Anak Orang Miskin Juga Bisa Berprestasi

Contoh Cerita tentang Motivasi – Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagiku. Tidak hanya begiku, tapi juga bagi kedua temanku ini. Hanif  dan Rama. Mereka adalah dua orang yang yang akan berjuang bersama ku dalam lomba cepet-cepetan memencet tombol.


Ini adalah kali pertama SMPku mengikuti lomba ini. Lomba paling bergengsi di provinsi Awan. Lomba yang akan menaikkan gengsi dan kredibilitas sekolah. Lomba yang akan membawa nama sekolah dan daerah menuju tempat yang istimewa di benak setiap masyarakat.

Ini lah kesempatan emas bagi sekolah kami untuk menunjukan siapa kami sebenarnya. Setelah bertahun-tahun diam dan tak menunjukan apapun, kini sekolahku siap untuk menunjukan taring nya di hadapan sekolah lain dan juga pemerintah. SMP Muhammadiyah Kalirejo.

Adalah sebuah sekolah miskin yang bahkan keberadaannya hampir di hapuskan karena sampai saat ini tidak banyak memiliki siswa. Jika sekolah lain memiliki banyak ruangan kelas dan dibagi dari A sampai F untuk tiap kelasnya, SMP kami hanya memiliki tiga ruang kelas yang ukurannya sangat kecil.

Beruntung di depan gedung sekolah kami masih ada papan bertuliskan SMP Muhammadiyah, karena jika papan itu tidak ada, orang-orang yang lewat akan mengira kalau sekolah kami ini hanyalah sebuah gedung kuno peninggalan belanda.

Tahun ini, sekolah kami sangat beruntung karena memiliki dua bocah jenius dari lahir. Yaah, merekalah kedua temanku. Hanif dan Mara. Mereka lah dua bocah yang di dalam kepala nya terdapat sebuah otak yang sangat cerdas.

Mereka lah yang membuka pikiran kami dan memberikan kami semangat untuk bermimpi. Jumlah siswa kelasku yang hanya 14 orang terasa sangat bermakna dengan adanya dua bocah ini.

Mereka laksana soekarno dan hatta yang dengan gagahnya memerdekakan Indonesia. Membawa kami semua keluar dari jurang kebodohan dan kegelapan. Kejeniusan mereka bukan hanya sebuah bualan.

Mereka berdua bahkan sudah sangat paham filosofi kalkulus dan limit yang bahkan anak SMA pun belum tentun tahu. Mereka tau filosofi teorema phytagoras dan juga filosofi trigonometri.

Saat kami semua dalam satu kelas tidak bisa mengerjakan soal matematika dengan cara yang di ajarkan oleh Pag guru, mereka berdua telah menemukan setidaknya tiga cara yang bisa digunakan untuk menyelasaikan soal atau permasalahan yang sama.

Kadang aku suka menguji mereka berdua dengan membuat soal yang aku sendiri tak pernah tau jawabannya. Dengan mencampur fungsi, limit, dan trigonometri aku pun membuat soal asal yang aku sendiri tidak tau jawabannya lalu ku ajukan pada mereka. Dan anehnya, mereka berdua menjawab dengan hasil akhir yang sama.

Aku tak pernah tau cara apa yang sebenarnya mereka gunakan, tapi saat itu mereka hanya memejamkan mata sebelum akhirnya membuka mata dan melontarkan jawaban mereka secara hampir bersamaan.

Lalu mereka saling berhadapan dan tertawa lebar, menunjukan gigi dan gusi mereka yang hitam. Mereka lah dua mahluk jenius alami yang sepertinya tidak akan bisa ku temukan di tempat lain.

***

Setelah cukup jauh kami berjalan mengendarai mobil truk, akhirnya kami tiba juga di kota Bandar Awan. Sebuah tempat yang akan menjadi adu pintar dari seluruh sekolah di Awan.

Setiap sekolah sudah di seleksi dari tiap-tiap daerah. Dan beruntung sekolah kami berhasil lolos di seleksi kabupaten setelah sebelumnya dengan telak mengalahkan sekolah-sekolah negeri di kabupaten kami.

Selama beberapa tahun sebelumnya, hanya ada 9 sekolah yang terus menerus menjadi peserata lomba memencet tombol ini. Dan seolah Awan ini milik mereka, hanya mereka lah yang bersaing di lomba ini.

