Sepanjang Waktu Menanti Dia

Cerpen, ini adalah sebuah kisah cerita pendek yang merupakan karya fiksi. Bisa saja terinspirasi dari kejadian nyata tetapi kisah ini bukan kisah nyata. Kalau ada kejadian sama itu hanya kebetulan saja dan bukan disengaja oleh penulis. Lalu, seperti apa kisah cerpen kali ini?


Masih dengan tema cinta, kali ini kita akan masuk ke dunia remaja anak sekolah yang mulai mengenal cinta-cintaan. Ya, masa-masa yang katanya begitu indah tapi biasa menjadi sampah dan ditinggalkan. Kisah pengalaman hidup yang pada akhirnya hanya membentuk goresan ingatan.

Warna cinta remaja tidak selalu merah muda, tidak pula selalu hitam kelam atau biru cerah. Kadang ada kombinasi yang tak masuk akal, kadang juga ada sesuatu yang membingungkan tapi membekas di angan. Begitulah masa indah di sekolah.

Karya berjudul “menanti dia” berikut ini akan menceritakan sebuah penantian seorang remaja untuk mendapatkan cinta yang bersemi di hati. Mungkin berakhir sedih, atau mungkin bagia, siapa yang tahu!

Sepanjang Waktu Menanti Dia
Kisah Cinta Pelajar

Malam semakin kelam ditambah gundahnya hatiku. Bulan kali ini tidak tampak cerah, bintang pun seolah malas menunjukuan sinarnya. Setiap kali aku menengadahkan wajahku keatas, yang terlihat hanya kegelapan, tak ada cahaya. Sangat cocok dengan suasana hati sekarang.

Sudah satu minggu lebih dia tidak membalas pesanku. Sudah satu minggu pula dia menghilang dari kehidupanku. Yaah,.. aku merindukannya.

Saat semuanya sudah terlambat dan semuanya sudah hancur aku baru sadar kalau aku merindukannya. Menyesal sudah pasti. Aku sudah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus mencintaiku.

Tidak hanya merindukan senyumannya, ya, tapi aku juga merindukan tawa dan juga kejahilannya. Memang aku yang salah karena aku terlalu cuek selama ini. Aku terlalu sibuk dengan sesuatu yang pasti sampai-sampai aku tidak sadar kalau ada seseorang yang begitu tulus mencintai ku.

Sekarang dia sudah menghilang. Pergi membawa sejuta penyesalan yang entah kapan bisa menghilang.

Sudah tiga jam lebih aku terbaring di tempat tidurku. Tapi mataku tak kunjung terpejam. Mimpi indahpun tak kunjung menjemputku. Air mata ini sudah tiga jam kutahan.

Ingin sekali rasanya aku meneteskannya. Tapi seketika aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa untuknya. Aku sama sekali tak berhak atas dirinya. Bahkan hanya sekedar untuk meneteskan air mata. Oh Tuhaan…. Tolong segera lah cabut bayangannya dari benakku..

***


Pagi yang cerah akhirnya tiba. Setelah semalaman dilanda sebuah kegalauan, akhirnya aku bisa juga melewati malam yang kelam. Mentari hari ini terlihat begitu terang.

Cahaya orange nya terasa hangat menembus melewati cela-celah jendela kamarku. Aku langsung beranjak menuju kamar mandi dan kemudian bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Ku langkahkan kakiku menuju kelas. Aku pikir kegalauanku sudah hilang menguap terkena hangatnya sinar matahari. Tapi ternyata, taka da satu pun kegalauan yang menguap dari hatiku.

Semuanya masih terasa sama. Bayangannya masih nampak jelas didalam benakku. Tidak banyak yang berubah. Bahkan penyesalan ini terasa semakin dalam dan begitu menyakitkan.

Aku masuk ke dalam ruang kelas dan kemudian ku taruh tas ku dibangku. Aku duduk dibarisan paling depan. Tempat ini sengaja ku pilih agar aku bisa menerima pelajaran dengan maksimal.

Saat sedang duduk, tiba-tiba bayangannya datang lagi. “Selamat pagi Amel…” Itulah yang selalu dikatakannya disetiap pagikuu. Sekarang aku sadar ternyata aku benar-benar merindukannya. 

Seperti ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku. Ah, aku merasa sudah sedikit gila.
“Lo kenapa mel?” Ucap Angel yang tiba-tiba mengagetkanku.
“Ah.. eng..engga kok engga papa.” Jawabku gugup.

“Huuu pagi-pagi udah ngelamun.. kesambet ntar lo.” Ucap Angel cengengesan. Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya.

Oh Angel seandainya kamu tahu isi hatiku sekarang, dan kamu bisa ngerasainnya, bisa mati mungkin kamu ngel. Bisikku dalam hati.

Cukup lama aku duduk didalam kelas, akhirnya Pak Narto masuk juga kedalam kelas. Yah.. aku berharap semoga saja aku bisa melupakan bayangannya untuk sejenak. Aku tidak mau bayanganku menggangguku untuk menyerap pelajaran.

Aku sudah sekuat tenaga untuk tetap fokus, tapi tetap saja. Bayangannya terlalu lekat untuk ku hilangkan dari benakku. Aku tak cukup kuat untuk menepis bayangnya.

