Teror Hantu Si Biang Kerok

Malam semakin mencekam dengan banyaknya suara anjing yang menggonggong disekitar desa. Suara jangkrik yang terus berbunyi juga menambah kesunyian malam. Di sebuah pos ronda tampak Parman, Kasdo, Karman, dan Purwoto sedang asik bermain kartu.


Kondisi desa saat ini sedang kacau balau karena akhir-akhir ini ada banyak sekali kasus pencurian yang terjadi. Kegiatan ronda malam pun diadakan guna mengatasi kondisi tersebut.

“Dingin banget ya malam ini” ucap Kasdo sembari menarik sarungnya menutupi badan.

“Iya nih, dingin banget.” Ucap Parman menimpali.
“Heh, kalian tau engga kemaren di kompleks sana itu ada yang liat hantu.”  Ucap Kasdo memanaskan suasana.

“Waaah, lu malem-malem gini jangan ngomongin hantu-hantu dong do.” Ucap Purwoto.

“Emang bener kuproy, kemaren itu gue denger di komplek sana ada yang ngeliat hantu. Hantunya itu sejenis kayak bajang yang suka ngisep darah. Incerannya itu hewan ternak milik warga.

Kadang kalo ngga dapet darah ternaknya si katanya bakalan ngincer darah pemiliknya.” Ucap Kasdo menambah panas suasana.

“Waduuh, lu jangan nakut-nakutin dong. Udah jam berapa ini.” Ujar karman
“Iya, udh malem-malem begini lo palah cerita hantu-hantu si.” Ujar Purwoto sewot.

Saat sedang asyik mengobrol, dari ujung gang nampak seorang gadis cantik sedang berjalan menuju kearah mereka. Tubuhnya langsing dan tinggi, wajahnya juga sangat cantik, dan aroma parfumnya sangat menggoda. Wanita itu berjalan sendiri di tengah malam.

“Heh, he, liat tu ada cewek.” Ujar Parman sembari menunjuk kearah siwanita?
“Mana cewek mana?” Ujar Kasdo dengan wajah mencari.
“Itu lo itu diujung gang sana.” Ucap Parman.

“Wah iya cewek tuh. Ngapain ya malem-malem gini jalan sendirian. Kayaknya jalannya juga kearah sini tuh.” Ucap karman antusias.
“Lu tanyain coba man, tu cewek mau kemana?”

“Hahah dasar lo, nanyain cewek cakep aja kagak berani.” Ucap Karman yang sudah berdiri di depan pos ronda. Tidak lama berjalan si wanita itu pun sampai di depan pos ronda.

Karman dan teman-teman yang lainnya berusaha menggoda, namun sayang si wanita itu sama sekali mengeluarkan kata-katanya.

“Huui cewek, mau kemana neng malem-malem gini?” goda Karman. Namun siwanita hanya tersenyum dan tak memberikan balasan.

“Malem-malem kok sendirian, sini abang temenin.” Ucap Purwoto. Usaha Purwoto pun juga sama tidak mendapatkan tanggapan. Wanita itu hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya.

Karena merasa sangat penasaran, Kasdo dan yang lain pun berjalan mengikuti wanita itu. Namun lama-kelamaan mereka merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Wanita itu berjalan kea rah belakang rumah seorang warga.

Di belakang rumah itu ada satu buah kandang sapi yang berisi beberapa ekor sapi. Sejenak tiba-tiba wanita itu menghilang dari hadapan Kasdo dan kawan-kawan.

“Wah, kemana itu perginya si cewek.” Ucap Kasdo.
“Iya kemana ya, perasaan tadi lewat sini.” Ujar Purwoto menimpali
“Wah… jangan-jangan tu cewek mau maling ya.” Ujar Parman.
“Aaah, ngada-ngada lo. Mana mungkin cewek cakep kayak dia mau maling.” Ujar Karman.

“B..broo..broo..ada apaan tu, di atas pohon.” Ucap Purwoto gemetaran.
“Apaan si lo ini to.” Ucap Kasdo sewot.
“I.ii..itu Bajang!!!” Teriak Purwoto sembari berlari meninggalkan yang lainnya.

“Bajang? Bajang apaan si?” ucap Kasdo heran.  Lalu mereka bertiga pun menengok kearah pohon yang dimaksudkan oleh Purwoto.

Dan ternyata benar saja. Sudah nampak kepala bayi penuh dengan darah dan taring yang sedang terbang. Tampak tawa jahat diwajah bayi itu. Mengetahui ada nya kemunculan bajang itu, mereka bertiga pun segera berlari menyusul Purwoto.

Keesokan harinya terdengar kabar bahwa sapi-sapi milik Pak Rohman sudah hilang. Hanya ada beberapa usus dan organ dalam sapi lainnya yang tertinggal di kandang. Dan banyak yang berkata kalau itu adalah ulah setan bayi bajang.

---oOo---

Tag : Cerpen, Hantu, Horor
Back To Top