Cerita Sukses Pengusaha Genteng

Cerita Sukses Pengusaha Genteng - Namaku Kris Pariang aku biasa dipanggil “entong”. Aku anak kedua dari 3 bersaudara, aku berasal dari keluarga yang kurang mampu, ayahku bekerja serabutan sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa.


Saudara pertamaku bernama Eni, dia sudah menikah tiga tahun yang lalu dan memiliki satu orang anak perempuan. Sedangkan adik ku bernama fatimah, dia baru kelas 2 SMK dia mengambil jurusan teknik komputer dan jaringan.

Aku dulu pernah sekolah tapi hanya sampai sd. Orang tua ku tidak mampu menyekolahkan ku kejenjang yang lebih tinggi karena terbentur ekonomi. Semenjak lulus sd aku bekerja membatu orang tua ku.

Aku menyadari bahwa aku adalah anak laki – laki satu – satunya di keluargaku, jadi mau tidak mau aku harus membantu perekonomian keluarga.

Setelah lulus sekolah sd aku sudah dikenalkan dunia yang pahit, aku sudah berkerja dari tukang mencari rumput untuk sapi, yang hanya diberi sepuluh ribu untuk satu karungnya, tukang cangkul dengan upah 40 ribu dalam sehari terus tukang bersih – bersih kebun kalau diperlukan.

Pada suatu hari aku diajak temanku yang bernama jono untuk ikut bekerja dengannya, aku diajak bekerja di tempat dia bekerja yaitu di pembuatan genteng. Aku pertama bekerja sebagai tukang gencet, tukang membuat genteng.

Aku digaji 50 ribu untuk pembuatan 1000 genteng. Pada bulan pertama kerja aku hanya bisa membuat 500 genteng dalam sehari. Jadi aku dalam satu bulan hanya mendapat uang sekitar 750 ribu dalam sebulan.

Aku merasa itu sudah cukup besar. Dibandingkan dengan bekerja sebagai tukang canggkul atau mencari rumput.

Dalam benakku aku berfikir dengan pendapatanku yang sekarang aku bisa membantu orang tua ku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari dan biaya sekolah adikku si “fatimah”.

Dengan pendapatan ku yang sebagai tukang gencet, aku dapat menyisihkan sebagian uang untuk ditabung. Setelah 10 tahun aku bekerja di pembuatan genteng, aku mencoba memberanikan diri untuk membuat sendiri genteng dengan tabunganku yang sudah terkumpul selama 10 tahun.

Dengan kesabaran, doa orang tua dan dukungan dari keluaga akhirnya aku bisa membuka usaha pembuatan genteng. genteng buatanku aku beri nama “genteng si entong” dengan kelebihan tahan air, dan tidak mudah patah.

Memang tidak mudah menjalani hidup, kadang pahit kadang manis. Seperti lirik sebuah lagu “berakit rakit kita kehulu, berenang – renang ketepian, bersakit – sakit dahulu, bersenang – senang kemudian”. 

Karena aku sudah memiliki pengalaman dalam pembuatan genteng aku sudah tidak kebingungan lagi untuk membuang hasil genteng ku. Sekarang aku sudah bisa mempekerjakan orang, itung – itung mengurangi pengangguran di desaku.

Sekarang dalam satu hari aku bisa membuat genteng 1500 buah. Dengan harga genteng yang mencapai Rp 500/buah. Aku mendapat penghasilan sebesar 750 ribu dalam sehari.

Yang dulu itu adalah gaji ku selama satu bulan. Keberhasilan ku yang sekarang tidak lepas dari usahaku selama ini, dengan segala jerih payah, doa orang tua dan yang terpenting kedekatan terhadap sang ilahi aku bisa membahagiakan orang tuaku.

Sekarang aku bisa membuat rumah untuk orang tua, dan meneruskan sekolah adik ku si “fatimah” sampai  ke sekolah tinggi. Seperti kata orang tua, “tidak ada kesuksesan yang didapat dengan mudah, dan sebuah kesuksesan harus didapat dari kesusahan”

---oOo---

Back To Top