Kenangan Sahabat Teman Hidupku

Hari ini adalah hari dimana acara perpisahan SMA ku akan dilaksanakan. Dengan gaun putih yang sudah kusiapkan sejak satu minggu yang lalu, aku pun siap untuk berangkat.


Sedih memang rasanya harus berpisah dengan teman-teman SMA ku. Terlebih aku harus berpisah dengan teman yang sejak SD sudah bersamaku. Namanya Anam. Dia adalah salah satu sahabat yang bagiku sangat berharga.

Dia selalu ada ketika aku sedang butuh. Dia juga selalu menjadi orang yang mau mendengarkan setiap ceritaku. Bahkan ketika aku disakiti oleh pria yang mengaku mencintaiku, dial ah orang yang mau memeluk dan menghapus air mataku.

Masih teringat jelas dibenakku ketika Anam kecil menolongku dari gangguan para bocah-bocah nakal di SDku dulu. Kala itu aku sedang berjalan pulang menuju rumahku. Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku dicegat oleh segerombolan bocah-bocah nakal.

Mereka mengaku iri kepadaku karena nilai ulanganku selalu diatas mereka. Mereka juga marah karena aku tidak pernah mau memberikan contekan ulangan kepada mereka. Saat sedang diganggu dan badanku di dorong-dorong , tiba-tiba Anam muncul bak superhero.

Dengan sigap dia pun menantang segerombolan bocah itu untuk berkelahi. Namun sayang, Anam tidak cukup kuat untuk mengalahkan mereka. Alhasil dia mendapatkan luka cakar di hidungnya yang sampai sekarang masih belum hilang. Aku hanya bisa menangis kala itu.

Lalu Anam datang kepadaku dengan wajah yang sudah tak karuan. “Udah jangan nangis. Nanti kalo kamu nangis terus aku bisa ikutan nangis ini.” Ucap nya sambil menyodorkan tangannya untukku. Aku sedikit tertawa mendengar ucapannya.

Perlahan ku usap air mataku dan kuraih tangannya. Kami pun berjalan berdua menuju rumah karena kebetulan rumahku terletak bersebelahan dengan rumah Anam. Sejak saat itu aku dan Anam pun menjadi sangat akrab sampai hari ini.

“Tiin..Tiin..” suara tlakson mengaburkan lamunanku tentang Anam. Aku yakin orang ini pasti Anam. Karena semalam aku sudah membuat janji untuk berangkat bersama dengannya. Aku pun keluar rumah dan segera masuk ke mobil Anam.

“Udah dari tadi belom lo?” Tanya ku pada Anam yang duduk disebelahku.
“ya lumayan si. Kenapa emangnya?”
“Eng.. engga papa kok. Udah ayok berangkat” Dia pun menginjak gas nya dan kami berangkat menuju sekolah kami.

Sesampainya disekolah aku hanya duduk disebelah Anam. Sampai akhirnya datang Rendi yang merupakan mantanku beberapa bulan yang lalu.

“Eh nit, sini dong gue pengen ngobrol serius nih sama lo.”
“mau ngomong apaan? Ogah ah.”
“Ya mau ngomongin soal hubungan kita lah.”
“Gila lo ya? Kita ini udah putus. Udah ngga ada yang perlu diomongin lagi.” Ucapku.

Karena merasa kesal Rendi pun menarik tanganku dan memaksaku untuk ikut dengannya. Aku sudah berusaha berontak namun genggaman tangan Rendi begitu erat.

Dan itu juga lah yang membuat aku ingin berpisah dengannya. Dulu aku memang sangat sayang dengannya. Dia adalah anak yang pandai di bidang akademis dan juga olahraga. Dia juga sosok cowok yang sangat dikagumi oleh gadis-gadis SMA ku.

Terlebih ketika dia menyatakan cintanya padaku didepan teman-temannya. Benar-benar membuat hatiku luluh. Namun meskipun begitu, dia adalah cowo yang sangat overprotect dan juga pecemburu berat.

Bahkan tak jarang dia menyuruhku untuk menjauhi Anam karena dia cemburu dengan hubungan persahabatan kami. Dia merasa kalau aku lebih dekat dengan Anam dibandingkan dengannya.

Karena hal ini lah aku memutuskan untuk meninggalkan dia. Sesuatu itu akan terlepas jika kau menggenggamnya terlalu kuat atau terlalu lemah.

Meskipun aku menolak, Rendi tetap saja menarik tanganku. Sampai akhirnya Anam kesal dan kemudian memegang tangan Rendi.

“eh lo jangan kasar dong ama cewe” bentak Anam.
“eh diem lo ya banci!” ucap Rendi.
“Lepasin tangan Nita deh, dia itu udah ngga mau sama lo. Ngga punya malu lo ya?!”
“Eh kurangajar . Jaga mulut lo ya!” tangan Rendi melesat hendak mengenai wajah Anam. Namun Anam palah menghindar hingga mengenai wajahku. “plaaak!!!” cukup keras tapi tidak sampai membuat wajahku berdarah.

“Eh, kurangajar!! Pergi ngga lo sekarang!!! Dasar bajingan!!!” bentakku kepada Rendi. Aku benar-benar marah kali ini. Sambil menahan sakit aku terus membentak-bentak Rendi dan akhirnya dia pun benar-benar pergi. Aku terus memegangi pipiku karena masih sakit.

“Lo ngga papa Nit? Ke UKS yok, kita rawat dulu”
“engga kok enggapapa” ucapku. Tak terasa cairan bening mengalir membasahi pipiku.

“Kok lo nangis nit? Sakit banget ya?”
“Engga nam, gue nangis bukan karena tamparannya Rendi. Gue nangis karena bentar lagi kita bakal pisah. Gue ngerasa belom bisa kalo harus pisah sama sahabat sebaik elo nam.”


Anam hanya terdiam. “Lo inget ngga pas masih SD dulu? Pas lo nolongin gue dari gangguan bocah-bocah nakal itu?” tanyaku.


“Udah nit jangan nangis. Nanti kalo lo nangis gue bisa ikutan nangis ini.” Tiba-tiba dia mengucapkan kalimat itu lagi sembari tersenyum padaku. Senyuman itu seperti menyapu semua kesedihanku.

Senyumannya memang tidak membersihkan air mataku dan tidak membuat air mataku berhenti. Tapi senyumannya bisa merubah air mataku. Air mata kesedihan menjadi air mata bahagia.

Bahagia karena Tuhan menghadirkan sahabat sebaik Anam di kehidupanku. Aku kembali tersenyum dengan air mata masih menetes. Aku benar-benar Anam bisa menjadi sahabatku selamanya.

Sahabat yang menemaniku tidak hanya ketika sedih namun juga ketika aku sedang bahagia. Semoga saja dia tidak hanya menjadi sahabatku, tetapi juga teman hidupku.

---oOo---

Back To Top