Darah Perawan Pembawa Petaka

Aku termenung dalam dekapan malam yang begitu sunyi. Masih teringat jelas dalam benakku senyum wajahnya yang begitu manis. Rona matanya yang sayu, bibirnya yang tipis dan juga lekuk tubuhnya yang begitu aduhai.


Ingin sekali rasanya sekali lagi aku bertemu dengannya, bercumbu dengannya dan juga memadu kasih dengannya.

Aku masih terbaring di tempat tidurku, memandang langit-langit kamar yang mulai kusam. Entah apa yang sebenarnya aku rasakan, tidak seperti biasanya aku merasa seperti ini.

Mungkin perasaan ini lah yang sering disebut-sebut orang dengan sebutan rindu. Belum dalam ku tenggelam dalam rasa rindu itu, aku dikagetkan dengan suara ponsel. Ada pesan masuk dari Arum.

Arum adalah pacarku yang sangat aku sayangi. Aku dan dia sudah cukup lama menjalin hubungan. Dan selama ini aku sama sekali tidak pernah merasa bosan dengannya.

Selama kami menjalin hubungan, kami tidak pernah melakukan hal yang berlebihan. Hanya sebatas berciuman dan pegang-pegangan. Tak pernah sampai tidur bersama seperti pasangan kekasih lainnya. Meskipun terkadang aku ingin.

Mentari kembali terbit dari timur. Memberikan sinar hangatnya untuk semua penduduk bumi. Aku pun siap memulai hariku. Tentunya dengan semangat dari Arum.

Hari ini adalah hari libur. Aku juga tidak memiliki aktivitas yang begitu penting. Aku hanya membereskan kosanku dan juga bersih-bersih sekedarnya. Belum jauh matahari melintas, aku terpikir untuk mengajak arum main ke kosanku. Dengan ponselku, aku pun menelponnya dan memintanya untuk segera datang ke kosanku.

“Halo sayang…”, ucapku lewat telepon.
“Iya sayang ada apa?”
“Kamu sibuk enggak hari ini?”
“Enggak si sayang, emang ada apa?”
“Main ke kosan sih sayang. Kangen nih”

“Emm.. ya sudah deh bentar ya sayang. Aku siap-siap dulu”

“Oke. Aku tunggu ya sayang”
“Tuut..tuutt.tuut”

Panggilan pun ku akhiri. Aku senang sekali rasanya. Aku benar-benar berharap keinginan untuk bisa meniduri pacar ku ini kali ini bisa terwujud. Segala sesuatu sudah ku persiapkan. Mulai dari obat perangsang yang kudapat dari temanku sampai tempat tidur yang sudah kurapikan.

Sekitar 20 menit aku menunggu akhirnya pacarku tiba juga dikosanku. Dia begitu cantik dengan menggunakan kemeja setengah tiang dan juga celana jeans yang ketat. Kupersilakan pacarku masuk ke kosanku.

Ku suguhi dia segelas minuman yang tentunya sudah ku campur obat perangsang dari temanku. Merasa obat sudah mulai bekerja, aku pun langsung mulai mencumbunya. Kumulai dari atas, turun ke tengah.

Biasanya aku hanya berhenti sampai tengah namun kali dengan bantuan obat yang kudapat dari temanku itu, akhirnya kuberanikan untuk meneruskannya ke bawah. Dan benar saja, pacar ku sama sekali tidak melakukan penolakan.

Dan betapa bahagianya aku hari ini. Akhirnya aku bisa mendapatkan kesuciannya. Aku berhasil mendapatkan mahkota yang dari dulu sangat aku inginkan. Akhirnya nafsu yang selama ini hanya kupendam bisa terpuaskan.

Sadar kesuciannya telah kurenggut, pacarku menangis. Aku pun merasa iba dengannya. Sebisa mungkin aku mencoba untuk menenangkannya. Mulai dari janji-janji manis sampai segala jenis sumpah kuucapkan untuk membuatnya tenang.

Dengan susah payah akhirnya aku bisa juga menenangkannya dan membuatnya yakin kalau aku lah yang nanti akan menjadi imamnya. Akulah yang nantinya akan menjadi ayah dari anak-anaknya.

