Cerita Cerpen Ditinggal Kekasih, Rapuh

Cerpen ditinggal kekasih adalah sebuah gambaran kepedihan yang dalam. Siapa yang tidak sedih jika orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Lalu apa yang bisa terjadi, bersedih, merenung, menangis menyesali keadaan. 

Hidup menjadi begitu rapuh, seolah dunia tidak akan ada lagi yang bisa digunakan, semua tampak kelam, tak ada keindahan yang terlihat di mata. Kisah yang menggambarkan betapa tak berdaya dan rapuh-nya seseorang ketika kehilangan orang yang dicintai. 

Sungguh akan membuat pembaca tertegun sedih, cerpen ini mungkin akan mengingatkan kita pada duka lara yang pernah kita alami dulu, ketika putus cinta. Atau mungkin bisa membakar semangat dan motivasi untuk bangkit, kembali menatap dunia dengan gagah.

Melihat karya ini lebih dekat, cerpen terbaru yang menarik ini mungkin bukan karya yang sempurna. Tapi lihat apa yang coba disampaikan dalam cerpen ini, sebuah nasehat, sebuah pesan yang patut untuk direnungkan. Coba lihat lagi, apakah tidak ada pesan moral yang bisa direnungkan, apakah semua itu hanya kisah belaka tanpa makna?

Tentu tidak, selain bahasa yang menghibur, karya cerpen ini tentu memiliki nilai pendidikan. Ada nasehat yang bisa diambil, ada peringatan yang bisa dipelajari. Dalam hal menghadapi putus asa karena cinta misalnya, hendaknya kita ingat bahwa hidup harus tetap berjalan, tak perlu menangis dan meratapi luka terlalu lama.

Manusia memang rapuh, tapi masih ada Tuhan yang akan memberikan jalan kepada setiap umat-Nya yang kesusahan. Mintalah padanya, berkeluh-kesahlah padanya, mengadu-lah akan kegundahan hati yang sedang dirasakan. Ya sudah, kita baca saja dulu kisah menarik berikut ini, semoga menghibur!

Rapuh
Cerpen Ditinggal Kekasih

Aku tak tega melihat anakku Linda yang selalu bersedih di kamar 2 minggu ini. Dia selalu bersedih usai kekasihnya meninggal. Padahal 2 bulan lagi adalah hari pernikahan mereka berdua, tetapi maut membawa kekasih Linda pergi kehadapan sang pencipta.

Kekasih Linda pergi setelah mengalami kecelakaan ketika hendak berlibur dengan Linda. Beruntung Linda masih selamat, namun Robi kekasih Linda tidak bisa diselamatkan setelah dilarikan ke rumah sakit.

“Non makan non, entar non sakit”, ungkap pembatu membujuk Linda makan.
“Enggak bi, aku tidak lapar”.
“Gak lapar bagaimana, sudah seharian non belum makan”.
“Aku belum lapar bi, lebih baik bibi keluar dari kamarku, aku pingin sendiri”.

Sang pembantu garuk-garuk kepala dan berkata,”Ya udah non, entar kamu laper hubungin bibi ya non”.

Aku pun menghampiri mereka yang ada di kamar Linda. “Sudah bi, biar saya aja yang ngurus”. “Enjeh ndoro”, ungkap sang bibi dan lalu pergi dari kamar. “Kamu kenapa si Linda gak mau makan ?”. Ungkapku sambil memeluk anakku.

“Aku belum bisa ngelupain Robi mah”, ungkapnya sambil menangis.
“Iya mama paham perasaan kamu, tapi Robi sudah pergi, biarkan dia tenang di alam sana”.

Linda terus menangis dan tidak kuasa menahan rasa kehilangannya. Tak lama kemudian Linda berhenti menangis dan dia berkata,”Mama keluar aja ya, aku pingin sendiri”.
“Iya sayang”, ungkapku sambil berjalan menuju pintu keluar.

Aku keluar namun tidak membuang pandanganku kepada anaku. Aku khawatir karena kesedihan yang mendalam akan terjadi yang tidak-tidak kepada anakku.

“Sudah mama keluar aja”, ungkap Linda melihatku yang begitu ragu keluar dari pintu.
“Iya sayang, ini kan lagi keluar”.

Aku duduk di bangku depan kamarnya dan memantau Linda apabila membutuhkan bantuan. Dalam benakku selalu terpikir bagaimana caranya agar Linda bisa sembuh dari kesedihannya. Mungkin sahabatnya yang bisa membantuku begitu hati kecil berkata. Aku pun menghidupkan ponselku dan menghubungi sahabat Linda.

“Halo tante”, suara sahabat tante setelah terhubung dengan ponselku.
“Iya Rahmah, lagi apa sekarang ?”.
“Enggak lagi ngapa-ngapain tante, kenpa ?”.

“Bisa kesini gak ?, tante pingin kamu hibur Linda, dari kemarin Linda di kamar terus gak mau keluar dan gak mau makan”.
“Ya sudah tante entar Rahma kesitu kok”.
“Makasih daaa”.
“Iya sama-sama dadaa tante”.

Tak lama kemudian, Rahma pun datang ke rumah. “Itu Linda di kamar, kamu masuk aja”, ungkapku.
“Iya tante”.

Rahma pun berjalan menghampiri pintu kamar Linda. “Tok.. Tok.. Tok”, Rahma mengetok pintu.

“Iya siapa ?”. Rahma membuka pintu dan mengulurkan kepalanya ke dalam dan berkata,”Aku boleh masuk gak”, sambil tersenyum.
“Masuk aja Rahma”, ungkap Linda.

Rahma pun masuk dan duduk didekat linda.
“Kamu kenapa sedih gini ?”.
“Aku belum bisa ngelupain Robi, Mah”, ungkap Linda sambil menangis lagi. Sementara Rahma justru serba salah melihat Linda menangis lagi. “Ya iya aku tau kok apa yang kamu rasaai, sabar ya,” Sambil memeluk Linda dan melepaskannya kembali.

“Aku pingin sendiri di kamar Mah, sori banget ini bukan ngusir, tapi tolong keluar dari kamarku”. Ungkap Linda.
“Iya Lin”, sambil keluar menuju pintu.

Aku bingung dengan nasib anakku sekarang, kapan dia bisa lupa dengan kejadian ini. Mungkin waktu belum mempersilahkannya, tetapi pada saatnya keceriaannya pasti akan kembali.

--- oOo ---

Jangan rapuh ya, apapun halangan yang kita dapatkan, apapun rintangan yang dilalui. Bangkitlah jika kita terjatuh, beranjaklah jika kita terpuruk, jangan biarkan hati kita larut dalam kesedihan. Jadikan semua sebagai batu loncatan, sebagai pelajaran yang akan membuat kita lebih dewasa, lebih bijak dan lebih mampu menjalani hidup ini.

Jadikan pengalaman buruk untuk membuat hati lebih tegar, jadikan kegagalan sebagai pil pahit untuk kuat menghadapi kisah cinta yang lebih bermakna. Hidup adalah perjuangan, jangan rapuh, tantang dunia ini dengan langkah yang tegap. Orang lain bisa, orang lain mampu, lalu kenapa kita tidak?

Tag : Cerpen, Cinta
Back To Top