Kumpulan Cerpen Menarik tentang Natal dan Tahun Baru

Cerita cerpen tentang natal dan tahun baru - natal dan tahun baru adalah suasana gembira dan bahagia, apalagi untuk anak muda, remaja. Tahun baru dan perayaan natal biasanya akan ditunggu dan menjadi moment indah bersama orang terkasih. Kisah dalam cerpen kali ini akan memuat seputar tema tersebut, penasaran bukan?


Dari tahun ke tahun yang sudah berlalu tentu saja ada banyak kisah menarik seputar perayaan natal dan pesta tahun baru yang bisa diangkat menjadi sebuah cerpen. Bisa yang berupa suasana kegembiraan, kisah konyol, kejadian lucu bahkan percintaan.

Agar bahan bacaan yang sudah ada semakin lengkap maka kita akan mencoba membuat kumpulan cerpen natal baik yang pendek, sedang maupun yang panjang. Dengan begitu maka tema-tema cerita yang bisa dibaca akan semakin banyak.

Nah, kali ini kita akan membuka koleksi cerpen ini dengan sebuah cerpen yang pendek. Cerpen kali ini berjudul “natal bersama kekasih gelapku”. 

1) Pesta tahun baru
2) Natal terindah
3) Natal kenangan
4) Natal dan tahun baru terakhir


Kalau dilihat dari judulnya, cerita ini tentu akan berpusat pada kehidupan remaja muda mudi yang berkaitan dengan natal.

Menarik kedengarannya jika kita melihat judul yang digunakan. Tapi tentu kita belum bisa menyimpulkan bagaimana ceritanya. Makanya dari pada penasaran dan terbawa mimpi, lebih baik kita nikmati saja cerpen tersebut.

Natal Bersama Kekasih Gelapku
Cerpen tentang Natal dan Tahun Baru

Semilir angin malam bandung berhembus membelai lembut kulitku. Sesekali rambutku terurai karena jahilnya hembusan angin. Kubenarkan rambut ku dan aku kembali berjalan menyusuri jalan setapak di kota Bandung.

Malam ini adalah malam yang begitu istimewa bagiku. Aku sudah membuat janji dengannya untuk bertemu di apartemen tempat biasa kami bertemu. Kupercepat langkahku, hatiku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.

Menatap wajahnya, membelai rambutnya, dan kemudian bercinta dengannya. Cukup lama aku berjalan, akhirnya aku sampai di apartemen yang aku tuju. Belum sempat aku menekan tombol bel tamu, dia sudah membukakan pintu untukku.

Akhirnya setelah harus menunggu kurang lebih satu minggu, sekarang aku bisa kembali bertemu dengannya.

Tanpa ragu ku peluk erat tubuh pria kekar itu. Dengan kumis tipis diatas bibirnya juga lesung pipit saat ia tersenyum, dia benar-benar membuat jantungku berdesir tiap kali bertemu dengannya.

“Ayo masuk dulu sayang..” Ucapnya menyuruhku masuk. Dilepaskannya pelukanku dan dibawa nya aku masuk ke dalam apartemen. Aku hanya tersenyum dan pasrah membiarkan tangannya menggandeng tanganku.

“Kamu kemana aja si? Kok lama?.” Tanya nya padaku sembari membereskan mejanya.

“Eng.. tadi aku harus nemenin tunanganku dulu, dia minta aku dateng kerumahnya. Terus ngerayain malam natal bareng keluarganya.” Jawabku lembut.

Dia hanya terdiam tanpa suara. Aku tahu ini memang berat untuknya. Tidak hanya untuknya, tapi juga untukku. Aku sadar mungkin tiap kali aku berhubungan dan bertemu dengannya, ada hati lain yang akan tersakiti.

Tidak hanya satu hati, tapi ada dua hati yang harus tersakiti. Aku dan Evan bertemu di kampus secara tak sengaja. Awalnya kami hanya berteman biasa.

 Tapi setelah lebih 2 bulan kami saling mengenal, rasa cinta bersemi dan tumbuh di hati kami masing-masing.

Tapi sayang, entah cinta yang datang terlambat atau memang hanya kami yang terlalu naïf dan egois. Saat kami sudah saling jatuh cinta, masing-masing dari kami sudah memiliki kekasih.

