Sunset di Pulau Dewata

Contoh cerpen tentang liburan di pulau bali berikut ini cukup menarik juga untuk dibaca. Cerpen ini, tak berbeda jauh dari tema lainnya merupakan cerita yang cukup akrab dengan dunia remaja yang penuh keceriaan.


Apalagi kalau bukan tema cinta, benar tidak? Ya begitu deh, cerita-cerita remaja memang paling banyak didominasi tentang kisah cinta baik yang sedih maupun yang bahagia. Lalu, seperti apakah kisah yang diangkat dalam cerpen berikut?

Cerpen berjudul “Sunset di Pulau Dewata” berikut ini mengisahkan sebuah perjalanan manis yang dialami oleh seorang pemuda. Seorang pemuda mengadakan liburan ke salah satu lokasi wisata di pulau Bali yang cukup indah dan menarik.

Sang pemuda, bukan semata-mata ingin melepaskan penat, tetapi dalam hatinya juga ada harapan bisa mendapatkan sesuatu cinta kasih yang berkesan. Mungkinkah dalam sebuah liburan ke Bali tersebut ia mendapatkan sesuatu?

Sunset di Pulau Dewata
Cerpen tentang liburan di pulau bali

Setelah pulang dari kampus, aku mendapatkan pesan dari Rendi. Dia mengajak aku untuk berlibur ke pulau dewata. Rendi adalah salah satu temanku yang paling akrab dikampus.

Selain Rendi, aku juga masih punya tiga teman lagi yang tak kalah akrab dengan rendi. Mereka adalah Susan, Sarah, dan juga Andi. Susan adalah kekasih Rendi. Mereka sudah cukup lama menjalin kasih.

Masih ingat waktu itu aku saat Rendi bercerita kepada ku tentang perasaannya ke Susan dan bagaimana proses mereka bisa saling jatuh cinta. Ditengah hujan yang lebat, aku menemani Rendi pergi ke rumah Susan.

Dengan membawa setangkai bunga Rendi menyatakan cinta nya pada Susan dari luar pagar rumahnya. Awalnya aku mengira kalau Susan yang menurutku agak tomboy akan menolak perasaan Rendi, namun ternyata sifat pantang meyerah Rendi akhirnya membuat Susan luluh juga.

Keeseokan hari setelah aku mendapat pesan dari Rendi, aku pun bersiap untuk berangkat. Semua perlengkapan dan juga perbekalan aku siapkan. Kami semua berkumpul di stasiun.

Dalam perjalanan hanya satu yang aku pikirkan. Semoga saja aku bisa menemukan seoerang bidadari di pulau dewata nanti.

Kurang lebih 2 hari perjalanan, akhirnya kami tiba juga dipulau dewata. Kami memilih untuk menginap disebuah hotel yang tidak jauh dari pantai. Aku tidur sekamar dengan Rendi dan juga Andi, sementara Sarah dan Susan tidur di kamar yang berbeda.

Setelah meletakan semua barang bawaanku, aku langsung terbaring diatas kasur empuk dikamarku. Aku menatap langit-langit dikamar sembari membayangkan bidadari bidadari yang ada dipulau dewata ini.

Tidak lama aku berbaring, pikiranku terganggu oleh sesuatu didalam perutku aku merasa didalam perutku sedang ada cacing yang berdemonstrasi menuntut asupan makanan.

Aku pun mengajak andi dan juga rendi untuk mencari makanan. Tidak lupa juga aku mengetuk pintu kamar sarah dan susan untuk mengajak mereka ikut makan bersama kami.

Tidak lama kami berjalan menjauhi hotel, pandangan ku langsung teralihkan oleh kepulan asap beraroma rempah di pinggir jalanan. Aku pun langsung menghampiri dan melihat-lihat makanan apa saja yang ada disitu. Berbagai macam makanan tradisional khas bali ada disitu.

Saat sedang melihat lihat, perhatainku tiba-tiba saja teralihkan ke sebuah stand yang dijaga oleh gadis yang cantik. Aku pun langsung menghampirinya. Ternyata dia menjual ayam betutu.

Aku pun memesan satu porsi ayam betutu. Saat sedang menikmati ayam betutu ini aku tidak lupa untuk mengajak gadis cantik penjual ayam betutu ini untuk berkenalan. Namanya adalah Arum, dia berjualan ayam betutu disini sendirian tanpa ada seorang karyawan.

Yang unik dari dia adalah, setiap sore menjelang, dia pasti menitipkan dagangannya kepada pedagang disampingnya. Sementara dia pergi ke pinggir pantai untuk menikmati sunset.

Cukup lama kami mengobrol, aku merasa cukup nyaman dengannya. Tak hanya cantik, dia juga ramah sekali. Bahasa begitu halus dan juga lemah lembut. Benar-benar terasa seperti mengobrol dengan bidadari.

Sore pun mulai menjelang. Arum mengajak aku pergi ke pinggiran pantai untuk menikmati sunset yang sangat indah. Meskipun dia baru kenal denganku, aku tau dia juga merasa nyaman ngobrol dan berbincang denganku. Kami berdua berjalan diatas pasir pulau dewata.

Ada banyak sekali bule dan muda-mudi yang berkeliaran disini. Tidak lama kami berjalan, aku pun memberanikan diriku. Perlahan tapi pasti, aku menggenggam tangan Arum.

Betapa terkejutnya aku, ternyata dia sama sekali tidak menolak tanganku. Dia malah melihat ke arah ku dan melemparkan senyum manja yang sangat manis. Kami pun berhenti berjalan. Kami menghadap ke arah laut.

Menanti sebuah pemandangan indah yang semoga saja bisa kami lihat. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut kami. Hanya ada gemuruh dan debur ombak yang mengiringi indahnya matahari tenggelam di ufuk barat. Seolah mengunci gandengan tangan kami.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top