Virus dan Komputer Baru

Kali pertama aku memiliki komputer adalah waktu aku kelas 2 SMP. Waktu itu aku merasa senang sekali karena masih belum banyak teman-teman di sekolahku yang memiliki komputer sendiri.


Waktu itu sepulang sekolah aku meminta sesuatu kepada ayahku. Aku bilang aku ingin dibelikan komputer sendiri karena aku rasa aku sudah membutuhkannya. Ayahku pun mengiyakan permintaanku tapi dengan satu syarat.

Aku harus menjadi juara satu lagi di kelas. Sulit memang, mengingat saingan di kelasku yang sekarang. Terlebih seorang pria itu. Pria yang selalu mengganggu dan merugikan hidupku.

Dialah Daniel, dia dan aku selalu berada di urutan pertama dan kedua selama semester-semester sebelumnya. Dan di semester kali ini aku harus bisa mengalahkannya demi komputer baruku.

“Kamu itu ngapain si? Suka banget buli aku?” Tanya ku pada Daniel.
“Ngapapa si, aku kan cuma ngomon apa adanya.” Ujar Daniel dengan santai.
“Nih ya, namaku itu Reni! Bukan Kurus!” Ucapku sedikit membentak.
“Iya, ya tapikan badan kamu kurus. Ngga salah dong kalo aku panggil kamu kurus?”

“Hiiiiii” ujarku jengkel sambil meninggalkan Daniel. Aku dan Daniel akhir-akhir ini memang sagat tidak akur. Hanya ada masalah sedikit saja bisa terjadi keributan. Terasa sangat menjengkelkan ketika dia memanggilku kurus. Ingin sekali rasanya aku mencubitnya sampe biru.

Ujian akhir semester akan segera dimulai. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam pertengkaranku dengan Daniel. Aku harus fokus untuk belajar demi komputer baru. Dan karena namaku dan Daniel berbeda jarak jauh dalam hal abjad, akhirnya aku bisa berpisah kelas dengan Daniel.

Meski begitu, aku tetap tidak bisa menghilangkan dia dari hidupku. Dia selalu saja datang dan membuli ku. Pertengkaran-pertengkaran kecil pun tak bisa dihindarkan. Aku memang merasa jengkel ketika dia membuliku, tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain ketka dimea membuliku.

Hari ini adalah hari terakhir ujian. Aku segera selesaikan soal ujianku dengan mudah, karena semalam aku sudah belajar mati-matian. Sepulang sekolah, aku tidak melihat sosok Daniel.

Entah kenapa aku mulai merasa merindukan bulian dan juga pertengkaran dengannya. Aku berjalan kedepan gerbang untuk menunggu angkot. Saat aku sedang menunggu tiba-tiba Daniel muncul dihadapanku.

“Heh kurus, pulang bareng yuk” Ujarnya diatas motornya itu.
“Serius?” tanyaku
“Iya lah. Ngapain aku becanda.” Ucap Daniel. Aku benar-benar kegirangan. Tanpa pikir panjang aku pun akhirnya langsung naik ke motor Daniel.

Selama perjalanan kami memang lebih banyak diam. Tidak banyak yang kami katakan. Hanya beberapa saja. Sampai akhirnya tiba juga kami didepan rumahku. Kuucapkan terimakasih pada

Daniel dan aku segera masuk rumah. Begitu masuk rumah aku merasa sangat terkejut. Ayahku ternyata sudah membelikan aku komputer tanpa harus menunggu hasil ujian akhir keluar.

“Loh pah, kok udah dibeliin komputer? Kan hasil ujiannya belum keluar?”
“Iya nggapapa Ren, papa percaya sama kamu kok. Kamu pasti bisa jadi juara satu.”
“Makasih paa..” Ucapku sembari memeluk ayahku. Senang sekali rasanya aku memiliki ayah yang baik. Benar-benar merasa seperti orang paling beruntung di dunia.

Keesokannya adalah hari pembagian rapot sekaligus hari pengunguman hasil juara kelas. Seperti biasa kami semua berbaris di halaman sekolah sesuai urutan kelas. Dari depan tampak pak kepala sekolah menyampaikan sedikit pidato nya agar kami semua lebih semangat belajar dan terus belajar.

Lalu setelah itu dia menyebutkan nama-nama yang menjadi juara umum. Dan ternyata namaku ada dalam deretan nama-nama sang juara.

Aku benar-benar berhasil menjadi juara satu, sementara Daniel mendapatkan juara dua tepat dibawahku. Senang sekali rasanya, dan baru kali ini aku mengucapkan selamat kepada Daniel.

“Selamat ya Dan.” Ucapku lirih
“haha iya ren, kamu juga” jawabnya dengan senyum lebar
“Besok kita bakalan satu bulan engga ketemu dan.”
“Iya terus?”

“Ya engga papa si. Aku pengen akur aja sama kamu.”
“Oooh, iya deh iya. Haha kirain kamu  bakalan kangen sama aku.”
“yee enak aja. Kamu kali yang bakalan kangen sama aku. Sapa lagi yang mau kamu buli coba kalo bukan aku?”

“haha iya juga ya. Tapi ntar pasti kamu bakal kangen sama bulianku.”
“haha semoga aja engga.”
“Semoga aja iya.”
“yaudah sampai jumpa dua minggu lagi ya” ucapku sembari tersenyum
“Iya. Sampai jumpa” jawabnya.

Mulai kurasakan sesuatu kenyamanan antara aku dan Daniel. Entahlah apa arti rasa nyaman ini. Tapi yang aku tahu aku dan Daniel sekarang sudah sangat akrab. Mungkin ini karena dia lagi sakit saja hahah. Atau mungkin dia lagi  kejangkit virus cinta. Makannya dia baik terhadapku.

---oOo---

Back To Top