Hingga Akhir Waktu Kan Setia

Cerpen tentang Kekasih yang Setia - Gemuruh suara kendaraan yang begitu menusuk kuping dan pikiran. Debu dan asap berterbangan mengenai muka hingga terlihat kusam. Jalan begitu lambat karena begitu banyaknya pengendara yang melintas. Sabar menjadi penyelesaian masalah yang kini sedang aku alami.

Kau terus dengan sabar menunggu kendaraan yang ada di depan kita berjalan. Satu meter berjalan dengan pelan dan berhenti lagi. Begitu terus berulang-ulang hingga membuatku bosan. Sedikit demi sedikit akhirnya kami bisa sampai rumah meski sangat memakan waktu dan tenaga kami. Aku dan kekasihku duduk di halaman depan rumahku sambil melepas penat dan lelah sehabis mengendara.

Aku melihat mukamu begitu deras mengalir air keringat. Dengan begitu lembutnya aku mengelap keringat yang menyucur deras di dalam keningmu. Sesosok tawa kecil keluar dari mukamu menghargai perhatianku. Aku berdiri dan berjalan ke rumah untuk membuatkan minuman dingin pengobat rasa panas di teggorokan.

Aku hendak membuat minuman dingin dengan begitu hati-hati dan berharap kekasihku menyukainya. Sementara itu aku mulai memotong buah satu-persatu dan kemudian memasukannya ke mesin blender. Pisau menghancurkan buah hingga terlihat buih di dalam wadah belender. Aku memencet tombol berhenti dan kemudian mengmbilnya dan menuangkan di gelas.

Kini 2 minuman dingin pengobat rasa haus siap untuk di sajikan. Aku membawa minuman dingin ke keluar. Dengan begitu hati-hati aku membawa minuman tersebut. Aku keluar dari pintu dan berjalan lagi menuju tempat kekasihku. “Minuman datang”, ungkapku sambil terus berjalan  mendekat kekasihku.

Dengan tersenyum kekasihku berdiri dan berkata,”Wah tau saja si sayang, aku lagi haus”. “Iya dong, gak nyesel tentunya kamu jadiin aku pacar”, ungkapku sambil menurunkan minuman ke tanah. Dengan satu tangan terbuka aku berkata,”Silahkan diminum jusnya”. Kekasihku meminum jus yang sudah aku buat dengan begitu cepatnya.

Aku mengambil minuman yang sudah aku buat, dan kumasukan ke dalam mulutku. “Berr..”, begitu segar ketika cairan masuk ke dalam tenggorokan. Sementara itu kekasihku sudah menghabiskan minuman yang susdah aku buat.

“Ini bocor apa yank..?”, ungkapku begitu terheran-heran karena minumannya sudah habis dengan begitu cepatnya. “Enggak kok, aku haus”, dengan tersenyum.

Aku tertawa hingga tak terkendali dan tak kuasa untuk berhenti. Kekasihku hanya tersenyum dan memandangi aku yang sedang tersenyum. Wajahku berubah menjadi merah ketika dia memandangku. Dengan tersenyum dan mengacungkan jari telunjuknya dia berkata,”Itu kenapa mukanya merah lebam haha”. Aku hanya tertawa dan berusaha menyembunyikan kegrogianku.

Kami duduk santai lagi sambil menikmati semilir angin yang menghembus di bawah terik matahari. Suasana begitu nyaman lagi tenang dan sejuk luar dan dalam. Sejuk di luar ketika angin menghembus membuat kulitku begitu segar. Sejuk di dalam ketika aku melihat kekasihku tersenyum denganku.

Matahari sudah mulai ke barat dan panas sudah tidak terlalu menyengat. Angin semakin kencang meniup kami, hingga aku harus berulang kali merapihkan rambutku yang berantakan terkena angin. Sementara kekasihku tetap tersenyum melihatku dengan gaya coolnya.

“Apa lihat-lihat”, ungkapku melihat kekasihku yang sedang tersenyum
“Enggak”, berdiri dan berlari mengejarku.

