Contoh Cerpen tentang Perpisahan, Selamat Tinggal

Persahabatan jadi cinta, itulah cerita dalam contoh cerpen perpisahan kali ini. Tapi, seperti jelas ditulis di judul, kisah cinta yang terjalin antara dua sahabat tersebut tidaklah berakhir dengan indah. Sedih, membaca cerita seperti ini memang membuat hati sedih, tapi tidak apa-apa, namanya juga cerpen.

Karya ini berbeda dari karya lain dengan tema yang sama. Dalam ceritanya, kisah cinta tersebut tidak berakhir seperti akhir kisah kebanyakan. Akhir dari talian asmara antara dua sahabat tersebut begitu mengagetkan. Bayangkan saja, cinta sangat sulit diucapkan dalam sebuah persahabatan tetapi pada akhirnya kandas.

Apa sebabnya, tidak peduli apapun sebabnya namun jalan kisah diantara dua remaja ini benar-benar menyentuh hati. Alur ceritanya sungguh bagus, menarik tetapi tetap sederhana dan mudah dipahami. Mudah-mudahan anda bisa berkenan dengan cerpen yang dibagikan kali ini.

Sedikit bocoran, awal perpisahan adalah karena adanya keinginan orang tua yang masih kolot seperti orang tua zaman dahulu. Ya, hampir sama seperti kisah perjodohan Siti Nurbaya.  Pokoknya, cerita ini akan menjadi hiburan yang cukup menarik, khusus dipersembahkan untuk anda penggemar cerpen di tanah air. Silahkan dibaca ya!

Jangan Ucapkan Selamat Tinggal
Cerpen Perpisahan Oleh Irma

Jum’at, tepat pukul 14.30, Reni duduk sendiri di café itu, memandang kosong ke luar jendela. Kerut di wajahnya menggambarkan suasana hati yang sedang tidak baik, berkali-kali ia memutar-mutar pena yang dari tadi ia pegang.

Pandangannya benar-benar kosong, sampai-sampai ketika Rieci datang menghampirinya ia pun sangat kaget. “Aduh, sejak kapan kamu duduk di sini!”, ucap Reni setengah berteriak. Rieci hanya tersenyum melihat sahabatnya itu, “jangan melamun terus geh, bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang mencuri hatimu?”, ucap Rieci, “nanti aku juga yang pusing”, lanjutnya.

Reni pun menjawab hanya dengan senyum tipis. Ia kembali melempar pandangannya keluar café. “Hei, ada apa sih, ada masalah?”, tanya Rieci.

“Entahlah, tiba-tiba saja hatiku tidak enak, aku gelisah dan merasa sendiri dan kesepian”, ucap Reni jujur. “Ya sudah, kan ada aku”, ucap Rieci. Rieci kemudian memesan minuman untuk mereka, setelah itu ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celana.

“Ren, nih aku punya hadiah untuk kamu”, ucap Rieci. Ternyata, Rieci membelikan sebuah jam tangan kecil unik bermotif kelinci, sesuatu yang sangat Reni suka. Dengan hadiah kecil itu Reni pun tersenyum. Meski masih ada ruang hampa di dalam hatinya namun ia tidak mau melihat sahabatnya kecewa.

Ya, sebagai sahabat Reni dan Rieci memang begitu mesra layaknya sepasang kekasih. Bahkan, dengan jujur mereka mengungkapkan rasa sayang masing-masing, keinginan saling memiliki pun ada.

Hanya saja, perjalanan panjang itu memang sudah terlanjur dibalut dalam kata persahabatan meski sebenarnya hati mereka berkata lain. Itulah yang sebenarnya membuat Reni merasa hampa dan kosong. Kesedihan dan rasa kehilangan sudah ia rasakan jauh sebelum Rieci mengucapkan selamat tinggal demi wanita lain.

Sampai suatu ketika, Reni dan Rieci mengalami kecelakaan tunggal, motor yang mereka kendarai menabrak pembatas jalan. Untung Rieci tidak melaju dengan cepat sehingga mereka hanya luka ringan.

Setelah kejadian itu, seperti ada sesuatu yang mengarahkan mereka berdua untuk saling jujur dan terbuka. “Kemarin kita sudah diujung maut, maafkan aku ya Ren”, ucap Rieci pelan. “Tidak apa-apa, itu bukan salah kamu, salah aku yang bercanda terus”, ucap Reni.

“Kemarin aku benar-benar takut Ren” ucap Rieci pelan. Ia pun langsung tertunduk, “saat itu aku sadar bahwa aku benar-benar takut kehilangan kamu”, lanjut Rieci.

Tiba-tiba Reni langsung memeluk Rieci, “aku juga tidak ingin kehilangan kamu”, ucapnya sambil menangis.

Beberapa saat berlalu, air mata Reni membasahi pundak Rieci. Ada perasaan yang bergejolak di hati mereka masing-masing dan pelukan itu adalah hal yang paling jujur yang pernah terungkap diantara mereka berdua.

“Jangan tinggalkan aku Rie”, ucap Reni pelan. Rieci menghapus air mata Reni, “aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan menjadi apapun yang engkau butuhkan”, ucap Rieci.

Mereka saling bertatap mata, sinar mata mereka mengisyaratkan kejujuran yang ada di dalam hati. Masing-masing dari mereka tahu bahwa ada cinta yang tulus dalam hati mereka masing-masing.

Sejenak mereka benar-benar merasakan keteduhan sebelum akhirnya ponsel Reni berdering menghilangkan suasana romantis itu. “Halo, Ren ini Ibu, kamu harus pulang ayah kamu sakit keras”, ucap suara di ujung telepon itu.

Bagai disambar petir di siang hari Reni pun langsung kehilangan kendali. Perasaannya tak karuan, tak lagi ia rasakan damai yang baru saja mereka alami.

Rieci yang mengetahui hal itu pun mencoba menguatkan perasaan sahabat sekaligus kekasihnya itu. Rieci pun akhirnya menghantarkan Reni pulang ke kampung halaman.

Di kampung, di rumah Reni suasana riuh sesak. Ternyata, ayah Reni baru saja meninggal beberapa menit yang lalu. Reni jatuh pingsan karena tidak sempat bertemu dengan ayahnya, serangan jantung telah merenggut orang yang benar-benar Reni sayangi.

Prosesi pemakaman berjalan, beberapa hari berlalu, Rieci sudah pulang lebih dulu ke kota karena tidak enak berlama-lama disana. Sampai pada suatu sore ibu Reni mengatakan sesuatu yang sangat memukul hati Reni.
“Nak, sebelum meninggal ayahmu meminta ibu menuliskan surat ini untukmu, bacalah”, ucap ibunya.

Ternyata oh ternyata, sang ayah terlibat masalah besar, ia sudah menjodohkan Reni dengan anak temannya sebagai ganti untuk melunasi hutang yang tak terbayar. Hati Reni hancur, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menjalankan keinginan terakhir sang ayah.

“Rieci, maafkan aku, aku tidak bisa pulang ke Jakarta lagi. aku harus menikah, ayahku menjodohkanku dengan orang lain. Aku mohon kamu mengerti, selamat tinggal, salam dariku Reni”, demikianlah pesan singkat Reni untuk Rieci.

Disaat hati mereka baru saja bersatu, akhirnya perpisahan lebih dulu menjemput. Kisah cinta Reni dan Rieci berakhir begitu saja.

--- Tamat ---

Back To Top