Sesuatu Yang Hilang Selama Ini

Pagi ini aku kembali memulai rutinitasku sebagai pelajar. Seperti biasa aku berangkat sekolah dengan menaiki angkutan umum. Hiruk-piruk penumpang semakin terasa begitu angkutan ini sampai di pasar.


Ada banyak sekali pedagang yang naik dan turun dari kendaraan ini. Dari sini bisa tergambar jelas betapa susahnya mencari nafkah untuk keluarga. Untuk sesaat aku pun teringat dengan kondisi orang tua ku dirumah.

Aku sudah berjanji aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengecewakan kedua orang tuaku.

Sesampainya disekolah, mataku langsung menerawang jauh mencari sosok yang tak kunjung ku temukan. Cukup lama aku berjalan berkeliling sekolahku, masih tetap saja aku belum menemukan sosok yang aku cari.

Aku mulai panik, kupercepat langkahku dan berharap semoga saja aku bisa segera menemukannya. Namun sudah cukup lama aku mencari, aku tetap tak kunjung menemukannya.

Ah, mungkin dia tidak berangkat sekolah”, pikirku. Aku pun langsung masuk ke kelasku dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Selama di dalam kelas aku hanya berpikir tentang dia. Apa benar dia ini tidak berangkat sekolah, atau dia ini sengaja ingin menghindariku. Pikiranku terus bergelut mencari jawaban.

Begitu bel istirahat tiba, aku langsung pergi ke taman sekolah berharap aku bisa menemukan sosok yang aku cari. Sesampainya ditaman, hanya ada bunga-bunga yang tampak begitu indah.

Sejauh mata memandang, aku sama sekali tidak menemukannya. Aku berjalan menyelusuri jalan setapak yang dibuat khusus untuk pejalan kaki disini. Langkahku terhenti di depan sebuah bangku berwarna emas.

Sebuah bangku yang menjadi saksi bisu betapa indahnya hubunganku dengan Rendi. Aku berbaring merebahkan tubuhku diatas bangku emas ini. Pikiranku melamun jauh ke saat-saat dimana aku biasa bercanda dengan Rendi di tempat ini.

Masih teringat jelas pertama kali kami bertemu disini. Kala itu aku sedang tertidur dibangku ini. Lalu terasa ada aroma buah datang karahku. Tanpa terasa tiba-tiba aku terjatuh dari bangku ini.

Dari kejauhan ada seorang pria yang menertawakanku. Wajahnya ganteng, posturnya tinggi dan tegap, dan juga ada kamera yang menggantung di lehernya. Karena merasa kesal aku pun langsung menghampiri pria itu.

Ketika aku marah kepadanya, dia hanya terdiam sambil tersenyum-senyum ke arahku. Karena merasa jengkel aku langsung saja beranjak pergi meninggalkannya.

Namun dia memegang tanganku hingga aku hampir terjatuh dan dia menangkapku sebelum aku terjatuh. Untuk waktu yang cukup lama mata kami bertemu. Bisa terlihat jelas dari matanya kalau dia adalah pria yang baik.

Wajahnya juga sangat tampan, mirip seperti campuran indo-arab. Adu mata kami berakhir dengan tamparanku yang mendarat ke pipinya. Namun, bukannya marah dia malah mengajakku berkenalan dan memuji ku cantik.

Aku tersipu dengan ucapannya. Akhirnya aku pun berkenalan dengannya dan sejak saat itu aku dan dia mulai menjadi semakin dekat. Dia memang sama sekali tidak pernah meminta nomor handphone ataupun pin bbmku.

Aku dan dia hanya saling bertemu di sekolah saja. Itu pun hanya saat jam istirahat di taman itu. Aku tidak tau kenapa bisa seperti ini. Tapi yang jelas aku merasa nyaman ketika berdekatan dengannya.

Aku tanpa ragu mencurahkan semua kegalauan dan kegundahan ku kepadanya. Begitupun dia, dia juga sepertinya tanpa ragu menceritakan semuanya padaku.

Mulai dari hobinya memotret, ibunya yang galak, adiknya yang rewel sampai satu hal yang paling ia benci, yakni kehilangan. Ia bilang ia telah kehilangan ayahnya ketika masih kelas 2 SMP dan itu adalah saat-saat yang paling ia benci semasa hidupnya.

“Hey cantik. Bangun dong, aku udah dateng nih!” suara itu seketika membangunkanku dari lamunanku. “Rendi!” aku sedikit berteriak sambil bangkit dari posisiku yang semula.

Tapi sayang, itu hanya halusinasiku saja. Hari ini sepertinya memang rendi benar-benar tidak berangkat ke sekolah. Aku pun kembali ke kelasku dengan membwa sebuah kekosongan.

Hari demi hari terus berlalu. Disetiap aku berangkat sekolah aku sama sekali tidak bisa menemukan sosok Rendi lagi. Aku benar-benar tidak tahu dia kemana.

Mungkin dia pindah sekolah atau pindah rumah ke luar kota. Tapi jika memang itu benar, kenapa dia tidak berpamitan kepadaku. Ini benar-benar kejam.

Seperti biasanya aku datang kembali ke taman yang sama. Di hari ini semuanya tampak sama, begitu sepi dan sunyi. Hanya ada beberapa bunga yang tampak menari ketika terkena hembusan angina yang semilir.

Aku kembali merebahkan tubuhku diatas bangku itu. Kembali aku mencoba mengumpulkan puing-puing kenanganku bersama Rendi. Aku berharap semoga suatu saat aku bisa bertemu kembali dengannya.

“Hey cantik. Bangun dong aku sudah dateng nih.” Suara itu kembali terdengar. Sebenarnya aku sudah yakin kalau ini hanyalah imajinasiku saja. Namun, aku coba untuk bangkit dan membuka mataku.

Sayup-sayup tampak seorang pria tampan sedang berdiri di hadapanku. Dengan postur tinggi, wajah indo-arab, dan juga dengan kamera yang menggantung di lehernya. Aku yakin sekali itu Rendi, tapi pasti ini hanya imajinasiku saja.

Sampai akhirnya dia melambaikan tangannya padaku. Sontak aku pun langsung bangkit dan segera memeluknya. Tak terasa air mataku mulai menetes. Akhirnya aku bisa kembali menemukan sesuatu yang telah hilang.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta, Pelajar
Back To Top