Merasa sudah berhasil menenangkan pacarku, akhirnya aku pergi keluar untuk mencari makanan. Dengan menggunkan motorku, aku berangkat untuk mencari makanan. Aku pergi dengan kecepatan tinggi berharap agar bisa kembali dan bercumbu lagi dengan arum.

Saat sedang mengendarai motorku, tiba-tiba motorku manabrak motor didepanku. Alhasil aku pun mendapat luka dan harus dilarikan ke klinik. Aku pun bingung harus bagaimana. Aku tidak mungkin meninggalkan Arum dengan kondisi seperti itu di kosanku.

Akhirnya aku memutuskan untuk meminta bantuan temanku untuk menghampiri Arum dan memberitahunya kondisiku sekarang. Aku memberitahu Andi, dia adalah teman yang akrab denganku. Aku dan dia tidak pernah malu-malu untuk saling bercerita, bahkan sampai hal-hal yang bersifat privasi.

Ku telpon dia dan kuberitahu tentang semua yang terjadi. Mulai dari aku merenggut mahkota pacarku sampai bagaimana bisa aku sampai di klinik ini. Dia pun bersedia membantu ku dengan syarat dia ingin mencicipi pacarku.

Sebenarnya aku sedikit tidak rela, tapi tak apalah pikirku. Toh aku lah yang sudah mendapatkan mahkotanya.

Setelah mendapatkan beberapa perawatan ringan dan merasa sudah bisa kembali, aku pun mengendarai motorku dan segera kembali ke kosanku. Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku tiba juga dikosanku.

Aku berjalan menuju pintu kosanku dan kubuka pintu kamarku. Namun, betapa terkejutnya aku saat aku membuka kamarku, aku melihat andi menggenggam sebuah pisau dan sekujur tubuhnya penuh darah.

Aku juga melihat Arum sudah terkulai lemas dengan keadaan tak bernyawa. Ada banyak sekali luka ditubuhnya. Andi mengumpat kearahku. Dia juga bercerita bagaimana ini  bisa terjadi.

Setelah menerima telpon dariku, dia pun berangkat menuju kosanku. Sampainya dia dikosanku dia langsung mengetuk pintu. Dan betapa terkejutnya dia ternyata pacarku yang sudah aku nodai dan kurenggut keperawanannya adalah Arum, adik kandungnya sendiri.

Perasaan marah, kesal dan juga kecewa merasuk kedalam tubuh Andi. Segala macam umpatan dan sumpah serapah pun keluar dari mulut Andi. Merasa keluarga nya telah dinodai, dia pun berfikiran untuk menghapus noda itu dengan cara membunuh Arum.

Dengan sebatang pisau yang ia bawa, ia pun tanpa ragu menghujam dada arum. Mulai dengan satu tusukan, kemudian ia cabut pisau nya, dan akhirnya menusuknya lagi secara bertubi-tubi sampai Arum meninggal.

Merasa tidak cukup hanya dengan membunuh Arum, dia pun mengarahkan pisaunya ke arahku. Sebisa mungkin aku melakukan perlawanan. Aku keluarkan juga pisau simpananku dan akhirnya andi pun tewas di tanganku.

Aku benar-benar merasa berdosa. Bagaimana ini semua bisa terjadi. Bagaimana bisa pacar dan sahabatku sendiri mati dihadapanku. Aku benar-benar merasa bersalah. Ini semua berawal dari darah perawan Arum. Ini semua karena Arum!

Tidak lama kemudian ada beberapa polisi datang mendobrak pintu kamar kosanku dan dengan sigap mereka mengamankan aku. Aku dibawa dikantor polisi dan segera di tindak.

Aku pun sama sekali tidak melakukan perlawanan. Aku menceritakan semua yang terjadi dengan jujur, dan akhirnya aku di vonis dengan hukuman 20 tahun penjara. Karena darah perawan Arum, aku harus merasakan pahitnya jeruji dan juga dihantui rasa bersalah kepada Andi dan Arum.

---oOo---

Tag : Cerpen, Horor, Misteri
Back To Top