hari ini adalah hari pernikahan mas Ridho dengan Aisyah. Aisyah masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Tapi aku tetap memaksa mas Ridho menikahinya. Hanya inilah satu-satunya cara yang aku tau.

Aku sudah meminta izin dari kedua orang tua Aisyah, dan mereka menyetujinya. Meskipun harus diiringi dengan sedikit drama dan air mata. Mereka merasa kasihan padaku.

Tapi aku lebih merasa kasihan pada anak mereka. Sama sekali tidak adil jika Aisyah harus meninggal hanya karena cintanya pada mas Ridho. Dan aku juga tidak akan bisa berbahagia atas kepergiannya. Dia sudah lebih dari sekedar sahabat.

Dia adalah anugerah yang tak pernah ternilai. Dia lah sosok malaikat yang Tuhan kirimkan untukku. Menemani dan mendengarkan setiap kerisauanku. Menjagaku, danm memberikan semangat kala aku lemah.

“Saaah” ucap para hadirin yang menghadiri pernikahan itu. memang hanya ada beberapa hadirin disana. Semuanya merupakan sanak saudara. Tapi secara hukum dan secara agama, pernikahan itu sah.

Kini, aku tak bisa berbohong. Aku merasakan sakit yang begitu mendalam. Aku telah dimadu atas kemauanku. Dan rasanya benar-benar sakit. Ini semua demi persahabatan ku dengan Aisyah. Tidak hanya itu, ini juga demi nyawanya.

Demi kelangsungan hidupnya. Dan juga demi kebahagiaannya. Aku ingin dia bahagia. Aku sangat menyayanginya, sekalipun dia telah menjadi istri baru dari suamiku. Aku rela, aku ikhlas. Dan ini semua, kulakukan hanya untuk sebuah hubungan yang mereka sebut ‘persahabtan’

---oOo---

Back To Top