Kuharap Kamu Baca Ini, Cerpen Sakit Hati Karena Cinta

Cerita Cerpen tentang Sakit Hati Karena Cinta - Karya cerita pendek berikut ini akan menggambarkan sebuah ungkapan hati yang teriris perih karena cinta yang tak berbalas. Bagaimana rasanya jika cintamu tidak terbalas, perih, sudah pasti itu. Akan lebih perih lagi jika anda telah mengetahui dan menyadari bahwa ia telah memilih orang lain.


Ada banyak sisi dari hubungan cinta kasih dan perasaan tulus yang bisa diangkat menjadi kisah haru atau sedih. Ada begitu banyak titik yang bisa diungkap dan menjadi pelajaran hidup dalam menjalani sebuah hubungan asmara. Bahkan untuk titik dimana perasaan menjadi sesuatu yang begitu menyakitkan sekalipun.

Ketika jatuh cinta, seseorang akan mengalami banyak keindahan. Dunia yang ada padanya akan berisi begitu banyak bunga dan warna. Angin kemarau sekalipun akan sangat terasa sejuk dan menenangkan. Hujan bercampur petir sekalipun akan tampak indah ketika seseorang sedang dimabuk asmara.

Bertolak belakang dari itu, ketika perasaan tidak mampu bertumpu pada tahta yang diinginkan, ketika rasa cinta tak mendapat sambutan, dunia serasa runtuh, hancur. Mawar berbunga emas sekalipun tak akan terlihat indah. Mutiara yang berbalut salju putih pun tak akan menyejukkan.

Dari cerpen kali ini anda akan mendapatkan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati dan menyayat jiwa. Sebuah kisah sedih tentang seseorang yang cintanya tak terbalas. Sebuah kisah tentang perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Seperti apa, berikut selengkapnya.

Kuharap Kamu Baca Ini
Cerpen Sakit Hati Karena Cinta

Aku mencintaimu. Itu lah kata yang selalu ku katakan tiap kali aku memandangi fotomu. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya bagaimana bisa aku sampai ke posisi ini.

Aku terhempas begitu jauh dan jatuh begitu dalam. Saat aku mengira langkahku sudah benar, dan ketika ku kira anggapanku adalah segalanya, ternyata aku salah. Sangat salah.

Akhirnya, menyerah adalah jawaban yang ku pilih. Meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu. Mengirimu ucapan selamat pagi, mengingatkanmu untuk makan, juga mengucapkan selamat tidur untukmu.

Tapi kini aku sadar. Segala sesuatu yang ku berikan untukmu tak pernah kau anggap sesuatu yang lebih. Aku sadar aku hanyalah seonggok angin yang tanpa kau undang pun aku akan datang.

Aku terlalu naïf karena sudah mengharapkanmu, meskipun aku tau kau adalah berlian sedangkan aku hanyalah besi berkarat.

Kini aku sadar, mencintaimu bukanlah tugasku lagi. Mencintaimu kini sudah menjadi tugas baru untuknya. Seorang pria yang kau pilih. Yang jauh lebih sempurna dibanding diriku.

Hari-hari ku tiba-tiba serasa begitu kosong tanpa kehadiranmu. Aku seperti kehilangan oksigen tiap kali memikirkanmu. Bahkan aku selalu kehilangan semangat hidup ketika aku ingat kalau aku bukan lah siapa-siapa untukmu. Mungkin ini berlebihan.

Yah, aku tau menurutmu ini berlebihan. Karena kau tak merasakannya. Karena kau tak berada di posisiku saat ini. Kau tak pernah tau betapa remuk dan hancurnya hidupku saat ini.

Mungkin ini semua memang salahku. Aku tak cukup cerdas mengartikan segala bentuk perhatianmu padaku. Aku tak cukup mahir membaca mata dan mengerti isi otakmu. Aku terlalu terburu-buru mengartikan setiap perhatianmu padaku.

Jika saja aku cukup hebat dan cukup cepat memahami ini semua. Tentu aku lebih memilih kita tidak saling kenal sejak dulu. Tentu aku tidak akan mempertahankanmu sampai sejauh ini.

Maafkan kebodohanku, karena terlalu cepat mengartikan perhatian dan ucapanmu sebagai sesuatu yang tersirat dari cinta. Aku terlalu menganggap perhatian dan ucapan mu itu spesial.

Bukan kah orang yang sedang jatuh cinta selalu menganggap hal biasa itu sebagai sesuatu yang spesial? Yah..., mungkin aku jatuh cinta kala itu.

Aku berharap kamu akan mengerti dan juga menyadari. Betapa bahagianya diriku saat membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Betapa cepatnya detak jantungku ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya sebatas lewat pesan singkat. Itu semua tampak nyata. Dan aku benar-benar mencintaimu. Sungguh aku mencintaimu.

Satu hal yang membuat hidupku terasa begitu menderita adalah ketika mengetahui kau tak memilihku. Sampai sekarang aku masih belum mengerti bagaimana bisa semuanya berakhir sesakit ini.

Aku sudah berjuang sekuat tenaga. Mencari tahu segalanya tentang kehidupanmu. Sesuatu yang kau sukai, sesuatu yang kau benci, aku mencatat semuanya dalam otakku.

Mulai dari betapa besar arti sambal dalam makananmu, sampai betapa rendah nilai kopi dimatamu. Tapi sampai sejauh ini kau masih sama. Dimana perasaanmu? Tatapan dan sikapmu kini begitu dingin padaku. Aku seolah tak berhak menuntut ini dan itu. Aku hanyalah temanmu! Hanya teman!

Aku tau aku salah. Seharusnya sejak dulu aku tidak perlu memperhatikanmu sedetail itu. Aku tak perlu mencari kontakmu dan menghubungimu dengan lugu.

Aku tau ini juga salahku. Aku terlalu peduli dengan kehadiranmu disisiku. Aku terlalu penasaran dengan dirimu. Dan aku tak sanggup menahan rasa keingintahuanku tentang dirimu. Mungkin jika dulu aku tidak mengenalmu, aku tidak perlu merasakan betapa sakitnya ketika  air mataku jatuh meluruhi pipi.

Kini semuanya sudah jelas. Mungkin kini kau sedang berbahagia dan bercumbu bersamanya, tanpa tau betapa sakitnya aku. Mungkin kini kau sedang sibuk merencanakan masa depan bersamanya.

Menyusun segala sesuatu yang indah bersamanya. Sama seperti aku dulu, saat aku belum sadar dan masih terlalu naif. Menyusun rencana masa depan, menentukan tempat tinggal, menentukan jumlah anak, dan menghayalkan sebuah kebahagiaan yang tak pernah tampak nyata.

Kini semuanya telah berlalu. Setiap cerita pasti memiliki akhir. Dan jujur saja ini bukanlah akhir yang aku inginkan. Disetiap khayalku aku selalu membayangkan akhir yang bahagia.

Dan kini aku sudah tak perlu mengkhayalkan hal itu lagi. Ini bukanlah akhir yang ku pilih di akhir kisah kita. Seandainya aku bisa memilih akhir cerita kita. Tentu aku akan memilih kau berakhir dipelukanku.

Mendampingiku di setiap langkah kehidupanku. Membantuku mengasuh dan membesarkan anak-anakku. Tapi, aku tidak pernah bisa memilih akhir cerita ini.

Itu semua hanyalah akhir dari khayalanku yang terlalu tinggi. Dan seandainya kau tau. Disini aku selalu bergetar kala aku menyebut namamu dalam doaku. Aku berharap kau akan selalu berbahagia bersamanya.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top