Logika ku tak kunjung menemukan cara ampuh untuk menghapus semua bayangannya. Sampai dua jam pelajaran pak Narto berlalu, aku sama sekali tak mendapatkan apa-apa.

Setiap kata yang keluar dari mulut pak Narto seolah malas untuk masuk kedalam otakku yang penuh dengan baying dirinya. Sial, sampai kapan aku akan terus seperti ini.

Aku dan Angel berjalan menuju kantin seperti  biasa begitu kelas usai. Dalam perjalanan, aku berhenti sejenak menatap kea rah lapangan futsal. Lagi-lagi bayangannya muncul.

Dia berlari, melompat, lalu menendang bola. Tawa lepas itu.. senyum itu… Aku benar benar merindukannya. Ku angkat tanganku kea rah lapangan futsal. Ku coba menggapai bayangannya.

Tapi seketika bayangan itu menghilang. “Maafkan aku Dimas”, tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Ku pejamkan mata ku dan dengan cepat kucoba menghapus air mataku.

“Lo kenapa Mel?” Tanya Angel yang berjalan disisiku.
“Ah.. engga kok engga papa.”


“Lo nangis? Hah? Kenapa? Lo nangis kenapa?” Ucap Angel yang mulai panik melihat mataku memerah.
“Engga kok engga papa. Beneran. Udah ah yuk jalan ke kantin.” Ucapku berusaha menenangkannya.

“Beneran nggapapa? Yaudah ntar di kantin cerita ya?.” Ucap Angel lagi. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Aku tidak tahu apa aku benar-benar harus menceritakan hal ini. Bisa-bisa Angel palah akan menertawaiku. Lebih dari itu bahkan aku tidak tau apa yang harus aku ceritakan.

“Lo tadi kenapa?” Tanya Angel yang kini sudah duduk dihadapanku. Kami sengaja memilih meja yang berada dipojokan agar tidak banyak orang yang memperhatikan kami.

“Engga kok enggak apa-apa.” Ucapku pelan sambil berusaha tersenyum.
“Dimas ya?” Tanya nya berusaha menebak. Aku langsung kaget mendengar ucapannya. Air teh yang sudah mulai masuk perlahan kedalam kerongkonganku tiba-tiba saja tersentak dan berusaha kembali.

“Ih.. kok lo ngga cerita dari kemaren-kemaren si? Katanya lo sahabat gue?” Ucapnya lagi. Dia kali ini tampak protes dan sedikit sinis padaku.

“Sori ngel sori, bukannya ngga mau cerita. Tapi gue bingung mau cerita apa. Lagian dia juga sekarang udah ngga sekolah disini lagi.” Ucapku datar. Aku menunduk dan menatap kosong ke arah gelas yang masih penuh dengan air teh didalamnya.

“Lo kehilangan dia?”
“Kayaknya”
“Lo cinta sama dia?” Ucap Angel tiba-tiba mengagetkanku. Kuangkat wajahku. Mataku menatap lekat kea rah Angel.

“Yaaah… ini bocah, kirain lo udah mati rasa ternyata masih punya rasa juga ya.” Ucapnya sambil tertawa.

“Iiih, apaan si lo ini ngel ya masih lah.” Ucapku protes. Wajahku terasa panas ketika mendengar Angel mengakatakan kata cinta. Yah.. mungkin benar kata Angel. Mungkin aku memang sudah jatuh cinta dengan Dimas.

“Kayaknya si gitu ngel. Tapi.. sekarang semuanya udah terlambat. Dia udah pergi gara-gara gue. Sekarang gue ngerasa bersalah sama dia.”
“Kok lo ngomong gitu si?”


“Dulu pas dia sering ngeledekin gue dan sering merhatiin gue, gue selalu cuek sama dia. Dulu gue terlalu sibuk sama Andre. Dan sekarang gue nyesel. Gue ngerasa bersalah udah nyia-nyian perhatiannya Dimas ngel. Dan sekarang mungkin Dimas udah bahagia di Jogja.”

“Husttt.. jangan ngomong gitu mel. Dia itu pergi bukan karena elo. Dia pergi karena keluarganya disana. Dan lo juga ngga boleh nyerah gitu aja dong.”

“Ya kalo emang bukan karena gue dia pindah harusnya dia masih tetep sekolah disini kan. Tinggal tempat tantenya kek, atau ngekost kek. Ya gimana lah. Yang penting tetep sekolah disini.”

“Hahah lo ada ada aja si mel. Terus lo sekarang pengen ngelupain dia?”
“Kayaknya.”


“Jangan mel. Simpen rasa itu mel. Kalau emang kalian itu jodoh, dia pasti bakal balik lagi kesini.” Ucap Angel semangat.

Aku hanya tersenyum getir ke arahnya. Yah.. setidaknya aku sudah merasa cukup lega setelah membuat pengakuan cinta didepan Angel.

Sekarang aku sudah semakin siap untuk memberikan dia sebuah penantian.  Dimas, cepatlah pulang. Cepat kembali dan jangan pergi lagi. Aku merindukanmu.

---oOo---



Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top