Kesempurnaan Cinta yang Kau Berikan

Cerpen tentang Cinta yang Sempurna - Berdiri ku di sini, melawan panasnya sang matahari begitu kejam membakar. Kau datang dengan wajah memelas dan mata yang berkaca-kaca. Kau tidak enak hati telah membuatku lama menunggu. Tetapi aku pun tersenyum dan tidaklah memperlihatkan muka kemarahan.

Aku cukup bahagia, bisa melihatmu datang di tempat ini. Aku sudah mempunyai pikiran kau tidak akan datang di tempat ini. Hampir saja aku putus asa dan menyerah untuk menunggumu di sini. Tetapi dengan jiwa besarmu kau datang dengan tawa dan keceriaan yang sudah lama tidak aku lihat.

Kau mendekatiku dan berdiri di depanku, lalu kau memasukan tanganmu ke tas yang kau bawa dan mengambil sepucuk kain kecil segi empat. Dengan perhatian cinta yang mendalam kau mengelap kening ini hingga hilang kringat yang menempel. “Apa kabar..?”, ungkapku kepadamu begitu bahagia melihat kau telah datang kembali.

“Aku baik-baik saja”, ungkapnya dan terus mengelap keningku hingga bersih.
“Panas nih, berteduh yuk”, ungkapku kepadanya.

Dia tersenyum dan langsung berjalan hendak berteduh di gedung kosong yag jaraknya 300 meter dari tempat kami berdiri. Tempat ini adalah tempat yang jauh dari pemukiman dan jauh dari perdesaan. Sejak pertengkaranku dengannya dahulu, hubungan kami terpisah akibat kesalah pahaman.

Kini aku telah sadar bahwa wanita yang sedang bersamaku saat ini adalah wanita yang tulus mencintaiku. Untuk itulah aku berdiri di sini, karena ingin meminta maaf darinya dan berharap dia datang menemuiku di tempat ini. Aku sangat bersyukur dia masih mau menemuiku di sini dan hubunganku bisa di perbaiki.

Dengan perlahan aku dan dia berjalan di tengah panasnya matahari yang menyengat. Tak lama kemudian aku pun sampai di gedung tua tersebut. Kami pun duduk di teras gedung tersebut. Dengan ekspresi sedikit kesalnya dia berkata,”Kenapa kamu tidak ke rumah saja si”, ungkap kekasihku.

“Kamu ingat tidak, tempat ini adalah tempat berteduhku dahulu waktu aku kehujanan. Di sini juga aku melihat kau dengan ayahmu, yang juga sedang berteduh lalu aku berkenalan dengan ayahmu dan kemudian denganmu. Karena ini tempat pertama kali kita bertemu maka aku pun mengajakmu untuk datang di tempat ini lagi”, ungkapku.

“Iya si, tapikan ini jauh dari permukiman”, ungkap kekasihku.
“Tapi aku senang sekali kau datang menghampiriku di sini”, dengan mengusap rambutnya.
“Aku juga senang akhrinya kamu sadar”, ungkapnya dengan tersenyum.
“Sekarang kita pulang yuk, hari sudah hampir sore”, ungkapku.
“Ayok”.

Kami berdiri dan bergegas menghampiri kendaraan kami yang memang sudah terparkir di depan gedung ini. Kami pun duduk dan kemudian mulai menghidupkan seepeda motor kami. Setelah nyala dengan perlahan kami berjalan menuju arah pulang.

Kami berjalan beriringan dan sangat pelan melewati jalan yang sepi ini. Setelah setengah jam kami berjalan akhirnya kami pun sampai di jalan raya. Kami menengok ke kanan dan ke kiri dan kemudian menyeberang dengan sangat hati-hati. Sementara itu aku terus di belakang kekasihku dan selalu mengawalnya dari belakang.

Bahagia sekali hati ini bisa mendapatkan maaf dari orang yang aku sayangi. Dengan selalu tersenyum aku memandanginya dari belakang. Ini semua tidak aku sadari dan seolah mimpi bisa naik motor beriringan dengan kekasihku. Aku akan terus mengawalnya hingga sesampainya dia di rumah.

