Antara Dia dan Ayah

“Kalo mau berangkat itu dihabisin dulu susunya. Rotinya juga” ucap pria paruh bayah yang sedang duduk dibangkunya. “Iya pah”. Ujar Amel sembari kembali duduk di kursinya.


Semenjak ditinggal sang ibu, Amel memang menjadi lebih murung dan menjadi lebih banyak menyendiri. dia merasa bahwa dia membutuhkan seseorang yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mencurahkan seluruh kegelisahan dan kegundahan isi hatinya.

Terlebih saat ini Amel sudah mulai tumbuh dewasa dan sudah mulai mengenal yang namanya cinta. Ingin sekali rasanya Amel menceritakan semuanya kepada sang ibu.

Napun apalah daya, ibu dan ayah Amel sudah bercerai sejak dia masih SMP. Amel sengaja ikut ayahnya karena dirasa Amel lebih membutuhkan banyak biaya.

Sedangkan adiknya yang masih duduk dibangku SD ikut ibunya di lain daerah. Ingin sesekali rasanya Amel untuk pergi mengunjung ibunya, namun ayahnya tak pernah mengijinkan Amel.

***

Hujan perlahan mulai turun. Tampak Amel sedang duduk sendirian menunggu angkot didepan gerbang sekolahnya. Tak banyak yang bisa ia lakukan, dia hanya bisa duduk sembari bernyanyi-nyanyi pelan. Saat sedang duduk, tiba-tiba muncul seorang pria didepannya.

“Duuh kok ujannya ngga berenti-berenti ya?”  Ucap pria itu.
“iya, jantungku juga ngga berenti-berenti.” Ucap Amel sangat lirih.
“Ah eh apa? Barusan kamu ngomong apa?” Tanya si pria.
“Eh..e.e..engga kok, engga ngomong apa-apa.”
“Oooh kirain. Eh, kamu Amel ya?”
“Iya, kok tau?”
“Iya tau lah, kamu anak 11 IPA 2 kan?”
“Heeh, kok kamu tau aku si?”

“Ya tau lah, orang kemaren kamu satu-satunya cewek yang dihukum pas upacara kan? Haha” ucap pria itu sambil tertawa. Amel hanya diam dengan memasang wajah cemberut. Padahal dia sudah merasa senang karena ada cowo yang mengenalnya, tapi ternyata, semua tidak sesaui harapan.

“Aku Doni.” Ucap si pria itu sambil menyodorkan tangannya.
“Eh, iya” Ucap Amel sembari menyambut tangan Doni.
“Aku anak 11 IPS 1, kamu pulang kearah mana?”
“Aku pulangnya ke daerah karet kuningan. Kenapa?”
“Yaudah bareng aku aja yuk. Kebetulan kita searah.”
“Emm… Oke deh”

Selama di perjalanan mereka berdua banyak mengobrol. Saling menggali informasi, dan juga sedikit bercanda. Setelah 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Amel.

“Makasih ya” Ucap Amel sembari turun dari motor.
“Iya sama-sama.” Ucap Doni sembari tersenyum. Amel pun melambaikan tangannya pada Doni.


Namun betapa terkejutnya Amel ketika dia membalikan badan, sudah ada ayahnya yang sedang berdiri di depan pintu
.
“Siapa itu tadi?!” Tanya sang ayah
“Temen pah” Ucap Amel sembari menatap ke lantai.
“Temen  apa temen?!”
“Iya pah temen, beneran”
“Jangan bohong kamu. Gini-gini papah juga pernah muda!”
“Iya pah enggak bohong kok.”
“Yaudah buruan masuk. Mandi terus makan. Abis itu selesein tugas-tugas sekolah kamu.”

“Iya pah.” Ujar Amel lirih. Setelah selesai mendengar ocehan dari sang ayah, Amel langsung masuk dan melaksanakan perintah dari sang ayah.

Sedih sekali rasanya karena Amel tidak punya tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Ingin rasanya Amel mencari ibu baru untuk tempatnya mencurahkan isi hati.

***

Hari minggu pun tiba. Hari dimana Amel bisa bebas bersantai dirumah tanpa ada sesuatu yang mengekangnya, kecuali sang ayah. Saat Amel terbangun, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Dia tidak melihat sosok sang ayah yang biasanya sudah memulai aktivitasnya sejak pagi. Ia pun berjalan dan mencari tahu apa yang terjadi pada sang ayah. Sampai dia tiba di kamar sang ayah dan ditemuinya sang ayah sedang terbujur lemas. Dia pun masuk ke kamar ayahnya.

“Ayah kenapa? Sakit?” Tanya Amel.
“Iya nak, maaf ya, papa kayaknya demam ini, jadi ngga bisa masak buat sarapan kamu.”

“Ooh, iya enggapapa pah, biar Amel aja yang masak buat papah.” Ucap Amel.
Dia pun langsung pergi ke dapur dan mulai memasak nasi goring. Selesainya ia memasak, ia langsung menghantarkan nas goring yang baru saja ia buat ke kamar ayahnya.

“Ini pah nasi gorengnya. Sini Amel bantuin ayah makan” Ujar Amel sembari menyodorkan makanan ke sang ayah.

“Iya nak, Makasih.” Ucap sang ayah. Rasa bersalah pun mulai masuk ke dalam tubuh sang ayah. Entah kenapa ia merasa bersalah karena selama ini dia selalu terus-terusan mengekang anaknya.

Dia pun mulai sadar kalau anaknya bukan hanya membutuhkan pendidikan dan penjagaan. Amel juga membutuhkan kasih sayang dan juga membutuhkan seseorang  untuk dijadikan sandaran.

“Masakanmu enak, kamu belajar masak diamana?” ucap sang ayah.
“Dibuku pah” jawab Amel. Sang ayah mulai sadar sepenhnya bahwa selama ini dia sudah terlalu jauh mengekang Amel. Dia tidak sadar kalau Amel membutuhkan kasih sayang dari sang ayah.

“Gimana sama cowok yang kemaren nganterin kamu?” Tanya sang ayah.
“Ahh, engga kok pah. Cuma temenan.” Ucap Amel. Muka Amel langsung memerah. Ada rasa bahagia yang muncul dari raut wajah Amel.
“Ngga apa-apa nak. Papa mau minta maaf, papa terlalu mengekang kamu. Papah sadar kamu sekarang udah dewasa. Dan sudah seharusnya buat kamu untuk mengenal cinta.”ucap san ayah.

“Maksud papah?” Tanya Amel
“Ya kamu sekarang udah boleh pacaran.” Ujar ayahnya sembari tersenyum.
“Beneran pah? Makasih papah.” Ucap Amel sembari memeluk ayahnya.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top