Air Conditioner (AC) dan Nyaliku yang Ciut

Namaku Suradi, aku pemuda kampung dari desa yang asri. Desa ku itu yaitu desa terpelosok nan jauh dari keramaian. Suatu hari ketika aku jenuh akan kehidupanku yang begitu-begitu saja tanpa ada perubahan. “Aku harus merubah kehidupanku dan keluargaku”, pikirku.


Aku memutuskan untuk pergi merantau ke kota besar Jakarta. Itulah cita-citaku dari dulu untuk memperbaiki nasib keluargaku

Di saat mau berangkat ke kota semua keluargaku mengantarkanku ke terminal. Terminat itu tak begitu jauh dari desa, sekitar 15 km dari rumah. Maklum aku belum pernah pergi kemana-mana waktu di desa.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Anak yang kedua adikku, perempuan yang masih sekolah dasar. Aku tak mau kalau adik-adikku harus putus sekolah sepertiku. Karena itulah aku ingin berjuang.

Di saat mau berangkat air mata orang tuaku pun jatuh. Sepertinya, ia tak tega melepas ku untuk merantau ke sebrang. Tapi apalah daya, semua itu harus aku lakukan untuk memperbaiki nasibku dan keluargaku.

Mobil bus yang aku tumpangi semakin lama semain menjauh dari orang tuaku. Sebenarnya aku tak tega melihat ibuku menagis melepasku.

Waktupun berlalu. Setelah aku sampai di Jakarta mencari kerja dengan ijasah SD-ku berharap ada yang mau menerimanya. Tanpa keahlian apapun aku menyodorkan  berkas lamaranku ke berbagai lemaga instansi, toko toko, dan lain lain.

Berharap ada salah satu yang menerimaku untuk menjadi karyawanya. Di saat aku melamar di salah satu instansi di kota Jakarta. Sebenarnya langkahku sangat berat untuk melamar kerja di sana karena ijasah yang ku pegang dan tanpa adanya keahlian yang ku miliki.

Akhirnya aku memutuskan untuk melamar pekerjaan, “entah di terima atau tidak setidaknya aku sudah mencobanya”. Saat itu aku takut ada orang yang menjaga gedung itu dengan tubuh besar tegak yang menjaganya. Tapi aku tetap melangkahkan kaki ku untuk memperbaiki nasib keliuargaku.

Lalu aku mendekati orang yang sedang berdiri dengan gagahya itu seraya berkata, “Pak …!”, dengan senyuman kecil di bibir. Tanpa berkata apapun dia membukakan  pintu yang terbuat dari kaca itu. “Dia bisu apa yah...?” pikirku.

Aku melanjutkan langkah kaki ku untuk masuk, tiba-tiba suhu ruangan berubah menjadi dingin lalu aku ke luar ruangan lagi. “Kenapa mas”, kata penjaga gedung itu. “Dingin pak?”, kataku.“Oh itu karena ada AC-nya”

“AC .. apa itu AC kenapa bisa membuat ruangan ini menjadi dingin?” tanyaku. Dia pun menjelaskan cukup panjang tentang AC itu. Lalu aku memutuskan untuk melamar ke gedung yang lain untuk memperbaiki nasibku karena gedung itu sangat dingin.

---oOo---

Back To Top