Sekolah lain seolah tak berdaya bahkan hanya untuk berjalan beriringan dengan mereka. Sekolah lain di paksa puas hanya sebagai penonton dan dipaksa memberikan tepuk tangan juga pujian bagi si juara di akhir perlombaan. Dan tahun ini. Kami sekolah miskin dari pelosok, yakin akan bisa mengalahkan 9 naga itu!

***

Aku duduk di bangku yang sama dengan Rama dan Hanif. Kami berada di regu C dimana kami berlomba di akhir. Jika kami berhasil menang di Regu C ini, kami akan kembali di adu dengan pemenang dari Regu A dan Regu B. Dan setelah itu pemenangnya akan menjadi sekolah paling cerdas di Awan.

Saat berangkat tadi, aku sangat optimis akan bisa menang, tapi sekarang, aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan hanya untuk berharap pun aku takut.

Bagimana tidak, kedua temanku yang aku andalkan sedari tadi hanya diam tertunduk. Seolah tak berani menatap ke sekitar karena peserta lain tampak begitu keren dengan seragam khas mereka masing-masing.

Sementara kami, hanya menggunakan seragam putih biru yang sudah mulai nampak menguning. Tangan mereka basah oleh keringat. Dan ketika aku mencoba memegang tangan mereka, tanggannya benar-benar terasa begitu dingin.

Para supporter dari sekolah lain tampak begitu bahagia dengan spanduk dan kamera mereka. Tak henti-hentinya mereka memotret jagoan mereka masing-masing.

Sementara supporter kami yang hanya berjumlah 13 orang yakni kedua guru ku dan juga 11 teman sekelas ku, hanya membawa sebuah bendera Muhammadiyah yang tampak sudah mulai lusuh.

Jangankan mengeluarkan kamera, aku yakin Pak Muh-seorang guru MTK di smp kami- juga pasti tidak berani mengeluarkan hendphonnya karena dia sadar handphonnya sudah sangat ketinggalan zaman.

Beberapa juri dan pembaca soal sudah mulai menduduki mejanya masing-masing. Mereka menyambut para penonton dan kemudian menyuruh para penonton untuk mengurangi kegaduhan Karena lomba akan segera di mulai.

“Soal pertama… Kapankah virus di anggap hidup dan kapan virus dianggap mati lalu jelaskan…”  “teeeeet…” Wanita cantik berbaju rapih itu tiba-tiba berhenti membacakan soal karena Hanif dan Rama yang berada di sampingku sudah menekan tombol. Aku masih sedikit tidak percaya kalau mereka masih memiliki semangat sebesar ini.

“Virus akan dianggap hidup jika dia sudah menempel pada inangnya dan kemudian akan dianggap mati jika dia tidak menempel pada Inangnya.” Ucap Hanif pasti.”

“Virus dikatakan hidup jika menempel pada Inangnya karena hanya dengan menempel pada inangnyalah dia akan bisa mendapat kan bahan genetik. Dan jika tidak bisa mendapatkan bahan genetic dari inangnya virus akan tetap dianggap mati karena hanya memiliki satu bahan genetic.” Ucap Rama seolah tak mau kalah dari Hanif.

Juri hanya terdiam, mungkin mereka kaget karena sekolah kampung yang tidak pernah muncul di lomba ini tiba-tiba bisa menjawab pertanyaan macam ini dengan lancar.

“Apa kah bentuk dari bahan gentik tersebut?” Ucap salah satu juri seolah tak yakin dengan jawaban Hanif dan Mara.

“Bisa berupa DNA maupun RNA.” Jawab Rama mantap.

“Apa itu DNA dan apa itu RNA?” Tanya jurin lagi.
“Deoxyrebo Nuclead Acid dan Reoxyrebo Nuclead Acid. Bahan genetic yang sudah pasti ada dalam darah setiap mahluk yang hidup.” Jawab Hanif mantap seolah menantang Rama.

Matanya menatap juri lekat seolah menunggu pertanyaan selanjutnya. Rama dan Hanif benar-benar seperti Harimau kelaparan yang sedang menunggu pawangnya memberikan makanan. “Seratus!” ucap Juri keras.

Suporter kami berteriak keras. Mereka kegirangan dengan jawaban Hanif dan Rama.  Tapi kemudian diam karena hanya mereka lah yang berteriak kegirangan. Supporter sekolah lain hanya diam dan menganggap kami ada lah sekelompok orang yang beruntung.

