Kisah Pilu Cinta Beda Agama

Pagi ini aku berangkat menuju sekolah baruku dengan menunggangi bis kopaja. Ketika berada dalam bus aku tak henti-hentinya menghayalkan betapa indahnya sekolah baru ku. Aku akan bertemu dengan teman-teman baru, guru baru, dan yang paling penting aku berharap ada “Romeo” yang sudah menunggu di sekolah baru ku ini.


“Jedug!, Aduuuh” Lamunan ku terbuyar karena sopir bus kopaja yang mengerem mendadak. Alhasil kepala ku pun harus menghantam kursi depanku.

“ahahah, makanya fokus dong, jangan ngalamun mulu”. Ucap Okta yang duduk disampingku. Okta adalah teman satu SMP yang kebetulan masuk SMA yang sama denganku. Meski semasa SMP kami tidak satu kelas, namun aku begitu akrab dengan dia.

“Anjirr, sialan ni sopir, kalo mau ngerem kabar-kabar dulu dong.” Gerutuku
“Ahaha lo nya aja yang aneh Shel, lo kan tau gimana brutalnya sopir kopaja”. Ucap Okta.

Pagi ini aku berangkat sekolah tidak hanya dengan Okta, tapi juga dengan Rian. Dia adalah pacar Okta yang kebetulan sudah masuk duluan di SMA yang sama dengan kami, so dia adalah kaka kelas kami sekarang.

Setibanya bus kopaja didepan sekolah, Rian langsung membantu kami berdua untuk turun dari bus kopaja bak guru TK.

“Ayo anak-anak turun pelan-pelan ya. Kita udah sampai ini hihihi”.
“yang sayang, pegangin aku dong, aku takut jatoh ini”. Ucap Okta dengan manja.
“Aduh biasa aja dong Okta. Bus nya ini berhenti!. Ngga mungkin juga kamu bakal jatoh”. Ucapku jengkel
“Ahahah ciee ada yang envy nih ye.. Makannya punya pacar dong wkwkwk”. Ucap Okta meledek.

Setibanya disekolah aku dan Okta langsung pergi melihat pembagian kelas kami. Dan betapa sedihnya aku Karen kali ini lagi-lagi aku harus berbeda kelas dengan Okta.
“Aduuh giman nih Shel, gue masuk Isos 4, nah lo masuk Isos 1”

“Iya ini Nit, gue juga sedih sebenernya, tapi ya mau gimana lagi, lo mah masih enak karena satu kelas ama sindi. Nah gue?”

“Iya iya deh. Yaudah masuk kelas yuk, walaupun beda kelas kan kita tetep bisa chatingan lewat hp, pas istirahat kita juga bisa jajan bareng”
“iya deh yaudah ntar istirahat ke kelasku ya say, daah”.

Kamipun berpisah. Aku masuk ke dalam ruangan kelas baru ku dan betapa gugupnya aku. Sama sekali tidak ada manusia yang aku kenal disini. Jangankan teman 1 komplek, teman 1 SMP pun tidak ada yang masuk kesini.

Aku hanya berdiri sembari melihat-lihat semoga saja ada romeo yang mau berbagi kursi denganku. Tidak lama berdiri tiba-tiba ada yang memanggilku. “Hey cantik, sini duduk, jangan diri disitu aja, kena omel guru entar lo”.

“Hah? Aku? Duduk?”
“Ahaha iya, buruan, keburu bangkunya diambil yang lain loh”
“ahaha yaudah deh maacih ya”
Dan yes, akhirnya aku dapat satu teman baru. Namanya adalah Putri Abidah, dia juga sama denganku. Sama sekali tidak memiliki kenalan dikelas baru ku ini. Singkat cerita, kami pun menjadi akrab.

Lima bulan sudah aku menjadi siswa disekolah ini. Aku sempat menjalin hubungan dengan seorang kaka kelas yang kebetulan sama-sama anggota OSIS. Dia baik, manis, olahragawan dan  juga sangat santun.

Tapi sayang karena adanya orang ketiga dan kelima hubunganku dengannya harus kandas. Aku sempat galau, dan akhirnya aku memutuskan untuk bergabung ke RohKris (Rohani Kristen). Mungkin Karena sering mendapatkan ceramah dan juga masukan, akhirnya aku bisa terlepas dari kegalauanku.

Sempat beberapa kali aku berfikir untuk mencari kekasih baru tapi entah kenapa belum ada yang dirasa cocok denganku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Anam. Salah satu temanku di OSIS yang kebetulan menjadi ketua di Rohis (Rohani Islam).
Disinilah awal mula semuanya terjadi. Awal kebahagian dan juga kesedihan yang kurasakan di SMA ini.

Aku dan anam Sering ngobrol bersama, becanda bersama, dan yang paling aku suka adalah ketika kami saling membully. Dan entah kenapa aku merasa dia adalah sosok yang selama ini aku tunggu.

Memang berbeda dengan mantanku yang sebelumnya. Gaya bicara nya memang sedikit urakan dan asal, menambah khas kelucuannya. Tapi sekalinya dia bicara serius, jangankan siswa, guru saja mungkin mau mendengarkan omongannya. Humoris dan religious, itulah dua hal yang begitu aku kenali dari Anam.

Karena keakaban kami yang makin hari makin parah, akhirnya kami pun jadian. Dan betapa bahagianya aku ketika dia mengajakku ke belakang sekolah lalu dengan mengejutkan teman-temannya keluar dengan membawa tulisan Happy Birthday. 

