Cerita Lina dan Orang Tua yang Kejam

Namanya Lina Apriana, biasa dipanggil Ana. Dia adalah anak yang rajin, tekun dalam beribadah atau bersekolah. Selain itu anaknya cantik, putih dan bersih. Wajahnya seperti memancarkan cahaya ketenangan.


Banyak anak laki – laki yang mengidolakannya. Dia memiliki tiga saudara, dia adalah anak tiri dari keluarga pak Bagio. Tiga saudaranya bernama Riko, Siti dan Rina. Ketiga saudaranya berasal dari ibu tirinya, hanya dia yang berasal dari bapaknya.

Sekarang usianya sudah menginjak 17 tahun, sedangkan Riko 20 tahun, Siti 15 tahun dan Rina 9 tahun. Awal bapaknya menikah dengan ibu tirinya, ibunya sangat baik dengan Ana termasuk ketiga anak yang dibawa ibunya. Ana juga senang melihat perlakuan ibu tirinya terhadapnya.

Tetapi semua itu berbalik 180 derajat ketika Pak Bagio pergi merantau. Perlakuan ibu tiri dan kedua saudaranya Riko dan Siti sangat berbeda. Mereka seolah – olah menjadikan Ana sebagai pembantu. Hanya Rina yang baik terhadap Ana.

Ibu tirinya sering menyuruh Ana untuk membersihkan halaman, mencuci baju, dan segala urusan yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga.

Sedangkan ibu tirinya hanya asik menonton tv, tidak berbeda dengan Siti, Siti pun sering menyuruh Ana untuk mencuci bajunya dan menyiapkan makanan pagi. Sedangkan si Riko sering menyuruhnya untuk membersihkan kamarnya.

Tapi Rina anak yang paling kecil, berbeda dengan kedua kakaknya dan ibunya. Rina merasa kasihan kepada Ana, dia terkadang membantu ana untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Hanya Rina yang menjadi penghibur bagi  Ana. Pernah suatu malam, ketika ibu dan kedua saudarinya pergi jalan – jalan keluar rumah. Hanya ada Riko dan Ana dirumah. “ana, buatkan aku kopi” kata Riko, lalu ana membuatkan kopi “ini kopinya kak” kata ana.

Lalu Riko meminta Ana untuk menemaninya melihat tv, Ana pun duduk didekat Riko, lalu tiba – tiba riko mulai memegang tangannya, karena Riko adalah kakaknya dia biasa saja. “kalau dilihat dari dekat kamu cantik juga” kata Riko. Ana hanya terdiam, melihat Ana hanya terdiam Riko pun mulai meraba kebagian yang lain.

Seketika Ana memukul tangan Riko sambil berkata “kakak ini apa – apa sih, aku ini adikmu lo kak”. Lalu Riko menjawab “kamu kan hanya adik tiri ku”.

Melihat tatapan mata Riko yang seperti mau menerkam  Ana pun pergi kekamar. Dia tidak habis pikir, kakaknya mau mencoba melakukan hal yang tidak senonoh terhadapnya.

Ke esokan harinya, Ana meceritakan kejadian semalam kepada ibunya. Ana berharap ibunya mau menegur Riko untuk tidak berbuat seperti itu lagi. Tapi malah sebaliknya ibu tirinya menuduh bahwa Ana lah yang berbohong, dia tidak percaya kalo Riko mau melakukan hal tersebut kepadanya.

Ana mulai semakin sedih, dia tidak tahu harus mengadu kemana lagi, lalu dia lari ke dalam kamar dan hanya bisa menangis. Kemudian terdengar ketukan pintu “tok tok tok”, “masuk” kata Ana, lalu masuk lah Rina, “mba kenapa, ko nangis” kata Rina, “mba tidak apa – apa kok dek” kata Ana sambil mengusap air matanya.

“Aku boleh tidur sama mba tidak?” Rina mencoba meminta kepada Ana, jawab ana sambil mengusap kepala Rina “ia boleh dek”. Kemudian mereka tertidur.

Hari demi hari dilewati oleh Ana, dia mencoba menghadapi itu semua sendirian dengan sabar. Tidak terasa lima tahun dilewati oleh Ana. Ayahnya kini telah tiada, sekarang dia sebatang kara.

Dia juga telah mengandung anak dari Riko. Ibunya tetap saja memperlakukan Ana dengan semena – mena, tidak jauh berbeda dengan ibunya, Siti pun memiliki sifat yang sama dengan ibunya. Hanya Rina yang bisa menghiburnya.

---oOo---

Tag : Ayah, Cerpen, Ibu, Keluarga
Back To Top