Aku punya kekasih dengan hasil perjodohanku, sementara dia juga sudah punya kekasih yang menjalin hubungan dengannya sejak SMA. Kami berdua sebenarnya sadar sepenuhnya, hal ini adalah sebuah kesalahan.

Kami tidak bisa meninggalkan mereka, tapi kami juga tidak bisa menahan gejolak cinta yang bersemi dengan tiba-tiba ini. Selama ini kami hanya bisa bertemu secara sembunyi-sembunyi di tempat ini.

Aku sudah bertunangan dengan kekasih ku, sementara Evan akan menikah dua bulan lagi. Kami tidak mungkin menjalin hubungan seperti satu tahun lalu saat dimana kami bisa bebas memadu kasih diluar sana. Sekarang apartemen murah ini menjadi saksi bisu betapa besar cinta kami. 

“Apa kita akan terus seperti ini.” Ucapnya lirih sembari  mengeratkan pelukannya. Aku dan dia kini sudah berbaring di atas pembaringan dan saling berpelukan.

“Tidak akan ada yang tahu.. Kita akan tetap bisa seperti ini sampai kapanpun.” Ucapku lemah  sembari merenggangkan pelukannya.

Aku menatap lekat ke arah matanya. Matanya benar-benar hitam legam. Begitu bersih dan bersinar, untuk orang yang baru mengenalnya, sudah pasti mereka akan berfikir kalau dia adalah pria yang jujur.

“Tapi apa kamu tidak merasakan sakit?” Ucapnya lagi.
“Tentu ada rasa sakit. Tapi pasti akan jauh lebih sakit jika aku kehilangan cintamu dan dirimu.” Ucapku pelan.

Ku eratkan lagi pelukanku padanya. Kurasakan sebuah kehangatan dan kedamaian dalam pelukannya. Kehangatan dan kedamaian yang sama sekali tidak pernah kurasan sebelumnya dari tunanganku.

Detak jantungnya, aroma tubuhnya, belai lembutnya. Semua begitu sempurna untuk bumbu dari sesuatu yang disebut cinta.

“I Love U.” Ucapnya lembut sembari membelai mesra rambutku.
“I Love U too.” Ucapku mesra. Tanpa terasa aku terlelap dalam pelukannya.

Kelembutan dan kehangatan yang ia berikan mampu membuatku beralih ke dunia yang lain. Membawa kedalam lautan mimpi yang indah. Ke dalam dunia dimana aku dan dia bisa bebas menentukan jalan hidup kami.

Tidak ada penjara atau kurungan yang membuat kami merasa terkekang. Tidak ada Dimas atau pun Lisa disana. Yang ada hanya aku dan Evan. 

Yang sedang terbuai dalam indahnya asmara dan kasih. Dan selalu berharap semoga aku tidak terbangun dan terus bisa merasakan mimpi indah ini.

***

Silaunya sinar mentari menembus jendela kaca kamar apartemen ini. Sayup-sayup ku kedipkan kedua mataku yang sedikit terasa nyeri. Saat aku membuka kedua mataku, tidak ku temukan sosok Evan disampingku.

Ku kucek kedua mataku, untuk memastikan apa yang yang aku lihat. Dan benar saja, Evan memang sudah tidak ada disini. Dia sudah lebih dulu pergi tanpa membangunkan ku.

Kulihat ada sepucuk surat diatas meja. Sepertinya Evan sengaja menulisnya untukku. Kuraih dan kubuka isi surat itu. Dan ternyata benar, Evan memang menulis surat itu untukku.

Ku baca setiap bait tulisan tangannya. Susunannya begitu rapih, setiap kata yang tertulis disana bagai tombak yang saat ini sedang menusuk jantungku. Terasa nyeri dan sakit sekali.

Air mataku perlahan menetes. Sesekali ku usap air mataku lalu kulanjutkan membaca suratnya. Air mata yang tadinya menetes perlahan, kini mengucur deras dari kedua mataku. Membasahi surat yang sedang aku baca.

Setelah selesai membaca suratnya, kupejamkan kedua mataku. Ku genggam erat surat itu lalu ku tempelkannya di atas dadaku. Aku masih terus menangis deras dengan sedikit senyum mengambang di wajahku. “Terimakasih Evan, aku mencintaimu. Selamat natal.” Ucapku lirih.

---oOo---

Back To Top