“Would you like to be my girlfriend?” itulah yang diucapkan anam padaku saat itu. Aku yang memang sudah merasa nyaman dengannya pun tak mau menyia-nyiakan hal ini. Dengan senyuman dan anggukan, dia pun mengerti dan memahami maksudku.

Setelah kami resmi jadian dan menjadi sepasang kekasih, banyak teman-teman anam merasa tidak setuju dengan hubungan kami ini, ya lagi-lagi karena masalah agama.

Aku yang memang sejak kecil sudah Kristen ini pun harus rela ketika mengetahui teman anam mengompor-ngompori anam supaya memutuskanku karena aku kristiani Tak hanya itu saja, tema-temanku pun juga banyak sekali yang berkomentar dan menyuruhku untuk mengakhiri hubungan dengan seorang muslim.

Tapi itu tak mungkin kulakukan. Ada sesuatu yang tak bisa kudapatkan dari pria lain dan itu bisa kudapatkan dari Anam. Sebuah kenyamanan yang membuat aku merasa begitu dihormati, dihargai, dan benar-benar dijaga.

Anam sudah seperti api yang selalu berkobar memberi semangat untukku. Meski berbeda keyakinan, aku sama sekali tidak pernah berifikir untuk meninggalkannya.

Sudah 2 setengah tahun aku sekolah di SMA ini. Itu artinya sudah 2 tahun juga aku menjalani kisah cinta beda agama. Dan ujung dari sebuah hubungan perlahan benar-benar mulai nampak.

Aku sadar sepenuhnya sebentar lagi kami lulus dan kami harus kuliah atau bekerja. Dan meski aku dan Anam bisa bisa bersatu dalam cinta, bisakah aku dan Anam juga bersatu dalam agama?.

Jawabannya adalah tidak!. Layaknya Israel dan Palestina, Islam dan Kristen tak akan pernah bersatu. Dan bahkan bisa berdampingan saja sudah sangat luar biasa.

Di belakang mushola, tempat dimana Anam memberikan sebuah kejutan yang tak akan pernah aku lupakan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuatku merunduk, membuat air mataku menetes deras. Aku hanya bisa memeluknya. Sama sekali taka da satu katapun yang bisa aku katakan.

“Shela, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku dan kamu adalah dua insan yang istimewa. Kita sudah bersatu dalam cinta. Meskipun masih ada suatu penghalang diantara kita. tapi kita bisa melewati ini semua bersama.

Selama ini kita bisa saling mengerti keadaan masing-masing. Natalmu, lebaranku, gerejamu, masjidku, semuanya bukanlah masalah. Jika kita bisa bersama selama 2 tahun ini, bukan tidak mungkin kita akan bersama selamanya. Sekarang maukah kau mendampingiku selamanya?. Maukah kau mengasuh anak-anaku?. Dan mau kah kau menjadi muslim untukku?”

Air mataku pun semakin menjadi-jadi. Seandainy aku dilahirkan sebagai seorang muslim, sudah pasti aku menjawab iya. Tapi sayangnya aku adalah kristiani dan tidak mungkin aku bisa mengatakan iya.

Aku sadar sepenuhnya kalau kami benar-benar sudah dewasa. Aku benar-benar ingin hidup bahagi bersamanya, tapi bagaimana dengan agamaku? Bagaimana dengan ayah dan ibuku? Kenapa tidak Anam saja yang menjadi Kristen dan kami hidup bahagia? Kenapa?

Akhirnya aku mengalah. Aku tak bisa meninggalakan agama dan keluargaku. Anam pun akhirnya hanya akan menjadi sebuah kenangan. Seorang pria humoris yang begitu penuh kasih sayang.

Seorang musisi yang begitu aku sayangi. Anam yang sampai kapanpun tak akan pernah kulupakan. Semua kenangan tentang dia, tak akan ada satupun kenangan dari dia yang aku lupakan.

Boneka spongebob yang dia dari arisan, handphone yang dia berikan secara suka rela karena handphoneku rusak.  Dan juga semua surat yang dia tulis untukku. Semuanya tak akan pernah terlupakan.

Oh Tuhaan… seandainya saja didunia ini hanya ada satu agama…
Mengapa harus ada banyak agama didunia ini jika Engkau memang satu?
Mengapa dua insan yang saling mencintai tak bisa bersatu hanya karena agama?
Bukankah Engkau penuh kasih?

Mangapa kau tak memberikan kasihmu kepada dua insan yang saling mencinta ini?
Bukankah Ismail dan Ishak lahir dari satu ayah?
Lalu kenapa keturunannya harus berbeda?
Salah siapa ini Tuhan?
Bukankah Engkau ini Esa?

Maafkan aku Tuhan karena telah mencoba menafik rencanaMu. Maafkan aku karena telah berusaha menyatukan keinginanku dengan rencanaMu yang begitu agung. Maafkan aku. Engkau sudah berbaik hati karena telah menjaganya hingga saat ini. Terimakasih karena Engkau telah membiarkan aku melihatnya sampai saat ini.

Jagalah dia selalu untukku Tuhan. Jika aku memang benar-benar tidak bisa bersatu dengannya di dunia, tolong satukanlah kami di surga-Mu nanti..Aku sayang dia…

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Religi
Back To Top