BBM, Yang Enggak Kenal Enggak Gaul, Katanya

Kisah Cerpen Singkat tentang Teknologi HP - Kehidupan bersekolah dimana aku menginjak bangku SMA ternyata sudahlah tak seindah masa SMP. Entah kenapa sulit sekali bagiku untuk menemukan kata bahagian di masa SMA ku. Aku merasa seperti burung yang berada didalam kandang. Gerakku dibatasi oleh pikiran-pikiran mereka. 



Aku sama sekali tidak bisa pernah merasa bebas. Bayangkan saja, secara tidak langsung seluruh warga sekolah telah memaksaku untuk memiliki akun facebook dan juga twitter.

Yah, seluruh warga  sekolah. Karena sampai guru-guru di SMA ku pun kini sudah mulai gila dan terjangkit virus facebook dan twitter. Padahal sampai sekarang aku juga tidak lah terlalu membutuhkannya.

Aku masih suka berkirim pesan dan mengobrol dengan gaya lama. Bagaimana pun SMS dan menelpon masih sangat relevan dalam hidupku. Karena itulah aku masih belum bisa se-jatuh cinta yang lainnya terhadap facebook dan twitter.

Belum selesai aku ditindas atas pemaksaan kepemilikan akun twitter dan facebook, kini aku sudah harus ditindas lagi. Kali ini salah satu aplikasi yang masih bersifat sosial media juga lah yang dijadikan media untuk menindasku.

Aplikasi itu bernama Blackberry Massanger. Atau biasa disingkat dengan sebutan BBM oleh teman-temanku. Dan kalian tau paradoks macam apa yang digunakan oleh teman-temanku di sekolah? ‘yang tidak kenal BBM berarti engga gaul!’ hanya tujuh kata dan itu telah sukses mempengaruhi seluruh warga sekolah.

Entah siapa yang memulai dan siapa yang menyebarkannya, tapi paradoks itu benar-benar memiliki dampak yang besar. Hampir seluruh teman-temanku disekolah berbondong-bondong membeli handphone dengan merk Blackberry karena dengan membelinya, secara langsung mereka bisa mendapatkan aplikasi BBM tersebut.

Bodoh sekali. Bahkan tak jarang temanku ada yang rela tidak jajan berbulan-bulan hanya untuk bisa mendapatkan handphone tersebut. Kata-kata gaul seperti menjadi idaman setiap orang.

Mereka rela melakukan apapun agar mereka bisa disebut sebagai gaul. Padahal, belum tentu yang gaul itu bahagia.

Saat aku masih duduk dibangku SMP dulu, acara pedekate dengan wanita selalu diakhiri dengan ucapan “Hey, bagi nomer hape dong?” tapi sekarang? Haha kau hanya akan ditertawa kan saat kau mengucapkan kalimat yang seperti itu.

Penggunaan nomer hape kali ini seperti sudah dilarang. Nomor hape seolah telah diharamkan oleh anak-anak yang menyebut dirinya gaul. Tanpa mereka ketahui bahwa sesungguhnya Blackberry yang mereka pakai itu juga lah membutuhkan nomor hape untuk bisa digunakan.

Satu jawaban yang selalu kusiapkan saat aku sedang berkumpul dengan teman-teman  ku disekolah adalah “Aduuh, hape gue ngga kebawa.” Atau “Aduuh, hape gue lobet tadi.” “Gue ngga apal pin BBM gue.”

Karena apa? Setiap kali aku pergi bermain bersama teman-teman sekolahku, hal terakhir yang ditanyakan oleh mereka adalah “Hey, pin BBM lo mana? Bagi dong. Sapa tau gue butuh nih.” Dan jika aku menjawab  “Gue ngga pake BBM.” Maka kau akan segera dihakimi dengan jutaan pertanyaan dan pernyataan yang menjijikan.

“Kok ngga make BBM si?” “Duh, norak lo. Hari gini ngga make BBM.” “Terus kalo ngga lewat BBM lo update informasinya dari mana lagi? Tivi? Hahah” kurang lebih seperti itulah pertanyaan dan pernyataan yang mereka ucapkan jika aku terang-terangan mengaku tidak punya BBM.

Hujatan, cacian, dan bullion akan segera menerpaku jika aku tidak menggunakan BBM. Aku sendiri tidak pernah tau bagaiman ini bisa terjadi. Paradoks gila ini benar-benar membuatku merasa tersiksa.

Bukan karena aku tidak mampu membeli Blackberry seperti mereka, ya tapi karena aku memang masih belum membutuhkannya. Bagiku  mengirim SMS dan menelfon sudahlah cukup.

Selain itu aku juga masih memiliki internet untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru. Dan suatu saat nanti juga aku pasti akan menggunakan BBM jika memang itu menjadi hal yang kubutuhkan.

Kejadian ini membuat hati kecilku bertanya-tanya. Apa mereka ini benar-benar ingin berteman denganku? Atau mereka hanya menganggapku sebagai pelengkap saja disetiap acara mereka? Lalu masihkah mereka mau berteman denganku jika aku tidak gaul (lagi)?”

---oOo---

Back To Top