Sesekali ada gadis yang mencibir kami dan aku mendengarnya, tapi aku tetap berusaha untuk konsentrasin dengan pertanyaan selanjutnya.

“Soal kedua, tentukan turunan pertama dari  y = sin 4x + cos 6x.” ucap si wanita pembaca soal. Dan hanya sekitar dua detik aku melihat Hanif dan Rama memejamkan mata, tiba-tiba mereka sudah menekan tombol lagi. Aku tau pasti bahkan Tim lain sama sekali belum sempat mencatat soalnya.

“y aksen sama dengan empat kos empat ex dikurang enam sin enam x.” Ucap mereka berdua hampir bersamaan. Lalu tatapan mereka berdua bertemu dan tertawa lebar.

“Seratus!” ucap juri lagi. Semakin lama perlombaan ini seperti perlombaan sepihak. Seolah Hanif dan Rama bisa melihat jawaban yang ada di kertas juri, mereka melahap semua soal yang ada tanpa memberikan satu pun poin kepada sekolah lainnya.

Sesekali aku melihat peserta dari regu lain membanting pena nya gara-gara kecepatan Hanif dan Rama. Ini justru tidak tampak seperti perlombaan antar sekolah di mataku. Ini justru malah tampak seperti perlombaan antara Hanif dan Rama. Dan lomba di regu C pun berakhir dengan SD Muhammadiyah sebagai pemenangnya dengan nilai sempurna.

Akhirnya kami bertiga pun memasuki lomba terakhir. Tiga sekolah paling cerdas se Awan di adu disini. Dan ini akan jadi sejarah besar  bagi SMP Muhammadiyah jika kami bisa menang.

Seperti sebelumnya beberapa dewan juri dan juga wanita pembaca soal menyuruh para supporter untuk mengecilkan suaranya. Kali ini supporter dari SMP Muhammadiyah sudah berani berkoar gara-gara kemenangan telak kami. Dan di lomba selanjutnya ini, kami akan melakukan hal yang sama!

“Soal pertama..Biologi” Ucap wanita pembaca soal. “Robert Brown mengemukakan adanya benda kecil yang terapung dalam cairan sel yang disebut?” “Teeet…!!!” Hanif menekan tombol sangat cepat mendahului kelompok lain. “Nukleus!” Ucap Hanif pasti. “Seratus!” Ucap Salah satu juri.

“Soal kedua..matematika” Ucap wanita si pembaca soal.
“Tentukan y’ dari y = 4 sin x + 5 cos x” ucap si wanita.

Kulihat Hanif dan Rama sedang memejamkan mata. Dan kelompok lain sedang sibuk dengan kertas juga penanya. “Teeet..!” Baru sekitar dua detik kurasakan Hanif  memejamkan mata, tiba-tiba dia sudah memencet tombol lagi.

“Y sama dengan lima cos X min tiga sin X.” Hanif yang memencet tombol tapi Rama lah yang berteriak lantang. Kulihat Hanif tersenyum menatap kea rah Rama. Dia terlihat bangga pada Rama yang memiliki jawaban sama dengan dirinya.
“Seratus!” ucap juri lagi.

Soal-soal selanjutnya masih sama. Semua di lahap habis oleh Rama dan Hanif. Sedangkan aku hanya bisa diam melihat kehebatan mereka berdua. Begitu juga kelompok lain.

Mereka hanya terpaku sambil sesekali mengacak-ngacak rambut karena merasa frustasi dengan kegilan Hanif dan Rama. Dan akhirnya Sekolahku menang dengan skor 2500. 25 soal yang ada di tangan juri telah di lahap habis oleh Hanif dan Rama.

Sekolah lain sesekali berusaha mencegah kecepatan Rama dan Hanif dengan cara memencet tombol lebih dulu dari Hanif dan Rama tanpa memikiran jawaban mereka. Alhasil mereka pun mendapatkan nilai minus.

Kulihat para supporter kami yang hanya berjumlah 13 orang berteriak kencang. Bu Muslihah tampak menangis haru ketika melihat hasil kerja keras tim kami. Sekolah miskin dengan siswa-siswa miskin di dalam nya telah membuat prestasi baru. Juara Lomba Cerdas Cermat Se-Provinsi Awan!.

---oOo---

Back To Top