Cukup jauh memang jarak rumah kekasihku dari tempat tersebut. Perlu memakan waktu selama dua jam unntuk bisa sampai di rumah. Dengan sabar aku terus mengawalnya dan menjaga jarak dengannya.

Agar aku dan dia tidak terpisah dan tidak juga bertabrakan. Untuk itu seni dalam memainkan gas juga haru diterapkan. Kapan aku harus menambah gas dan kapan kapan aku harus mengurangi gas.

Setelah 2 jam sampailah aku di rumah kekasihku. kami pun menghentikan laju motor kami dan menyandarkannya dengan kaki kami. “Mau mampir tidak..?”, ungkap kekasihku dengan senyumnya. “Aku langsung sajalah, hari sudah semakin sore”, ungkapku.

Aku pun menghidupkan motorku lagi, aku melihatnya sambil tersenyum dan berkata,”Aku pulang ya”. Sementara itu diapun tersenyum dan berkata,”Iya hati-hati ya”. Aku terus berjalan menuju pulang dengan santai.

Di perjalanan aku tidak habis pikir memikirkan kekasihku. Aku begitu riangnya menunggangi motor ini dan melintasi jalan sambil memikirkan kekasihku. Aku tidak peduli orang lain yang melihatku saat ini. Biarkan dia mengatakan aku gila karena tersenyum sendiri, tetapi yang pasti aku sangat bahagia dengan hal ini.

Kini aku akan mempertahankannya dengan selalu mencintainya. Aku juga tidak akan menyakitinya dan akan selalu percaya dengannya. Aku akan membuka lembaran baru cinta yang baru saja aku sambung setelah sebelumnya putus akibat salah paham. Di hubungan yang baru aku sambung ini semoga tidak ada kesalah pahaman yang membuat hubngan kami pecah lagi.

Aku ingin hubungan yang baru aku sambung ini bisa tahan sampai kami nikah nanti dan sampai kami mati. Sehingga aku bisa terus memberikan cintaku kepaanya. Aku juga bisa selalu merasakan cinta yang tulus darinya. Dan kami akan menjadi pasangan yang akan terus saling mencintai sampai mati.

Jalan sudah semakin dekat, tidak terasa jalan yang jauh menjadi sangat dekat di tempuh. Ini semua karena aku memikirkan kekasihku sembari berjalan. Hingga aku pun tidak sadar bahwa jalan yang jauh ini terasa lebih dekat. Aku terus menambah gas motorku agar cepat sampai.

Sesampainya aku di depan rumah aku memarkirkan motorku di teras. Aku turun dan kemudian melepas helemku. Aku masuk ke rumah dan masuk ke kamar untuk meletakan tas. Aku juga mengganti bajuku yang kotor ini karena terkena keringat usai melawan matahari. Setelah itu aku pergi mandi untuk mengembalikan semangatku lagi.

Usai mandi aku memakai pakaianku dan kemudian duduk di ruangan televisi. Aku duduk bersama ayah dan ibuku dan sambil menonton serial kesukaaan kami.

“Tadi siang kamu kemana Hendra..?”, ungkap ibuku ditengah keasyikanku sedang menonton televisi. “Aku menemui Vira ma”, ungkapku tanpa berkedip melihat tayangan televisi tersebut. “Sudah selesai masalah kalian berdua..?”, ungkap mamaku. “Iya sudah kok ma”, tanpa melihat mamaku sedikitpun.

Ibu berhenti bertanya dan ikut menonton dengan serius tayangan televisi. Sementara itu ayahku sudah tertidur pulas di bangku tempat kami duduk. Mungkin dia kecapekaan karena seharian kerja. Aku pun membiarkannya tidur dan melanjutkan menonton televisi.

Menoton menjadi lebih nikmat karena suasana hati yang sedang ceria. Kebahagiaan ini tentu belum aku rasakan kemarin ketika aku belum mendapat maaf dari kekasihku. Aku terus merasa bersalah ketika mengetahui bahwa kekasihku tidaklah bersalah. Bahakan makan saja aku tidak selera.

Adanya hari ini adalah sebagai pengobat semua keterpurukanku hingga suasana kembali baik lagi seperti semula. Aku sangat bersyukur dengan tuhan yang telah memberikan jalan untukku bisa kembali dengannya lagi.

--- oOo ---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top