Bu Belikan Aku Printer Terbaru yang Bagus

Hari ini adalah hari senin. Aku tak pernah punya banyak semangat di hari ini. Terlebih ketika aku mengingat di hari ini ada banyak mata pelajaran sains di kelasku. Menyusun laporan praktikum! Mungkin itu lah yang sebenarnya aku benci, bukan hari senin-nya. 


Tapi hari senin dan laporan praktikum sudah menyatu dalam benakku. Bagaikan gula yang masuk kedalam air, keduanya menjadi satu dan tak dapat dibedakan.

Mungkin jika hari senin dan laporan praktikum itu berwujud cair, perpaduan keduanya ini sudah bisa disebut sebagai larutan.

Langkah gontai ku mulai menyusuri gerbang sekolah. Rasanya lemas sekali tiap kali aku mengingat jam pertama adalah mata pelajaran biologi. Entah kenapa aku bisa masuk ke kelas IPA, sementara aku sadar sepenuhnya aku tidak suka berhitung.

Selain itu aku juga tidak pernah bisa merasakan manfaat langsung dari setiap mata pelajaran yang aku terima. Tapi ya sudahlah, mungkin ini adalah takdirku. Mau tidak mau aku harus bisa melaluinya karena aku ingin segera lulus dari SMA terkutuk ini.

***
Bel sepulang sekolah kembali berbunyi. Huuuh, lega sekali rasanya. Akhirnya praktikum hari ini bisa kulalui tanpa ada banyak halangan. Tapi ketika pikiranku teringat akan tugas menyusun laporan, rasa lelah itu seketika kembali muncul.

Ngeprint, ngeprint, dan ngeprint, itulah kata yang selalu membebaniku. Ingin sekali rasanya aku membeli printer sendiri agar aku tidak harus bolak-balik ke warnet atau ke fotocopy-an.

Tapi apalah daya, tabunganku masih belum cukup untuk membeli printer yang bagus. Aku  juga tidak mungkin meminta kepada ibuku karena baru beberapa bulan yang lalu aku sudah meminta sepatu baru pada ibuku.

Mungkin memang aku harus sedikit bersabar. Seperti yang pepatah bijak katakana “ Orang yang bersabar akan beruntung.”

“Nanti kamu mau ngeprint laporan dimana ra?” Tanya Fira sembali berjalan disisi kananku. “Ngga tau ini, mungkin diwarnet. Kamu dimana?” Jawabku lemas.
“Belum tau juga ini. Kalau diwarnet mah mahal banget, apalagi ada banyak laporan praktikum yang harus di-print.”

“Iya, emang banyak banget. Yaudah abis ini kita kerja kelompok aja fir, kamu kerumahku dulu. Nyusun laporan abis itu kita ngeprint bareng.” Tawarku pada Fira.
“Wah ide bagus itu. Kamu tau kan tempat ngeprint yang murah?”
“Iya tau kok, di fotocopy-an kompleks rumahku itu kayaknya murah.”

“Oke deh, yaudah ntar aku kerumahmu!” Ucap Fira sembari melangkahkan kakinya ke arah yang berbeda denganku.

Fira adalah salah satu sahabat terbaikku, dia bukan anak yang manja dan suka berbelanja. Dia juga bukan orang yang kurang mampu, tapi dia memiliki sifat yang sangat ekonomis.

Dia tak pernah membeli sesuatu yang tidak benar-benar ia inginkan. Ingin sebenarnya aku juga bersikap  sama dengannya, tapi bagaimana lagi. Aku sama sekali tidak tahan jika menginginkan sesuatu. Bahkan apapun akan kulakukan untuk mendapat sesuatu tersebut. Dan tentunya dengan cara yang halal.
.
Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku di atas kasur. Lelah sekali rasanya. Bukan hanya lelah di badan karena harus naik bis selama lebih dari 20 menit, tapi juga lelah di fikiran karena harus segera menyelesaikan tugas sekolah.

“Rara, kamu makan dulu nak. Ini sudah ibu siapin makanannya.” Suara ibuku terdengar dari ruang makan.

“Iya bun, ini mau makan. Rara ganti baju dulu bentar.” Ujarku sembari mulai membereskan badan. Kulangkahkan kakiku yang lemas ke ruang makan. Kulihat ada banyak makanan yang sangat aku sukai dan sepertinya ibuku sengaja memasaknya untukku.

“Ini ra, ibu bikini pepes ikan, kamu suka kan sama pepes?”
“Iya bun, suka banget. Makasih ya bu.” Ucapku lemas.
“Kok kamu keliatan lemes banget si Ra? Kamu sakit?”
“Engga kok bun, Rara enggapapa.” Jawabku lirih
“Terus kenapa dong keliatan lemes banget gitu?”

“Tugas sekolah banyak banget bun, terus tugasnya itu harus di print. Kalo terus-terusan kayak gini kan mending uang yang buat ngeprint itu dikumpulin buat beli printer sendri.”

“Oooh, kamu pengen printer?” ucap ibuku sambil menengok ke arahku. Aku hany mengangguk lirih sambil memakan nasiku. Ibuku memang tidak menanggapinya secara serius.

Sudah bisa kupastikan bahwa ibuku akan segera membawa kasus ini kehadapan ayahku. Kasus dimana aku mulai merasa lemas dan juga lesuh karena ingin punya printer sendiri.

Dan seandainya kasus ini sudah sampai ke telinga ayahku, dia pasti akan memikirkan ini secara mendalam. Aku tahu ayahku adalah seorang politikus yang menanggapi segala sesuatu dalam hidupnya dengan serius.

Dan sudah pasti kasusku ini tidak diterimanya dengan mentah-mentah. Akan ada banyak aspek yang orang itu pertimbangkan atas permintaanku ini. Aku pun harus menyiapka telingaku lebar-lebar karena aka nada banyak nasihat dan ceramah yang keluar dari mulut ayahku.

Tapi tak masalah, yang penting aku bisa mendapatkan printer baru, dan bisa lebih mudah menghadapi tugas-tugas tidak penting dari guruku.

---oOo---

Back To Top