Rebutan Baju Baru Lebaran dari Ibu

Hari hari berlalu, bulan pun berjemput. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari hari yang dilalui pun begitu mudah, saat tiba di penghujung bulan puasa aku dan adikku tari sangat senang.


Karena ibu menjanjikan untuk siapa yang bisa melaksanakan puasa full satu bulan akan mendapatkan hadiah baju baru untuk dipakai lebaran esok.

“besok bulan puasa lo? Siapa yang puasanya bulan ini full akan ibu kasih hadiah baju baru untuk dipakai lebaran esok” kata ibu? Sambil merayu kami.

“benarkah bu” sahut kami sacara bersaaan.
“iya, tapi untuk yang full ya puasannya tidak bolong” jawab ibu lagi.
“iya bu kami janji” sahut kami lagi secara bersama sama.

Aku dan adikku berlomba lomba untuk mendapatkan baju baru itu. Karena kami adik kakak yang tidak terpaut jauh umurnya, jadi kami sering bertengkar tentang hal yang sepele. Seperti rebutan baju, rebutan mainan, dan rebutan apa saja yang di inginkanya.

Kami adik kakak yang tidak akur sering bertengkar tapi sebenarnya aku sangat menyayangi adikku. Dan banyak yang bilang kalau kami seperti kembar tapi tapi kenyataanya tidak.

Waktu puasa hari pertama aku sangat bersemangat untuk menjalaninya. Dan waktu ibu membangunkan aku dan adikku untuk sahur, aku memang aku masih bermalas malasan untuk sahur.

Tapi ibu mengingatkan kembali kepadaku tentang baju baru itu. “Berarti kamu tidak mendapat baju baru dong, biar buat adik saja bajunya” kata ibu sambil merayuku dan membangunkanku.

Aku pun bangun dan mejalankan sunah dan kewajiban sebagai seorang muslim.
Jam berlalu dan hampir menunjukan waktu untuk berbuka tapi aku sudah tidak sabar untuk berbuka.

“ibu, kapan berbukanya apakah saya sudah boleh makan” tanyaku dengan menahan lapar. Sedangkan adiku asyik bermain dengan ayah.
“sebentar lagi sayang” sahut ibu sambil mempersiapkan makanan untuk berbuka.
“tapi aku sudah tidak kuat bu? Tanyaku lagi.
“berarti kamu tidak dapat baju baru dong, biar bajunya buat adik saja?” jawab ibu lagi
“aku terdiam lesu sambil cemberut”

Tiba tiba adikku lari dan menghampiriku dan ibu. “ibu apakah saya sudah boleh makan?” Tanya adik dengan semangatnya karena mau makan. “Belum sayang, lima menit lagi” katanya dengan nada yang lembut.

Kami menunggu lima menit bagaikan satu jam lamanya. Akhirnya waktu berbuka sudah tiba kami semua segera berbuka puasa. Disela sela kami semua sedang berbuka ayah berbicara, “makanya jangan banyak banyak nanti kekenyangan dan ngantuk terus tidak bias traweh lagi”
“ya yah” jawabku?

Waktu pun berlalu, aku dan adikku melewati hari hari itu dengan susah payah untuk menahan lapar. Akhirnya lebaran pun berjemput tinggal menunggu jam saja. Tak terasa takbir telah berkumandang dimana mana, aku senang dan bermain dan ikut meramaikan kumandang takbir di masjid.

Dan keesokan harinya, benar janji ibu untuk membelikan baju baru terpenuhi. Ibu akan mengasihkannya kalau sudah mandi.

“Ayo mandi dulu dan nanti pakai baju barunya dan berangkat ke masjid untuk sholat ied” kata ibu?

Setelah mandi ibu memberikan baju baru tapi kali ini ibu memberikan baju yang tidak sama aku ingin baju yang dipakai adikku. Dan aku pun merebutnya tapi adikku tidak mau mengalah begitu pun dengan aku, aku tetap saja menginginkan baju yang buat adikku.

Sampai aku menangis begitupun dengan adikku sampai kami tidak sholat id gara gara rebutan baju itu.

Akhirnya salah satu dari kami harus mengalah dan ibu berjanji lagi untuk yang mengalah akan dibelikan lagi. Akhirnya saya sebagai kakak tertua mengalah.

Karena dalam suasana lebaran yang identik dengan maaf-mafan, akhirnya kami semua bermaaf-maafan ke keluarga dan ataupun ke tetangga terdekat.

---oOo---

Back To Top