Contoh Cerpen Tema Pendidikan, Buku Milik Dinar

Namanya juga contoh cerpen tentang pendidikan ya pasti ceritanya tidak jauh-jauh dari masalah belajar. Demikian juga dengan cerpen berikut, cerpen ini juga bercerita tentang pelajar dalam kegiatannya untuk menimba ilmu. Seperti apakah cerpen tersebut, apakah cerpen ini cukup menarik dan bagus untuk dibaca?


Ya kalau dari sisi cerita, tentu saja karya berikut bisa dikatakan sudah cukup umum karena membahas seputar kegiatan anak sekolah. Namun begitu cerpen ini mengangkat kisah dengan sudut pandang yang lebih unik dan berbeda dari yang lain. Tentu saja ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca, benar begitu?

Paling tidak, jika memang kisahnya kurang dramatis dan kurang sesuai, cerpen ini masih bisa dijadikan tambahan referensi penggemar kisah cerpen. Lumayan, bisa dijadikan bahan bacaan untuk mengisi waktu luang. Dari pada mengerjakan hal yang tidak bermanfaat atau bahkan buruk lebih baik di rumah membaca cerpen.

Oh iya, karya ini juga bukan satu-satunya. Karya ini masih ada banyak yang lainnya, khususnya yang bertema kehidupan pelajar. Bagi rekan semua yang ingin membaca kisah cerita seputar dunia pendidikan dan pelajar bisa mencarinya dibagian akhir tulisan ini.

Buku Milik Dinar
Cerpen tema Pelajar Oleh Irma

Aila berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk pulang ke rumah. Matanya terlihat sayu, tubuhnya terlihat lemas, ada rasa putus asa yang besar tergambar di wajahnya yang ayu. Yang terjadi ia memang benar-benar putus asa karena tidak mendapatkan pinjaman buku yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugas.

Sejak pagi sebenarnya ia sudah pergi mengunjungi beberapa teman, namun ternyata semua buku mereka juga sedang digunakan, Aila akhirnya pasrah. “Ah, kenapa aku tidak menyalin saja tugas yang akan dikerjakan, dasar bodoh”, ucapnya ketika ia sadar ia melakukan kesalahan.

Tapi waktu sudah terlanjur terbuang sia-sia, sekarang hanya sisa satu malam sebelum besok ia harus mengumpulkan tugas tersebut. Di perjalanan pulang itu akhirnya ia teringat dengan Dinar, teman satu kelasnya. Ia pun kemudian menemui Dinar di rumahnya.

“Din, aku boleh meminjam buku kamu tidak, cuma aku catat kok enggak aku bawa ke rumah”, ucapnya.

“Enak aja, makanya kalau disuruh beli buku itu beli, jangan dikasih uang buat jajan!”, jawab Dinar ketus.

“Tapi kan aku memang tidak punya uang Din, ayolah, sekali ini saja…”, ucap Aila memohon.
“Tidak, lagian aku juga mau mengerjakan tugas!”, bentak Dinar.

Bukannya mendapatkan buku yang dibutuhkan, Aila justru di usir oleh Dinar. Akhirnya dengan menahan tangis ia pun pulang ke rumah.

“Kenapa kamu Aila, wajah kamu kok murung begitu”
“Ini bu, aku cari pinjaman buku tapi tidak ada yang kasih”
“Memang buku apa?”

“Buku lembar kerja bu, padahal aku ada tugas dan besok harus dikumpul”
“Ya kalau tidak ada yang mau meminjami kan kamu bisa mencatat”
“Iya bu, aku juga meminjam untuk mencatatnya tapi tetap saja tak ada satu pun teman yang mau memberinya bu”

Melihat anaknya yang diperlakukan seperti itu sebenarnya Kalsum sangat sedih tetapi ia tidak punya piliha. Ia memang tidak memiliki uang untuk membeli buku sekolah Aila. 

“Ya sudah, tidak apa-apa, kamu bilang saja besok pada guru kamu yang sebenarnya, kalau pergi besok kamu pinjam buku dari bapak atau ibu guru kamu saja”, ucap Kalsum memberikan solusi.

Tentu saja saran itu tidak masuk akal bagi Aila, “aku besok pasti di hukum”, pikir Aila. Tapi seperti yang ibunya katakan, Aila juga tidak bisa berbuat banyak selain menerima semua itu. Akhirnya, hari berikutnya di sekolah apa yang ditakutkan pun terjadi.

“Hari ini dewan guru akan rapat jadi kalian tidak ada pelajaran, tetapi kalian kumpulkan tugas kalian sekarang juga”, perintah guru. Semua murid mengumpulkan tugas kecuali Aila, dan hal itu tentu saja membuat sang guru marah.

“Aila kamu dihukum untuk mengerjakan soal itu dua kali lipat”
“Tapi pak, saya tidak bunya buku”
“Kamu kan bisa meminjam dari teman kamu”
“Iya pak, tapi, boleh saya pinjam buku bapak saja, nanti saya catat dan hari ini juga saya kembalikan, boleh ya pak?”
“Ya sudah, sebelum bapak pulang harus dikembalikan!”
“Baik pak…”

Akhirnya, meski harus mengerjakan soal yang jumlahnya dua kali lipat dari tugas rekan lain tetapi Aila sangat senang. Akhirnya selama jam kosong itu ia mencatat tugas yang diberikan. Satu jam kemudian ia selesai mencatat, dan karena ia lihat dewan guru belum selesai rapat maka ia langsung mengerjakan semua soal yang tadi dia catat.

Pukul 12 siang, ia akhirnya menyelesaikan semua soal tersebut. Ia pun langsung buru-buru ke ruang guru untuk mengembalikan buku sekaligus mengumpulkan tugas miliknya. Sesampainya di ruangan, guru yang ia cari belum ada sehingga akhirnya ia harus menunggu sampai beberapa menit.

Selama menunggu itu ia mencoba membaca lagi soal yang ia kerjakan. Ada beberapa yang dirubah dan setelah ia melihat gurunya datang ia langsung mengembalikan buku sekaligus mengumpulkan tugas miliknya.

Hari berlalu, saat itu mereka kembali bertemu dengan pelajaran bahasa Indonesia, pada hari itu kebetulan bapak guru membahas soal-soal yang kemarin diberikan. Beberapa kali Aila diminta untuk menjawab dan jawabannya benar. Berbeda dengan Dinar, tiga kali ditanya tiga kali juga salah.

Setelah itu bapak guru membagikan hasil tugas yang telah dikoreksi, hasilnya mengejutkan.
“Jadi hari ini nilai terbesar diperoleh oleh Aila dengan total jawaban 38 benar dan 2 salah. Sedangkan yang terburuk adalah Dinar dengan hasil 19 soal salah dan 1 benar.

“Dinar, kamu harus lebih rajin belajar, bila perlu kamu belajar dengan Aila”, ucap pak guru. Mendengar perkataan bapak guru, Aila pun begitu puas. Sepulang sekolah ia langsung memberikan berita gembira itu kepada Kalsum ibunya.

--- Tamat ---

Back To Top