Kurang Kasih Sayang, Naskah Drama Keluarga Berantakan

Contoh naskah drama tentang keluarga berantakan berikut akan menjadi tambahan referensi bagi rekan pelajar yang membutuhkan. Naskah ini disusun dengan sangat sederhana namun telah memenuhi beberapa kriteria yaitu misalnya dari sisi tema dan jalan cerita yang disampaikan. Kejadian yang diangkat juga termasuk menarik untuk disimak, apalagi ada hikmah yang bisa dipelajari.


Naskah ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak yang mengalami dampak buruk dari keluarga yang broken home, yaitu orang tua yang berpisah. Secara kebutuhan ekonomi mungkin saja masih terpenuhi tetapi kebutuhan emosional anak akan tidak cukup.

Seorang anak dari keluarga berantakan pada umumnya akan kekurangan perhatian dan kasih sayang. Wajar, karena ia hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari satu orang tua saja, mungkin hanya dari ayah atau hanya dari ibu. Mental dan emosi anak biasanya akan terpengaruh.

Keadaan keluarga tersebut bisa berakibat pada tumbuh kembang anak. Anak bisa saja menjadi nakal, mencari pelarian, mencari perhatian dari hal lain di luar rumah dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan kisah sebenarnya dalam drama keluarga berikut, simak selengkapnya di bawah ini.

Naskah Drama tentang Keluarga Berantakan

Sebut saja namaku Indri aku adalah bocah kelas 2 sekolah dasar yang ada didesaku. Baru saja kualami kisah pahit dalama hidupku, karena ayah dan ibuku telah bercerai dan pergi meninggalkanku tanpa memberi kabar. Sementara aku tinggal dengan pamanku yang merupakan adik dari ibuku.

Aku selalu iri dengan anak yang lain, karena setiap hendak berangkat kesekolah selalu diantarkan kesekolah, dan selalu ada yang memperhatikan pola makannya. Sementara aku tidak ada yang memperhatikanku, pamanku jarang dirumah karena kerja dan selalu pulang malam. Sehingga hariku sangat sepi tinggal dirumah paman sendirian.

Pada suatu ketika aku berangkat sekolah dengan menaiki sepeda kecilku. Sesampainya disekolah aku melihat teman-temanku yang begitu bahagianya bisa mencium tangan orang tuanya sebelum hingga akhirnya masuk kekelas. Sementara aku tidak bisa demikian, adapun paman selalu berangkat pagi dan tak sempat untuk mengantarku.

Aku pun berjalan mendorong sepedaku masuk kepintu gerrbang, sementara Eli teman satu kelasku menyapaku,”Hey Indri kamu gak diantar apa ?”.

Aku,”Enggak”, dengan muka murung”.

Eli,”Orang tua kamu kemana kok gak nganter”.

Aku,”Aku gak tau orang tua aku dimana sekarang, mereka sudah lama meninggalkanku”, menjawab dengan perasaan merana.

Eli,”Oh, yang sabar ya, besok aku bawa sepedah deh, biar bisa bareng sama kamu”.

Aku,”Yang bener”.

Eli,”Iya bener”.

Aku dan Eli memang merupakan teman baik, dan akhirnya kami pun masuk kelas untuk mengikuti ulangan, kebetulan ini adalah hari terakhir aku ulangan, sebelum akhirnya bagi rapot. Aku pun mengerjakan soal-soal yang sudah diberikan kepada guruku.

Waktu berlalu aku dan teman-teman sekolahku sudah selesai mengerjakan soal yang diberikan oleh guruku. Sementara guruku tidak mempersilahkan kami pulang, karena ingin memberikan pengumuman.

Pak guru,”Anak-anak sekalian besok adalah hari pembagian rapot, saya harap orang tua kalian bisa datang untuk mewakili kalian mengambil rapot. Acara pembagian rapot dimulai jam 8 pagi sampai dengan selesai”.

Aku pun bertanya kepada pak guru,”Pak bagaimana dengan aku, ayah dan ibuku kan tidak ada ?”.

Pak guru bingung baru terfikir olehnya, dan diapun menjawab,”Ya sudah kamu saja yang mengambil rapot kamu”.

Aku,”Iya pak”.

Para muridpun pulang dan bersiap-siap untuk menanti hasil ulangan kemarin. Keesokan harinya aku pun berangkat dengan sepeda, namun berbeda dengan hari kemarin hari ini Eli datang kerumahku untuk pergi kesekolah bersamaku, sementara ayah ayah Eli berangkat kesekolah dengan mengendarai sepeda motor.

Acara pembagian rapotpun dimulai, sementara itu guru menyebutkan terlebih dahulu nama-nama yang menjadi juara.

Pak guru,”Juara ketiga hasil dari ulangan kenaikan kelas diperoleh oleh Indra”. Suara pak guru membacakan nama-nama yang mendapatkan juara. Suara gemuruh tepuk tanganpun menyertainya. Indrapun menerima rapot dengan diringi tepuk tangan yang meriah.

Setelah itu pak guru kembali menyebutkan lagi,”Juara kedua adalah Eli “.

Aku,”Selamat ya kamu dapat juara”.

Eli,”Iya sama-sama”.

Kini tiba disaat yang menegangkan. Pak guru,”Dan juara pertama adalah (terdiam sejenak), juara pertama adalah (para murid dan orang tua tegang), Indri”. Aku pun begitu gembira mendapatkan juara pertama.
Eli,”Wah kamu hebat banged dapat juara 1”.

Aku,”Kamu juga hebat kok”. Aku pun berjalan menuju kepada pak guru untuk mengambil rapot.

Aku cukup puas dengan nilaiku saat ini, namun ada yang kurang, andaikan ayah dan ibuku mengetahui hal ini pasti mereka akan senang. 

Aku sangat rindu dengan ayah dan ibuku, dimanakah gerangan sekarang mereka, ingin sekali aku menunjukan nilaiku sekarang juga seperti layaknya anak-anak yang lain yang ada didepanku. Mereka dengan bahagianya menunjukan nilainya kepada orang tuanya.

--- oOo ---

Lihat, bisa kita lihat dan bisa kita rasakan bahwa keutuhan rumah tangga sangat penting bagi perkembangan anak. Keluarga yang tidak harmonis akan mempengaruhi mental anak yang dimiliki apalagi sampai berantakan. Mudah-mudahan ada hikmah yang bisa kita ambil dari jalan cerita di atas.

Untuk rekan pelajar yang masih membutuhkan contoh lain bisa melihat-lihat beberapa koleksi teks drama yang sudah disiapkan dibagian bawah. Ada beberapa judul menarik yang bisa dibaca, silahkan pilih saja mana yang akan dipelajari. Selebihnya silahkan cari saja naskah yang dibutuhkan melalui penelusuran situs.

Back To Top