Tanganku mendorong ke atas dan membuat berdiri tubuhku. Aku berlari karena di kejar oleh kekasihku. Aku terpleset dan kakiku tergilir kemudian tubuhku terpental menyentuh tanah. Sambil terus memegang kakiku aku merintih kesakitan,”Aduh...! kakiku tolong”.
Sementara itu kekasihku langsung menghampiriku dan berkata,”Aduh ini akibatnya ngeledek si”. kekasihku melepas sepatu yang terpasang di kakiku. Dia mengurut kakiku dengan begitu lembutnya. Setelah di urut dia menarik kakiku dan membuatku berteriak,”Aduh..! pelan-pelan”. Kekasihku melepaskan kakiku dari tangannya dan berkata,”Sudah sembuh”. Dengan perlahan aku menggerakan kakiku, ajaib kakiku sudah sembuh dan tidak sakit lagi.

Aku berjalan ke bawah pohon lagi dengan dipapah oleh kekasihku. “Makasih ya”, ungkapku kepadanya. “Iya, jangan terlalu banyak bergerak dulu, biar cepat sembuh”, ungkap kekasihku sambil melihatku.

“Aku pulang dulu ya sudah sore”, ungkap kekasihku.
“Terus aku jalan masuk ke rumah gimana..?”, ungkapku.

Dia memapahku lagi dan masuk ke rumah. Aku duduk di bangku ruangan tamu dengan sedikit merasakan nyilu. Kekasihku berdiri di depanku dan berkata,”Aku pulang ya, cepet sembuh ya”.
Dengan tersenyum aku berkata,’Iya, hati-hati ya”.

Kekasihku berjalan  keluar pintu menuju ke halaman. Terlihat dan kaca jendela kekasihku sedang memakai helm dan naik motor dari jendela. Dia menghidupkan motor dan berjalan keluar gerbang. Sementara kau tetap duduk manis di kursi ini. Tidak banyak yang bisa aku lakukan karena kakiku belum bisa terlalu banyak bergerak.

Aku begitu bahagia berkat urutan dari kekasihku aku tidak menderita berkepanjangan. Meskipun aku juga tidak boleh bergerak terlalu banyak setelah di urut. Setidaknya kakiku bisa sembuh lebih cepat dan uratku bisa berfungsi sebagaimana semestinya.

Hari sudah sore dan begitu gelap, berbeda dengan siang hari yang begitu panas. Cuaca begitu mendung dan terlihat awan hitam yang menutup cerahnya langit. Angin terus bertiup menerpa semua yang ada di depannya.

Tidak lama kemudian hujan turun dengan begitu derasnya. Badai mengeluarkan suara yang begitu keras di sertai sebuah cahaya yang sekejab hilang. Sementara aku terkaget dengan suara petir yang keluar. Dengan begitu lambatnya aku berjalan menuju arah kamar karena badai semakin besar.

Aku mematikan ponselku dan mematikan televisi yang hidup. Aku duduk di kamar dengan tenangnya. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi dan mandi. Suasana begitu dingin di iringi dengan hujan yang begitu deras di luar. Usai mandi aku keluar dan memakai bajuku. Aku duduk di kasur dan membungkusnya dengan selimut yang tebal.

Tubuh ini begitu dingin dan membuat bulu kuduk berdiri. Aku mengambil buku dan membacanya sebagai penghilang rasa sepi. Sedikit lebih nyaman membaca buku di tengah petir yang begitu keras malang melintang. Tetapi aku tidak memperdulikannya aku terus terfokus kepada bacaanku.

Malam datang hujan belum juga reda. Petir sudah bersembunyi di gelapnya malam dan yang ada hanya suara rombongan tetesan hujan dari langit. Aku belum juga selesai menikmati dan menyimak subtansi sebuah buku bacaan. Dingin malam semakin menusuk kulit.

Aku berjalan ke dapur dengan penuh kedinginan untuk membuat minuman. Dengan telaten aku mengambil gelas dan dengan jalan yang sangat perlahan. Aku memasukan gula dan teh lalu aku siram dengan air panas. Aku membawanya kembali ke kamar untuk aku meinum dengan menikmati isi dari buku yang aku baca.

Sementara itu aku ingat dengan kekasihku, sedang apa ya dia sekarang ungkap dalam hati kecil. Aku begitu nyaman dekat di sampingnya dan gundah ketika sedang seperti ini. Aku ingin selalu dekat dengan kekasihku.

--- oOo ---

Tag : Cerpen, Cinta, Remaja
Back To Top