Cerpen Islami Terbaru, Syukur atas Karunia

Anda mencari cerpen islami yang terbaru, sudah mencari kemana-mana dan belum mendapatkan yang diinginkan? Tenang, paling tidak cerpen berjudul “syukur atas karunia” berikut ini bisa menjadi bahan referensi tambahan untuk anda semua yang membutuhkan. Karya ini didedikasikan secara khusus untuk anda yang ingin lebih dekat dengan Alloh SWT.


Kami tidak menjamin bahwa karya cerpen ini bagus, akan tetapi kami berharap cerpen singkat yang ada ini bisa tetapi menghibur anda. Bisa dilihat sendiri dari judulnya, cerpen ini mengambil tema tentang rasa syukur atas apa yang telah diberikan Alloh kepada umatnya. Tentu saja ini sangat menarik, bisa menjadi inspirasi juga.

Tadinya kami ingin membuat analisis untuk cerpen ini namun karena terbatasnya waktu kami tidak dapat memberikan analisis cerpen tersebut pada kesempatan ini. Analisis tersebut ingin kami berikan mengingat pesan yang terkandung dalam karya ini cukup bagus dan bermanfaat. Dengan begitu maka akan lebih baik jika kita bisa memahami pesan yang ingin disampaikan penulis.

Namun begitu, karena belum siap maka mungkin rekan semua bisa melakukan analisa sendiri untuk cerpen yang sudah dibaca. Analisa bertujuan agar kita bisa lebih paham dan bisa lebih mengerti tentang pesan moral yang ada di dalam sebuah kisah cerita. Dengan begitu waktu kita tidak hanya habis untuk santai dan bersenang-senang saja, benar tidak?

Syukur atas Karunia
Cerpen Islami Terbaru

Malam itu aku begitu pusing dengan masalah yang aku hadapi, tetapi aku terus menguatkan diriku dengan selalu menyabut nama Allah. Aku tidak tahu harus meminta tolong dengan siapa, istriku sudah hamil tua dan hampir saja melahirkan.

Tempat tinggalku yang jauh dari keramaian membuatku harus membopongnya pergi ke dukun beranak, karena aku tidak mempunyai kendaraan.
“Mas aku tidak kuat mas”, uangkap istriku sambil mejambak rambutku.
“Iya sabar sebentar lagi sampai di tempat dukun beranak”, ungkapku.

“Aduh..! , tapi perutku sakit banged dan sudah hampir keluar”, ungkap istriku.
“Kamu yang sabar ya sayang”, ungkapu sambil terus berjalan menuju tempat dukun beranak.
“Aduh mas aku tidak kuat..!”, ungkap istriku tetapi tidak aku hiraukan aku terus berjalanmenuju rumah dukun beranak.

Tak lama kemudian kami sampai di tempat dukun beranak. “Assalamualaikum, buk..!”, ungkapku. Tidak ada jawaban. “Assalamualaiku”. Belum ada jawaban lagi.

“Mas aku tidak kuat lagi mas”, ungkap istriku.
“Iya ini lagi dipanggil, kamu sabar ya”, ungkapku.
“Assalamu alaikum”.

“Waalaikum salam, siapa itu malam-malam”, suara dari dalam rumah.
“Aku buk, tolong istriku mau melahirkan”, ungkapku.

Dan sang dukun beranak pun membuka pintunya.
“Bawa masuk ke dalam”, ungkap dukun beranak.
Aku pun membawanya masuk ke dalam, sementara istriku terus meringik kesakitan.

Aku terus berdoa agar istriku dan bayi dalam perutnya bisa terselamatkan. Lama aku menunggu, aku begitu tidak tega melihat istriku yang terus bermain nafas untuk mengeluarkan bayi yang ada di perutnya. Sementar sang dukun  terus membantu istriku hingga bayi bisa keluar.

Aku keluar dari rumah tersebut karena melihat istriku yang kesakitan, aku tidak tega melihatnya. Aku duduk di bangku depan sambil menanti kelahiran anak pertamaku.
“Oeeek.. oeeek”, suara bayiku yang sudah lahir.

Aku pun masuk untuk melihatnya,” Mas bayinya laki-laki”, ungkap sang dukun.
“Allhamdulliah, terimakasih ya Allah atas karuniamu”, ungkapku .

Sang dukun pun mengelap bayiku hingga bersih dan setelah itu aku pun menggendongnya. Perasaan begitu senang karena anak dan istriku selamat.

--- oOo ---

Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan jika karya di atas juga kurang bagus. Kami disini juga tak luput dari salah dan keterbatasan hingga mungkin banyak yang tidak puas dengan hasil karya yang ada.

Lain waktu kami akan berusaha lagi untuk menghadirkan cerpen tentang agama islam yang lebih banyak. Maka jangan sampai ketinggalan yang paling baru ya. Sering-seringlah buka situs ini, lewat ponsel juga bisa. Ya sudah, silahkan dilanjutkan membaca kisah menarik lainnya. 

Tag : Cerpen, Religi
Back To Top