Maafkan Keegoisanku Selama Ini

“Pluk…!” secarcik kertas tiba-tiba melayang ke arahku. Aku melihat sekelilingku tapi aku tidak menemukan sosok yang melempar kertas ini. Perlahan ku buka kertas yang berisikan pesan singkat ini.

Jangan melamun, semangat lah J itu lah pesan yang ada dikertas itu. Kuno sekali pikirku. Mengirim pesan lewat kertas macam ini. Apa dia pikir aku ini anak SD. Tapi meski begitu aku tetap merasa senang karena masih ada orang yang mau perhatian dan memberiku semangat.

“Cieeee ada yang nyemangatin, he… he… ” ucap Rachel yang duduk disampingku.  “Ah apaan si lo hel. Lo tau ngga siapa yang barusan ngelempar kertas ini?”  tanyaku padanya. “haha ya ngga tau lah, lo tau kan, dari tadi gue itu tidur.

Liat aja tuh dosennya. Ngantukin banget ya kan?.” ujarnya lagi. “aah elo ini hel” ucapku jengkel.

Hari pun berlalu, sudah beberapa hari ini aku tak mendapatkan kertas terbang lagi. Aku tidak tau kenapa tidak ada kertas terbang lagi. Padahal sebenarnya aku masih sedikit berharap akan ada kertas itu lagi.

“Heeyy.!!” Ucap Rachel mengagetkanku yang sedang duduk termenung sendiri dipojokan. “Lagi ngelamunin siapa lo?” ucapna lagi. “Apaan si hel, gue ngga ngelamunin siapa-siapa. Lo jangan rese deh.” Jawabku singkat. “Ahaha iyaiya. Eh lo tau engga? Si Dony lagi dari kemaren lagi dirumah sakit tau.” Ucap Rachel.

“Dony siapa?” tanyaku singkat. “Ya ampun Dony temen sekelas kita. Dia itu anak yang sering ngelemparin elo kertas. Uups”

“haaah? Serius lo? Ooh, pantesan aja udah beberapa hari ini gue ngga dapet kertas lagi. Yaudah entar balik dari kampus temenin gue jenguk dia yuk?” ajakku. “Oke” jawab Rachel santai.

Sepulang dari kampus aku pun berangkat pergi menuju rumah sakit dengan Rachel. Sesampainya disana, Dony sepertinya nampak terkejut dengan kehadiranku. Aku tau dia memiliki rasa terhadapku sejak dulu. Namun aku tidak begitu tertarik dengan nya. Meskipun banyak cewe yang bilang kalo dia itu kece badai.

“Hey Dony, liat niih siapa yang dateng.” Ucap Rachel sembari menarik tanganku.
“Eh, Rachel, Natasya”. Ucap Dony sembari membenarkan posisi tidurnya.
“Iya, kok lo ngga kabar-kabar kalo lo sakit?” tanyaku.

“hehe, ngga papa. Gue Cuma sakit biasa kok, bukan sakit yang berat.”
“Katanya lo kena DBD?”
“Iya emang kena DBD tapi bentar lagi juga sembuh kok, apa lagi kamu udah jenguk.” Ucap Dony lagi.

Semakin hari perkembangan kesehatan Dony semakin membaik, dia memang memintaku untuk bisa menyempatkan datang menjenguknya di rumah sakit.

Bagiku itu si bukan masalah, terlebih perhatiannya ini lama-kelamaan seperti membuatku luluh. Sampai akhirnya Dony benar-benar sembuh total dari penyakit yang dideritanya.

Setelah kesembuhannya, aku dan Dony pun semakin dekat. Entah kenapa aku yang awalnya biasa saja, sekarang menjadi begitu respect dengan Dony. Perlahan sikapnya yang lembut dan  penuh kasih telah berhasil membuat hatiku bergetar.

Sampai pada suatu malam, Dony mengajakku untuk pergi ke salah satu pasar malam di daerahku. Aku pun menerima ajakannya ini dengan penuh semangat. Aku dan Dony berjalan menelusuri setiap wahana yang ada dipasar malam ini.

Ketika sedang asyik berjalan dengan Dony, tiba-tiba mataku melihat sebuah boneka panda yang sangat lucu. Aku pun mengatakannya pada Dony dan ingin mendapatkannya. Namun sayangnya untuk mendapatkan boneka ini tidak hanya cukup dengan beberapa lembar uang.

Aku harus melemparkan beberapa lingkaran kecil kea rah boneka itu. Aku pun mencobanya berkali-kali namun semuanya gagal. Sampai akhirnya Dony pun melakukan nya untukku.

Dengan kekuatan cinta yang dibalut dengan manisnya kasih sayang, akhirnya Dony berhasil mendapatkan nya untukku. Aku benar-benar bahagia. Dan bahkan kebahagiaanku tak berhenti sampai disitu saja.

Di saat yang sama Dony juga mengungkapkan perasaannya padaku. Tanpa pikir panjang akhirnya aku menerima Dony dan sejak saat itu resmi kami menjadi sepasang kekasih.

Diawal hubunganku dengannya, semua terasa manis. Di bulan-bulan berikutnya, rasa manis itu perlahan mulai pudar. Dia terlalu perhatian padaku, bahkan perhatiannya ini kadang membuatku sedikit risih. Selain itu dia juga terlalu overprotective dan bahkan dia berubah menjadi seorang yang pecemburu berat.

Sampai suatu ketika waktu aku sedang mengerjakan tugas bersama Rendi teman sekelompokku, dia datang dengan membawa rasa cemburunya. Dia meminta Rendi agar jangan terlalu dekat denganku.

Bahkan dia sempat mengumpat ke Rendi dengan kata-kata yang tidak pantas. Hal ini benar-benar membuatku kecewa, aku benar-benar malu dibuatnya. Di saat yang sama akhirnya aku memutuskan hubunganku dengannya.

Dia sempat menolak dan membujukku, namun dengan kegigihanku aku tetap bulat pada keputusanku ini.

Waktu terus berjalan, hari demi hari kulalui dengan sepi. Aku telah kehilangan seorang penyemangat dalam hidupku. Disaat-saat seperti ini aku merasa telah melakukan kesalahan karena telah menyakiti Dony.

Meskipun berat, aku terus berusaha untuk melalui hariku.  Bahkan aku tidak hanya kehilangan Dony, aku juga telah kehilangan sahabat terbaikku Rachel. Rachel adalah tempat Dony mencurahkan semua perasaannya terhadapku.

Dia merasa aku terlalu egois dan jahat karena telah memutuskan Dony di hadapan teman-temanku. Dan kali ini aku benar-benar sendiri.

Selang beberapa minggu berlalu, aku mendengar kabar bahwa Dony dan Rachel telah jadian dan resmi menjadi sepasang kekasih. Aku sedikit tidak percaya, dan aku pun menanyakan hal ini pada Dony.

Betapa hancurnya perasaan ku ketika mendengar jawaban dari Dony. Ternyata mereka berdua benar-benar telah jadian. Aku benar-benar bingung harus bagaimana.

Tidak mungkin aku marah pada Dony karena aku lah yang telah memutuskan hubunganku dengannya. Marah pada Rachel pun akan percuma.

Dia adalah sehabat terbaik ku selama ini, aku tidak mungkin bisa melakukannya. Akhirnya dalam hati aku hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada Dony karena aku sadar aku terlalu egois.

---oOo---

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top